Ustadzah, Bolehkah Kita Menjadikan Kuburan Orang Shalih Sebagai Tempat Ibadah? - CUC

Saturday, 18 March 2017

Ustadzah, Bolehkah Kita Menjadikan Kuburan Orang Shalih Sebagai Tempat Ibadah?

Sesungguhnya Termasuk Sejelek-jelek Manusia Adalah Orang-orang Yang Masih Hidup Ketika Terjadi Kiamat dan Orang-orang Yang Menjadikan Kuburan Sebagai Tempat Ibadah

Ustadzah, Bolehkah Kita Menjadikan Kuburan Orang Shalih Sebagai Tempat Ibadah?

Jawaban:

Alhamdulillaah, ash-sholaatu was-salaamu 'alaa Rasuulillaah, Muhammadin ibni 'Abdillaah, wa 'alaa aalihi wa shobihi wa man tabi'ahum bi ihsaan ilaa yaumil qiyaamah. Wa ba'd.

Saudariku, Asy-Syaikh Muhammad berkata dalam Kitab At-Tauhid yang artinya:

Diriwayatkan dalam Shahih (Al-Bukhari dan Muslim) dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anha bahwa Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang gereja dengan rupaka-rupaka yang ada di dalamnya yang dilihatnya di negeri Habasyah (Ethiopia). Maka bersabdalah beliau:
"Mereka itu, apabila ada orang yang shaleh --atau seorang hamba yang shaleh-- meninggal, mereka bangun di atas kuburannya sebuah tempat ibadah dan membuat di dalam tempat itu rupaka-rupaka. Mereka itulah sejelek-jeleknya makhluk di hadapan Allah."
Mereka dihukumi beliau sebagai sejelek-jelek makhluk, karena melakukan dua fitnah sekaligus, yaitu fitnah memuja kuburan dengan membangun tempat ibadah di atasnya dan fitnah membuat rupaka-rupaka.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hendak diambil nyawanya, beliau pun segera menutupkan kain di atas mukanya, lalu beliau buka lagi kain itu tatkala terasa menyesakkan panas. Ketika beliau dalam keadaan demikian itulah, beliau bersabda:
"Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah."
Beliau memperingatkan agar dijauhi perbuatan mereka, dan seandainya bukan karena hal itu niscaya kuburan beliau akan ditampakkan, hanya saja dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah.

Muslim meriwayatkan dari Jundab bin 'Abdullah, katanya: "Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lima hari sebelum wafatnya bersabda:

"Sungguh, aku menyatakan setia kepada Allah dengan menolak bahwa aku mempunyai seorang khalil (kekasih mulia) dari antara kamu, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil; seandainya aku menjadikan seorang khalil dari antara umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu dari perbuatan itu."
Rasulullah menjelang akhir hayatnya --sebagaimana dalam hadits Jundab-- telah melarang umatnya untuk menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Kemudian, tatkala dalam keadaan hendak diambil nyawanya --sebagaimana dalam hadits 'Aisyah-- beliau melaknat orang yang melakukan perbuatan itu. Shalat di sekitar kuburan termasuk pula dalam pengertian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah; dan inilah maksud dari kata-kata 'Aisyah: "... dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah", karena para sahabat belum pernah membangun masjid (tempat ibadah) di sekitar kuburan beliau, padahal setiap tempat yang dimaksudkan untuk melakukan shalat di sana itu berarti sudah dijadikan sebagai masjid, bahkan setiap tempat yang dipergunakan untuk shalat disebut masjid, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam:
"Telah dijadikan bumi ini untukku sebagai masjid dan suci." (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Dan Imam Ahmad meriwayatkan hadits marfu' dengan sanad jayyid, dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu:
"Sesungguhnya, termasuk sejelek-jelek manusia ialah orang-orang yang masih hidup ketika terjadi kiamat dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah." (Hadits ini diriwayatkan pula dalam Shahih Abu Hatim).
Semoga hati kita dibersihkan, dijernihkan dalam memahami perkara ini, sehingga kita selamat dari subhat-subhat yang ada dalam perkara ini.
Robbanaa laa tuzigh quluubanaa ba'da idz hadaytanaa wa hablanaa min ladunka rohmah, innaka antal wahhaab. Aamiin.
Wa allaahu a'lam bish-showaab.

No comments:

Post a Comment