2016 - CUC

Tuesday, 4 October 2016

Hukum Memuji Diri Sendiri

04:50 0
Hukum Memuji Diri Sendiri
Pertanyaan:  
Syaikh yang mulia ditanya tentang hukum seseorang yang memuji dirinya sendiri?
image: pixabay.com

Jawaban:

Beliau menjawab, "Pujian terhadap diri sendiri, apabila dimaksudkan untuk menyebutkan nikmat Allah سبحانه و تعالى atau agar kawan-kawannya mengikutinya, maka hal ini tidak apa-apa. Jika orang ini bermaksud dengan pujiannya untuk mensucikan dirinya dan menunjukkan amal ibadahnya kepada Rabbnya, maka perbuatan ini termasuk minnah, hukumnya tidak boleh (haram). Firman Allah سبحانه و تعالى,

"Mereka telah merasa memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, 'Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar'." (Al-Hujurat :17).

Jika tujuannya hanya untuk mengambarkan, maka hukumnya tidak apa-apa (boleh). Namun yang paling baik adalah meninggalkan hal itu.
Jadi, kondisi-kondisi seperti ini, yang mengandung pujian seseorang kepada dirinya sendiri terbagi kepada empat bagian:

Kondisi pertama: ia ingin menyebut nikmat Allah yang diberikanNya kepadanya berupa iman dan ketetapan hati.

Kondisi kedua: Ia ingin agar orang-orang semisalnya menjadi rajin ibadah seperti yang dikerjakannya. Kedua kondisi ini adalah baik karena mengandung niat yang baik.

Kondisi ketiga: Ia ingin berbangga-bangga dan tabah serta menunjukkan kepada Allah yang ada padanya berupa iman dan ketetapan hati. Ini tidak boleh berdasarkan ayat yang telah kami sebutkan.

Kondisi keempat: Ia hanya ingin mengabarkan tentang dirinya sebagaimana adanya berupa iman dan ketetapan hati. Ini boleh, namun sebaiknya ditinggalkan.
Rujukan:
 

Majmu’ Fatawa wa Rasa'il Syaikh Ibnu Utsaimin, jilid III hal 96-97.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.


Hukum Menyebarkan Gosip di Tv dan Media-media Sosial Lainnya

04:45 0
Hukum Menyebarkan Gosip di Tv dan Media-media Sosial Lainnya
Pertanyaan:

Apa hukumnya orang yang menyebarkan gosip di kalangan umat Islam?

Jawaban:

Berita yang tersebar terbagi dua: berita baik dan berita buruk. Maka orang yang menyebarkan berita yang mengandung kebaikan di antara manusia, seperti menyebarkan bid'ahnya seorang pelaku bid'ah, atau ucapan orang yang mulhid (ingkar kepada Allah سبحانه و تعالى ), atau yang menyerupai hal tersebut untuk mengingatkan darinya, maka hal itu adalah perbuatan terpuji; karena bertujuan menjaga manusia dari kemungkaran ini. 

Adapun orang yang menyebarkan keburukan karena ingin menyebarkan berita-berita keji di kalangan kaum mukminin, maka ini adalah haram dan tidak boleh baginya; karena memberikan implikasi terhadap berbagai kerusakan, secara umum dan khusus. Seorang manusia harus berinteraksi dengan orang lain sebagaimana ia menginginkan orang lain berinteraksi dengannya seperti itu pula, dan ia mesti menyukai untuk mereka apapun yang disukainya untuk dirinya sendiri. Apabila dia tidak ingin orang lain menyebarkan aibnya, cukup adil bahwa ia tidak menyebarkan aib orang lain.

Rujukan:

Min Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin yang beliau tanda tangani.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

Hukum Berbasa-basi (Mujamalah)

04:29 0
Hukum Berbasa-basi (Mujamalah)
Hukum Berbasa-basi (Mujamalah)

Dalam kondisi tertentu menuntut dilakukan mujamalah (berbasa-basi) dengan mengucapkan yang tidak sebenarnya. Apakah ini termasuk salah satu jenis dusta?
image: pixabay.com
Jawaban:

Persoalan ini perlu dirinci. Jika mujamalah (berbasa-basi dengan kata-kata yang baik/bagus) mengakibatkan pengingkaran terhadap kebenaran atau menetapkan yang batil, berarti mujamalah ini tidak boleh. Jika mujamalah tersebut tidak berdampak kepada kebatilan, yang hanya merupakan ucapan-ucapan yang baik yang mengandung ijmal (memperbagus/memperindah), tidak mengandung persaksian yang tidak benar kepada seseorang dan tidak pula menggugurkan hak seseorang, maka saya tidak mengetahui adanya larangan dalam hal tersebut.

Rujukan:
 
Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah jilid hal 280. Syaikh Ibn Baz.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

Monday, 3 October 2016

Bolehkah Membunuh Semut Yang Ada di Rumah

05:44 0
Bolehkah Membunuh Semut Yang Ada di Rumah
 
Pertanyaan:

Binatang-binatang melata yang ada di rumah seperti semut, jangkrik dan binatang sejenisnya. Bolehkah membunuhnya dengan air, atau dibakar atau apa yang harus saya lakukan?


image: pixabay.com
Jawaban:

Apabila binatang-binatang melata ini menyakiti, boleh membunuhnya. Tetapi bukan dengan cara membakar, namun dengan berbagai cara membinasakan lainnya, karena sabda Nabi صلی الله عليه وسلم,

خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فيِ اْلحِلِّ وَاْلحَرَمِ اْلحَيَّةُ وَالْغُرَابُ اْلأَبْقَعُ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ 
 وَاْلعُقُوْرُ وَاْلحُدَيَّا

"Lima macam binatang fasiq yang boleh dibunuh di tanah halal dan di tanah haram; ular, burung gagak hitam pekat, tikus, anjing gila, dan burung elang." (Al-Bukhari dalam jaza' ash-Shaid (1829) dan Muslim dalam al-Hajj (67–1198))

Pada kata 'al-hayyah/ular', Nabi صلی الله عليه وسلم mengabarkan tentang gangguannya dan ia adalah binatang-binatang fasik, maksudnya mengganggu/menyakiti dan mengizinkan membunuhnya. Demikian pula binatang melata sejenisnya, apabila mengganggu, boleh dibunuh di tanah halal dan haram. Seperti semut, jangkrik, nyamuk dan binatang sejenisnya yang mengganggu.

Sumber:
 
Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah jilid V hal. 301-302. Syaikh bin Baz. Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

Sunday, 2 October 2016

Bergurau atau Bercanda Dalam Pandangan Islam

04:58 0
Bergurau atau Bercanda Dalam Pandangan Islam
Bergurau atau Bercanda Dalam Pandangan Islam

Apa hukum gurauan dalam pandangan agama kita, Islam? Apakah termasuk kata-kata yang sia-sia? Perlu diketahui bahwa hal itu bukan mengolok-olok agama, berikanlah fatwa kepada kami, semoga Anda diberi pahala?

Jawaban:
Bersenda-gurau apabila haq dan benar, maka tidak ada larangan. Apalagi kalau tidak sering melakukan hal itu. Rasulullah صلی الله عليه وسلم pernah bercanda dan tidak mengatakan kecuali yang benar. Adapun yang mengandung kebohongan, maka tidak dibolehkan, berdasarkan hadits Nabi صلی الله عليه وسلم,

وَيْلٌ لِلَّذِيْ يُحَدِّثُ فَيَكْذِبَ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ ثُمَّ وَيْلٌ لَهُ

"Celaka bagi orang yang berbicara, lalu berdusta agar membuat orang lain tertawa dengan ucapannya. Celaka baginya, celaka baginya." [1]

Hanya Allah سبحانه و تعالى yang memberi taufiq.


Footnote:


[1] HR. Abu Daud dalam al-Adab (4990); at-Tirmidzi dalam az-Zuhd (2315); an-Nasa'i dalam al-Kabir (11126), (11655) dengan isnad yang jayyid.

Rujukan:
Majalah al-Buhuts, Nomor 27- hal. 87-88  Syaikh Ibn Baz.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

Friday, 30 September 2016

Sebab-sebab Terkena Sihir dan Penyakit 'Ain

05:32 0
Sebab-sebab Terkena Sihir dan Penyakit 'Ain
Sebab-sebab Terkena Sihir dan Penyakit 'Ain
 
Soal:
 Apakah sebab-sebab terkena sihir, ‘ain dan al-Mas (gangguan setan)?
image: pixabay.com
Jawaban:

Ketahuilah bahwa aktifitas sihir itu diharamkan dan kafir kepada Allah سبحانه و تعالى. Karena tukang sihir meminta bantuan kepada setan dan mendekatkan diri kepada jin sehingga mereka membantu untuk menimpakan sihir. Di antaranya memisahkan dan menghubungkan (suami dengan isterinya atau selainnya). Tukang sihir apabila ingin menimpakan bahaya kepada seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, maka ia memanggil setan-setannya atau jin-jin yang mentaatinya lalu menyembelihkan untuk mereka atau khadam mereka dan meminta kepada mereka supaya meng-ganggu si fulan atau fulanah, lalu terwujudlah gangguan itu, dengan seizin Allah.

Untuk menyembuhkan hal itu atau membentengi diri darinya ialah dengan berdzikir kepada Allah, beribadah kepadaNya, mentaatiNya, menjauhi kemaksiatan dan ahli kemaksiatan, memperbanyak membaca al-Qur'an dan merenungkannya, serta membaca wirid-wirid, doa-doa dan dzikir. Bersama itulah Allah akan memelihara hambaNya dari tertimpa al-Mass (gangguan setan) dan sihir.

Adapun ‘ain ialah kadang sebagian orang diketahui mempunyai kedengkian kepada orang lain. Ketika ia melihat dari mereka sesuatu yang membuatnya dengki, maka ia menghadapkan hatinya kepada mereka dan mencoba berbicara dengan ucapan permusuhan, lalu ia mengarahkan pandangannya kepada siapa yang dipandangnya dengan panah beracun yang mempengaruhi orang yang dipandangnya tersebut dengan seizin Allah.
 
Cara mengatasi hal itu ialah dengan berusaha menjauhi mereka yang dikenal dengan kedengkiannya, tidak menampakkan perhiasan di hadapan mereka, menasehati mereka supaya tidak membahayakan orang lain dengan tanpa hak, meminta mereka supaya berbuat baik kepada setiap muslim dan mengucapkan maa syaa Allah laa quwwata illaa billaah, dan sejenisnya.

Rujukan:
 
Fatwa Syaikh Abdullah bin Jibrin yang ditandatanganinya.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

Menimpakan Penyakit ‘Ain Dengan Tanpa Sengaja

05:27 0
Menimpakan Penyakit ‘Ain Dengan Tanpa Sengaja
Apakah Benar Bahwa Seseorang Bisa Menimpakan Penyakit ‘Ain Dengan Tanpa Sengaja, dan Bagaimana Cara Mengatasinya?
image: pixabay.com
Jawaban:
'Ain itu nyata, sebagaimana yang disinyalir dalam hadits. Sebab, ‘ain mengagumi sesuatu yang dilihatnya, baik manusia, hewan, maupun harta benda. Lalu jiwanya yang jahat dan dengki membayangkan berbagai hal tersebut tertimpa kemudaratan, lantas terlontarlah darinya butir-butir racun yang mempengaruhi apa dan siapa yang dipandangnya, dengan seizin Allah yang bersifat kauni, bukan syar'i.

'Ain bisa menimpa seseorang dengan tanpa disengaja. Ia bisa menimpa anaknya, isterinya, kendaraannya dan sejenisnya.


Cara menyembuhkannya ialah meminta orang yang menimpakan 'ain berdoa dengan mengucapkan,  

مَاشَاءَ اللّه لَا قُوَّةَ إِلّا بِاللّهِ

"Maa syaa allahu laa quwwata illaa billaah." 

Demikian pula ia mencuci sebagian anggota badannya dan mengguyurkannya kepada orang yang terkena ‘ain tersebut.

Rujukan:

Fatwa Syaikh Abdullah bin Jibrin yang ditandatanganinya.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

Membentengi Diri Dari Penyakit 'Ain

05:22 0
Membentengi Diri Dari Penyakit 'Ain
Membentengi Diri Dari Penyakit 'Ain 

Apakah setiap muslim harus membentengi dirinya dari ‘ain, kendatipun itu telah sah dalam Sunnah? Apakah itu menyelisihi tawakal kepada Allah?
image: pixabay.com
Jawaban:
Dalam hadits disebutkan,
"Ain adalah nyata, dan seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir niscaya ‘ain-lah yang mendahuluinya, dan apabila kalian diminta mandi, maka mandilah." [1]

'Ain adalah mata manusia yang tertuju pada sesuatu lalu menimpakan kerusakan padanya, dan kerusakan ini hanya dengan seizin Allah dan ketentuanNya.

Adapun caranya, wallahu a'lam. Tetapi sebagian manusia ada yang berjiwa sangat jahat, dan keluar dari jiwanya, ketika meracuninya, berbagai racun yang membahayakan yang sampai kepada orang yang dipandangnya. Lalu orang yang dipandangnya mengalami berbagai gangguan, seperti merasakan sakit dan sejenisnya.

Karena itu, kamu harus membentengi diri, dan mengerahkan berbagai upaya yang dapat membentengi dirimu dari kejahatannya.

Di antara upaya-upaya tersebut, ialah Isti'adzah (meminta perlindungan kepada Allah). Nabi صلی الله عليه وسلم meminta perlindungan untuk al-Hasan dan al-Husain.[2] Rasulullah صلی الله عليه وسلم berlindung dari jin dan mata manusia yang dengki.[3] Jibril meruqyah Nabi صلی الله عليه وسلم dari penyakit 'ain dengan ucapan:

بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ 
اللهُ يَشْفِيْكَ بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ

"Dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang mengganggumu dari kejahatan setiap jiwa, atau mata yang dengki. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan menyebut nama Allah aku meruqyahmu." [4]

Oleh karena itu, setiap orang harus mengamalkan doa-doa ini, melakukan upaya-upaya lainnya yang dapat membentenginya dari keburukannya, serta menyembuhkan hal itu jika telah menimpa. Jika seseorang dituduh telah menimpahkan ‘ain kepada orang lain, maka ia diminta supaya mencuci pakaiannya untuknya atau sejenisnya, berdasarkan sabda Nabi صلی الله عليه وسلم,  

"Apabila kalian diminta mandi, maka mandilah." [5]


Footnote:
[1] HR. Muslim, no. 2188, kitab as-Salam.
[2] HR. Al-Bukhari, no. 3371, kitab Ahadits al-Anbiya'.
[3] HR. At-Tirmidzi, no. 2058, kitab ath-Thibb; Ibnu Majah, no. 3511, kitab ath-Thibb; dan at-Tirmidzi menilai-nya sebagai hadits hasan gharib.
[4] HR. Muslim, no. 2186, kitab as-Salam.
[5] HR. Muslim, no. 2188, kitab as-Salam.

Rujukan:
 
Al-Kanz ats-Tsamin, Syaikh Abdullah al-Jibrin, hal. 232, 233.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

Thursday, 29 September 2016

Hukum Meminta Mandi Kepada Orang Yang Menimpakan Penyakit 'Ain

04:40 0
Hukum Meminta Mandi Kepada Orang Yang Menimpakan Penyakit 'Ain
 Hukum Meminta Mandi 
Kepada Orang Yang Menimpakan Penyakit 'Ain

Terdapat dalam hadits yang diriwayatkan Muslim, "Ain adalah nyata, dan seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir niscaya ‘ain-lah yang mendahuluinya, dan apabila kalian diminta mandi, maka mandilah." [1] Apakah ini berarti tidak berdosa meminta ‘ain supaya mandi berdasarkan apa yang disinyalir dalam hadits. Apa nasehat anda terhadap orang yang memintanya darinya, karena sebagian orang akan marah bila dirinya diminta demikian?
image: pixabay.com
Jawaban:
Jika orang yang menimpakan 'ain ('a'in) diketahui dan terbukti bahwa dialah yang menimpakan kepada Ma'in (yang tertimpa 'ain), maka ia diminta supaya mencuci kedua tangannya atau sebagian anggota badannya untuk diguyurkan kepada orang yang terkena 'ain atau meminumkannya. Demikian pula jika orang yang menimpakan 'ain itu sendiri mengakuinya bahwa dirinya telah menimpakan kepada orang yang terkena ‘ain, maka ia harus berlutut di hadapannya dengan mengucapkan: Ma sya?allah la quwwata illa billah. Setelah tertimpa ‘ain, ia harus meniupkan padanya atau mencuci sebagian tubuhnya dan mengguyurkannya padanya.

Tidak boleh ia menolak untuk mandi (atau mencuci sebagian tubuhnya), jika ia diminta demikian, baik ia sebagai tertuduh karena ucapan yang dinyatakannya atau secara pasti bahwa dirinyalah yang menimpakan ‘ain tersebut.

Ia tidak boleh marah dengan hal itu, walaupun ia mengakui tidak melakukannya. Sebab ‘ain itu adakalanya mendahului pelakunya. Dan kebanyakan gangguan itu terjadi dengan tanpa dikehendaki oleh 'ain sehingga kadangkala menimpa sebagian anak-anaknya atau sebagian hartanya. Kemudian ia menyesal atas ucapan yang pernah dinyatakannya. Wallahu a'lam.

Footnote
[1] HR. Muslim, no. 2188, Kitab as-Salam.
Rujukan:
 
Fatwa Syaikh Abdullah bin Jibrin yang ditandatanganinya.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

'Ain (Penyakit Akibat Tatapan Mata)

04:31 0
'Ain (Penyakit Akibat Tatapan Mata)
'Ain (Penyakit Akibat Tatapan Mata)

Apakah hakikat ain Nadhl- (panah kedengkian) itu? Allah berfirman, "Dan dari keburukan orang yang dengki ketika dengki." (Al-Falaq: 5). Apakah hadits Rasul صلی الله عليه وسلم shahih, yang maknanya, "Sepertiga yang ada dalam kubur mati karena 'ain"? Apabila seseorang ragu tentang kedengkian salah seorang dari mereka, maka apa yang wajib dikerjakan dan diucapkan oleh seorang muslim? Apakah mengambil bekas mandi orang yang menimpakan ain dan diguyurkan pada orang yang tertimpa dapat menyembuhkan, dan apakah ia meminumnya atau mandi dengannya?

image: pixabay.com

Jawaban:

'Ain itu diambil dari kata 'Ana'Ya'inu, apabila ia menatapnya dengan matanya. Asalnya dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, kemudian diikuti oleh jiwanya yang keji, kemudian menggunakan tatapan matanya itu untuk menyampaikan racun jiwanya kepada orang yang dipandangnya.

Allah سبحانه و تعالى telah memerintahkan Nabinya, Muhammad صلی الله عليه وسلم, untuk meminta perlindungan dari orang yang dengki. Allah سبحانه و تعالى berfirman,

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَد

"Dan dari keburukan orang yang dengki ketika dengki." (Al-Falaq: 5).

Setiap 'a'in (orang yang menimpakan 'ain) adalah hasid (pendengki) dan tidak setiap hasid adalah 'a'in. Karena hasid itu lebih umum ketimbang 'a'in, maka meminta perlindungan dari hasid berarti meminta perlindungan dari 'a'in. Yaitu panah yang keluar dari jiwa hasid dan 'a'in yang tertuju pada orang yang didengki (mahsud atau ma'in), yang adakalanya menimpanya dan adakalanya tidak mengenainya. Jika 'ain itu kebetulan menimpa orang yang dalam keadaan terbuka tanpa pelindung, maka itu berpengaruh padanya. Sebaliknya, bila ia menimpa kepada orang yang waspada dan bersenjata, maka panah itu tidak berhasil mengenainya, tidak berpengaruh padanya. Bahkan barangkali panah itu kembali kepada pemiliknya (diringkas dari Zad al-Ma'ad).

Banyak hadits-hadits shahih dari Nabi صلی الله عليه وسلم tentang terjangkit dengan 'ain ini. Di antaranya apa yang disebutkan dalam Shahihain dari Aisyah -rodliallaahu'anhu-, ia mengatakan,

"Bahwasanya Rasulullah صلی الله عليه وسلم memerintahkan kepadanya supaya meminta diruqyah dari 'ain." (HR. Al-Bukhari, no. 5738, kitab ath-Thibb; dan Muslim, no. 2195, kitab as-Salam).

Muslim, Ahmad dan at-Tirmidzi; ia menshahihkannya, dari Ibnu Abbas dari Nabi صلی الله عليه وسلم beliau bersabda,

"'Ain adalah nyata, dan seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir niscaya 'ain mendahuluinya. Jika kalian diminta untuk mandi, maka mandilah." (HR. Muslim, no. 2188, kitab as-Salam).

Diriwayatkan Imam Ahmad dan at-Tirmidzi; ia menshahihkannya, dari Asma' binti Umais bahwa ia mengatakan,

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya Bani Ja'far tertimpa 'ain; apakah aku boleh meminta ruqyah untuk mereka?" Beliau menjawab, "Ya, seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir niscaya 'ainlah yang mendahuluinya." (HR. at-Tirmidzi, no. 2059, kitab ath-Thibb; Ahmad dalam al-Musnad, 6/ 438; Ibnu Majah, no. 3510, kitab ath-Thibb; dan at-Tirmidzi menilainya sebagai hadits hasan shahih).

Abu Daud meriwayatkan dari Aisyah -rodliallaahu'anha-, ia mengatakan,

"Orang yang menimpakan 'ain diperintahkan supaya berwudhu, kemudian orang yang tertimpa 'ain mandi darinya.? (HR. Abu Daud, no.3880, kitab ath-Thibb).

Imam Ahmad, Malik, an-Nasa'i dan Ibnu Hibban; ia menshahihkannya, meriwayatkan dari Sahl bin Hanif,

"Bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم keluar beserta orang-orang yang berjalan bersamanya menuju Makkah, hingga ketika sampai di daerah Khazzar dari Juhfah, Sahl bin Hanif mandi. Ia seorang yang berkulit putih serta elok tubuh dan kulitnya. Lalu Amir bin Rabi'ah, saudara Bani Adi bin Ka'b melihatnya, dalam keadaan sedang mandi, seraya mengatakan, 'Aku belum pernah melihat seperti hari ini kulit yang disembunyikan.' Maka Sahl pingsan. Lalu ia dibawa kepada Nabi صلی الله عليه وسلم lantas dikatakan kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, mengapa Shal begini. Demi Allah, ia tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula siuman.' Beliau bertanya, 'Apakah kalian mendakwa seseorang mengenainya?' Mereka menjawab, 'Amir bin Rabi'ah telah memandangnya.' Maka beliau صلی الله عليه وسلم memanggil Amir dan memarahinya, seraya bersabda, 'Mengapa salah seorang dari kalian membunuh saudaranya. Mengapa ketika kamu melihat sesuatu yang mengagumkanmu, kamu tidak mendoakan keberkahan (untuknya)?' Kemudian beliau bersabda kepadanya, 'Mandilah untuknya.' Lalu ia membasuh wajahnya, kedua tangannya dan kedua sikunya, kedua lututnya dan ujung kedua kakinya, dan bagian dalam sarungnya dalam suatu bejana. Kemudian air itu diguyurkan di atasnya, yang diguyurkan oleh seseorang di atas kepalanya dan punggungnya dari belakangnya. Ia meletakkan bejana di belakangnya. Setelah melakukan demikian, Sahl bangkit bersama orang-orang tanpa merasakan sakit lagi."
(HR. Muslim, no. 2188, kitab as-Salam).

Jumhur ulama menetapkan bahwa 'ain itu bisa menimpa, berdasarkan hadits-hadits yang telah disebutkan dan selainnya, karena bisa disaksikan dan fakta. Adapun hadits yang anda sebutkan, "Sepertiga manusia yang berada dalam kubur mati karena 'ain," maka kami tidak mengetahui keshahihannya. Tetapi penulis Nail al-Authar menyebutkan bahwa al-Bazzar mengeluarkan dengan sanad hasan dari Jabir رضى الله عنهما dari Nabi صلی الله عليه وسلم, beliau bersabda,
أَكْثَرُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِيْ بَعْدَ قَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ بِاْلأَنْفُسِ

"Kebanyakan orang yang mati dari umatku, setelah qadha Allah dan qadarNya, karena Anfus." (HR. Ath-Thayalisi dalam Musnadnya, no. 1760; ath-Thahawi dalam al-Musykil dan al-Bazzar; serta dihasankan oleh al-Hafizh dalam al-Fath, 10/ 167; dalam as-Silsilah ash-Shahihah, no. 747).

Yakni, karena 'ain.

Kewajiban atas setiap muslim ialah membentengi dirinya dari setan dan dari kejahatan jin dan manusia, dengan kekuatan iman kepada Allah, ketergantungan dan tawakalnya kepadaNya, berlindung dan tadharru' kepadaNya, ta'awwudz nabawiyah, serta banyak membaca Mu'awwidzatain, surah al-Ikhlas, Fatihatul kitab, dan ayat Kursi. Di antara ta'awwudz ialah:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang diciptakanNya."


أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ وَمِنْ شَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ 
وَأَنْ يَحْضُرُوْنِ

"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari murkaNya dan siksaNya, dari keburukan hamba-hambaNya, dari bisikan-bisikan setan, dan bila mereka datang."

Juga firman Allah,

فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُلْ حَسْبِيَ اللّهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ

"Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki 'Arsy yang agung." (At-Taubah: 129).

Dan doa-doa sejenisnya yang disyariatkan. Ini adalah makna pembicaraan Ibnul Qayyim yang disebutkan di awal jawaban.

Jika diketahui bahwa seseorang telah menimpakan 'ain kepada orang lain, atau seseorang diragukan bahwa ia menimpakan 'ain, maka orang yang menimpakan 'ain diperintahkan supaya mencuci wajahnya dalam bejana, kemudian memasukkan tangan kirinya lalu mengguyurkan pada lutut kanannya dalam bejana, kemudian memasukkan tangan kanannya lalu mengguyur lutut kirinya, kemudian mencuci kainnya, kemudian diguyurkan pada kepala orang terkena 'ain dari belakangnya sekali guyuran, maka ia akan sembuh dengan seizin Allah.

Hanya Allah-lah yang memberi taufik. Semoga shalawat dan salam Allah limpahkan atas Nabi kita, Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

Rujukan:

Lajnah Da'imah, Fatawa al-'Ilaj bil Qur'an was Sunnah'ar-Ruqa wama yata'allaqu biha.

Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

Monday, 26 September 2016

Hukum Mencium Tangan Kyai, Guru, dan Orang Tua

15:04 0
Hukum Mencium Tangan Kyai, Guru, dan Orang Tua
Hukum Mencium Tangan Kyai, 
Guru, dan Orang Tua

Hukum Mencium Tangan Kyai, Guru, dan Orang Tua
Pertanyaan:

Apa hukum cium tangan? Dan apa hukum mencium tangan seseorang yang memiliki keutamaan, misalnya guru, dan sebagainya? Apa pula hukum mencium tangan paman dan lainnya yang lebih tua? Apakah mencium tangan kedua orang tua ada tuntunannya dalam syari'at? Ada orang yang mengatakan bahwa cium tangan mengandung kehinaan (menghinakan diri sendiri).

Jawaban:
Menurut kami, itu boleh, dalam rangka menghormati dan bersikap sopan terhadap kedua orang tua, ulama, orang-orang yang memiliki keutamaan, kerabat yang lebih tua dan sebagainya. Ibnul Arabi telah menulis risalah tentang hukum cium tangan dan sejenisnya, sebaiknya merujuknya. Bila cium tangan itu dilakukan terhadap kerabat-kerabat yang lebih tua atau orang-orang yang memiliki keutamaan, ini berarti sebagai penghormatan, bukan menghinakan diri dan bukan pula pengagungan. Kami dapati sebagian Syaikh kami mengingkarinya dan melarangnya, hal itu karena sikap rendah hati mereka, bukan berarti mereka mengharamkannya. Wallahu a'lam.

Rujukan:
 
Fatwa Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin (1852), tanggal 20/11/1421 H.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.


Viedo Hukum Mencium Tangan Kyai, Guru, dan Orang Tua


Thursday, 10 March 2016

Saldo Rekening Cuma 500 Ribu Mendadak Jadi Rp 99,9 Triliun Lebih, Bikin Pemiliknya Ini Kaget

23:25 0
Saldo Rekening Cuma 500 Ribu Mendadak Jadi Rp 99,9 Triliun Lebih, Bikin Pemiliknya Ini Kaget
Bisa Dikategorikan Kejujuran yang Langka di Zaman Semua Serba Diukur Dengan Materi

Kejadian aneh tapi nyata dalam dunia perbankan dialami warga Pangkalan Kerinci, Tomedy (32). Isi rekening Bank Mandiri miliknya mendadak hampir Rp 100 Triliun dalam dua hari.

Belum diketahui apa penyebab rekening Mandiri milik Tomedy yang seharusnya tidak sampai Rp 500 ribu, meledak jadi puluhan triliun rupiah. Apakah adanya permainan hacker atau lantaran kebobrokan sistem yang dimilik Bank Mandiri kantor cabang Pangkalan Kerinci. Peristiwa aneh ini telah dilaporkannya ke kantor Bank Mandiri.

"Untuk sementara, katanya rekening saya diblokir dulu. Mereka juga tidak tahu kok bisa terjadi seperti itu," ujar Tomedy kepada tribunpekanbaru, Kamis (10/3/2016).

Pria yang berkerja sebagai wartawan di salah satu surat kabar mingguan ini menceritakan rekening gendut miliknya.

Awalnya pada Selasa (8/3/2016) siang, ia berniat menyetorkan uang sebanyak Rp 250 ribu ke rekeningnya.

Setelah mendatangi kantor Bank Mandiri yang berada di Jalan Lintas Timur (Jalintim), tepat disamping Mapolsek Pangkalan Kerinci.


Namun lantaran antrian panjang di depan kasir, Tomedy mengurungkan niatnya dan menyambangin ATM dengan layanan setoran tunai, disamping kantor bank.

Lima lembar uang pecahan Rp 50 ribu dimasukan ke mesin.

Setelah mesin berproses dan transaksi berhasil, kertas resi penyetoranpun keluar.

Sepertibiasa, kertas itu dilipatnya jadi pembungkus ATM dan dimasukan ke kantong kecil didompetnya.

Tanpa ada rasa curiga, pemuda lajang ini bergegas pulang ke rumah.

"Sampai di rumah, saya iseng-iseng melihat struk (resi) dan saya kaget melihat saldo terakhirnya.

Kalau boleh jujur, uang saya mungkin tak sampai Rp 500 ribu di dalamnya," urainya.


Padahal saldo yang tertera hampir Rp 1 Miliar atau mencapai Rp 999.964.882,-.
Belum percaya dengan angka yang tertulis di kertas resi, ia mencoba melakukan transaksi pengecekan saldo terakhir, melalui layanan SMS Banking.

Rasa herannya semakin menjadi-jadi dan isinya meledak nyaris mencapai Rp 100 triliun atau sekitar Rp 99.999.999.648.821,-.

Janggal dengan isi rekening yang batas maksimal penarikan hanya Rp 5 juta itu, Tomedy kembali mendatangi kantor Bank Mandiri meski jam pelayanan hampir ditutup.

Setelah menceritakan seluruh kejadian kepada costumer service (CS), pegawai bank itu heran dan penasaran.

Petugas CS itu pun berkonsultasi dengan pimpinan terkait transaksi janggal itu.

"Katanya baru kali ini terjadi seperti itu. Mereka juga tidak tau bagaimana itu bisa terjadi dan dari mana asal uangnya. Sementara saya diminta menunggu, sampai sekarang belum ada kabarnya," tambah Tomedy.

Ia masih menyimpan kertas resi transaksi setor tunai mencapai Rp 999 juta lebih dan sms banking yang hampir Rp 100 T yang dikirim dari nomor 3355 yang merupakan nomor layanan sms banking Bank Mandiri. (*)

Jadi Viral di Medsos, Tomedy Pemilik Rekening Rp 100 T Nonaktifkan Akun Facebooknya
 
Warga Pangkalan Kerinci, Tomedy Marbun (32), pemilik rekening Bank Mandiri berisi hampir Rp 100 Triliun semakin banyak diperbincangkan. Akibat kejadian aneh dunia perbankan yang menimpanya.

Menurut Tomedy, banyak orang yang menghubungi dirinya dan jumlahnya tak terhitung lagi. Tidak hanya melalui telepon saja, ia juga dicecar orang melalui akun media sosial (medsos) miliknya seperti Blakberry Mesanger (BBM) dan Facebook.com.

"Makanya (akun) facbookku aku nonaktifkan sementara. Terlalu banyak yang komentar atau nge-tag. Jadi pusing awak," ujar pria lajang ini.

Lelaki berdarah Batak ini, tidak menyangka hingga kini jika rekening janggal miliknya menjadi topik hangat dimana-mana. Hanya saja, belum ada pernyataan resmi dari pihak Bank Mandiri, terkait kejadian ini.
 
Tomedy Pemilik Rekening Bank Mandiri Rp 100 Triliun Jadi Buruan Wartawan Lokal Hingga Nasional 
Tomedy Marbun (32), pemilik rekening Bank Mandiri berisi hampi Rp 100 Triliun mendadak jadi terkenal. Warga Pangkalan Kerinci, Pelalawan ini ramai diberitakan media online dan surat kabar hingga televisi hingga Jumat (11/3/2016).

Bahkan sempat menjadi viral di Media Sosial (Medsos) dan menjadi topik hangat bagi netizen. Banyak yang tak percaya dan mempertanyakan kejadian dalam pemberitaan. Tidak sedikit juga memuji niat baik Tomedy yang mengembalikan rekening gendutnya ke Bank Mandiri cabang Pangkalan Kerinci.

Saat dihubungi tribun, Tomedy mengaku menjadi buruan wartawan mulai media lokal hingga media nasional. Bahkan saat dihubungi, ia sedang wawancara dengan salah satu televisi nasional di rumahnya. Tak terhitung lagi warta yang menghubunginya.

"Kadang ku matikan telepon. Karena terlalu banyak yang menghubungi. Selain wartawan, banyak kawan-kawan yang nanya kebenaran beritanya," ujar pria yang bekerja sebagai wartawan di salah satu surat kabar mingguan ini.

Dijelaskannya, diri sampai saat ini belum percaya jika mengenang kejadian aneh dalam dunia perbankan tersebut. Namun hingga kini belum ada informasi resmi dari pihak Bank Mandiri terkait rekening janggal ini. (sumber: tribunnews.com)

Wednesday, 9 March 2016

Awan Menyerupai Orang Sedang Rukuk

23:50 0
Awan Menyerupai Orang Sedang Rukuk
Gerhana matahari atau bulan adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Demikian keterangan yang disampaikan Nabi Muhammad SAW kepada ummatnya. Dibalik fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) yang terjadi Rabu kemarin (9/3/2016) masih menyisakan cerita bagi warga Kota Palembang, pada hari ini Kamis (10/3/2016).

Setelah heboh seseorang memotret awan berlafaz Allah SWT saat detik-detik GMT, kini ada pula seorang pengguna instagram yang memposting foto awan yang berbentuk orang sedang melakukan gerakan salat, rukuk.

Awan yang berada di bawah GMT itu dipotret oleh Budi Surianto dengan akun instagram budisurianto.

Dalam foto itu terlihat gumpalan awalan yang berkumpul di satu titik.

Diamati lebih jelas memang tampak seperti orang yang sedang rukuk.

Sebelumnya sebuah foto yang diambil warga dari pinggir Sungai Musi Palembang menggambarkan awan berbentuk lafaz Allah saat Gerhana Matahari Total (GMT), Rabu (9/3/2016), mendadak heboh dan menjadi viral di sosial media (sosmed) Instagram.


Foto diabadikan seorang warga yang mengabadikan awan kecil berlafaz Allah berada di sudut bagian kiri awan hitam pekat yang menutupi gerhana matahari.
Gambar tersebut pertama kali diposting oleh pemilik akun @trimey sekitar pukul 09.00 atau sesudah fenomena langkah itu berakhir.

Dalam akun instagram itu, ia menuliskan kata "ALLAHUAKBAR!! Lafaz Allah terlihat.

Allah menunjukkan kuasanya di saat kami lagi berzikir. Diambil dari mushola di pinggir pelataran Sungai Musi pukul 07.04.

Fenomena gambar berlafaz Allah itu langsung mendapatkan tanggapan dari netizen.

Terlihat sejak diposting hingga pukul 21.00 WIB, foto tersebut telah disukai sebanyak 3.676 orang. (tribunnews.com)

Kapan Kita Dapat Menyaksikan Gerhana Matahari Total Terjadi Lagi?

23:26 0
Kapan Kita Dapat Menyaksikan Gerhana Matahari Total Terjadi Lagi?
Gerhana Matahari Total (GMT) pada Rabu, (9/3) pagi menyapa 12 wilayah provinsi di Indonesia mulai dari Bengkulu (Muko-Muko), Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Jambi, Bangka-Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah sampai Maluku Utara.

Sekitar 50 ribu warga mengikuti shalat gerhana matahari di Masjid Al-Akbar Surabaya. Shalat gerhana dipimpin oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur KH. Abdusshomad Buchori, Rabu (9/3).

Selain jamaah yang berada di dalam masjid, ribuan orang lainnya terpantau menyaksikan gerhana matahari menggunakan kacamata khusus maupun teropong yang disiapkan di halaman masjid.

Satu di antara jamaah maupun warga di sana adalah Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf yang datang bersama dua anaknya. Ditemui usai menunaikan shalat dan menyaksikan gerhana matahari, pria yang akrab disapa Gus Ipul itu mengatakan bahwa fenomena ini adalah kuasa Allah SWT, sehingga manusia wajib mensyukurinya.

Gerhana matahari sebagian di Surabaya mencapai 83,08 persen yang tepat dimulai pukul 06.21 WIB, kemudian mencapai puncaknys pada 07.25 WIB, dan berakhir pada 08.39 WIB.
 
Anda ingin kembali melihat Gerhana Matahari Total?

Bagi yang belum sempat menyaksikannya secara langsung maka perlu mencatat tanggal terjadinya
Gerhana Matahari Total (GMT) beberapa tahun ke depan. Meski begitu, tak semua GMT berikut ini bisa dilihat langsung dari daratan.

Berdasarkan situs Times and Dates, pada 21 Agustus 2017, GMT akan terjadi di Eropa Barat, Asia Utara/Timur, Afrika Utara/Barat, Amerika Utara, Amerika Selatan, Pasifik, Atlantik dan Arktik. Gerhana ini nantinya menjadi GMT pertama yang terjadi setelah tahun 1979. Gerhana ini bisa disaksikan masyarakat mulai dari bagian paling timur hingga barat Amerika.

Selanjutnya, pada 2 Juli 2019, GMT kembali akan terjadi di Amerika Utara, sebagian besar Amerika Selatan, dan Pasifik. Namun sayangnya sebagian besar akan terjadi di Lautan Pasifik. Sehingga gerhana ini tentu sulit dinikmati oleh masyarakat umum karena hanya bisa disaksikan jika menaiki kapal.

Setahun kemudian, tepatnya pada 14 Desember 2020, GMT juga akan terjadi di Afrika Selatan, sebagian besar Amerika Selatan, Pasifik, Atlantik, Laut India, dan Antartika. Namun lagi-lagi, GMT ini tak bisa dinikmati langsung di daratan. Sehingga masyarakat hanya bisa melihat maksimal 90 persen bagian matahari yang tertutupi bulan.

Sedangkan pada 4 Desember 2021, GMT bisa dilihat dari Australia Selatan, Afrika Selatan, Amerika Selatan, Pasifik, Atlantik, Laut India, dan Antartika. Tetapi gerhana ini diramalkan hanya bisa dinikmati oleh mereka yang berada di belahan bumi bagian selatan. (sumber: republika.co.id)

Tuesday, 2 February 2016

Bolehkah Kencing Sambil Berdiri?

05:10 0
Bolehkah Kencing Sambil Berdiri?
Bolehkah Kencing Sambil Berdiri?

Bolehkah Kencing Sambil Berdiri? - Pernahkah Anda buang air kecil (kencing) sambil berdiri? Sudahkah Anda tahu hukum kencing sambil berdiri? Kalau sudah, Alhamdu lillaah. Kalau belum tahu hukumnya, lebih baik Anda simak ulasan berikut ini.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani pernah ditanya :
"Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam melarang buang air kecil sambil berdiri sebagaimana diriwayatkan oleh sayyidah Aisyah. Tetapi kemudian beliau buang air kecil sambil berdiri, bagaimana mengkompromikannya ?"
Jawaban:
Riwayat bahwa beliau melarang kencing sambil berdiri tidak shahih. Baik riwayat Aisyah ataupun yang lain.

Disebutkan dalam sunan Ibnu Majah dari hadits Umar, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata :

"Artinya : Janganlah engkau kencing berdiri".

Hadits ini lemah sekali. Adapun hadits Aisyah, yang disebut-sebut dalam pertanyaan tadi sama sekali tidak berisi larangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kencing sambil berdiri. Hadits tersebut hanya menyatakan bahwa Aisyah belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kencing sambil berdiri.

Kata Aisyah Radhiyallahu 'anha.

"Artinya : Barangsiapa yang mengatakan pada kalian bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah buang air kecil sambil berdiri maka janganlah kalian membenarkannya (mempercayainya)".

Apa yang dikatakan oleh Aisyah tentu saja berdasarkan atas apa yang beliau ketahui saja.

Disebutkan dalam shahihain dari hadits Hudzaifah bahwa beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam melewati tempat sampah suatu kaum, kemudian buang air kecil sambil berdiri.
Dalam kasus-kasus seperti ini ulama fiqih berkata : "Jika bertentangan dua nash ; yang satu menetapkan dan yang lain menafikan, maka yang menetapkan didahulukan daripada yang menafikan, karena ia mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh pihak yang menafikan.

Jadi bagaimana hukum kencing sambil berdiri ?
Tidak ada aturan dalam syari'at tentang mana yang lebih utama kencing sambil berdiri atau duduk, yang harus diperhatikan oleh orang yang buang hajat hanyalah bagaimana caranya agar dia tidak terkena cipratan kencingnya. Jadi tidak ada ketentuan syar'i, apakah berdiri atau duduk. Yang penting adalah seperti apa yang beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sabdakan.
"Maksudnya : Lakukanlah tata cara yang bisa menghindarkan kalian dari terkena cipratan kencing".

Dan kita belum mengetahui adakah shahabat yang meriwayatkan bahwa beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah kencing sambil berdiri (selain hadits Hudzaifah tadi, -pent-). Tapi ini bukan berarti bahwa beliau tidak pernah buang air kecil (sambil berdiri, -pent-) kecuali pada kejadian tersebut.

Sebab tidak lazim ada seorang shahabat mengikuti beliau ketika beliau Shalallahu 'alaihi wa sallam buang air kecil. Kami berpegang dengan hadits Hudzaifah bahwa beliau pernah buang air kecil sambil berdiri akan tetapi kami tidak menafikan bahwa beliaupun mungkin pernah buang air kecil dengan cara lain.

[Disalin dari buku Majmu'ah Fatawa Al-Madina Al-Munawarah, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Albani, Penulis Muhammad Nashiruddin Al-Albani Hafidzzhullah, Penerjemah Adni Kurniawan, Penerbit Pustaka At-Tauhid]


============================================= 

Pertanyaan:
Bolehkan seseorang kencing sambil berdiri bila hal itu tidak mengenai dirinya ataupun pakaiannya?

Jawaban:

Tidak apa-apa kencing sambil berdiri apabila hal itu memang dibutuhkan, dengan syarat, tempatnya tertutup sehingga tidak ada orang lain yang melihat auratnya serta tidak terkena percikan air seninya. Hal ini berdasarkan riwayat dari Hudzaifah -rodliallaahu'anhu-, bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم berjalan menuju ujung tempat pembuangan sampah suatu kaum, lalu beliau buang air kecil sambil berdiri. (Disepakati keshahihannya. HR. Al-Bukhari dalam al-Wudhu' (2224); Muslim dalam ath-Thaharah (273)).

Namun demikian, lebih baik dilakukan dengan duduk/jongkok, karena seperti itulah yang mayoritas dilakukan oleh Nabi صلی الله عليه وسلم, dengan tetap menutup aurat dan hati-hati agar tidak terkena percikan air seni.


Rujukan:
 
Majalah al-Buhuts, nomor 38, hal. 132, Syaikh Ibnu Baz.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.


Hukum Kencing Berdiri


Sunday, 24 January 2016

Kisah Tiga Orang Yang Tersesat di Goa

23:08 0
Kisah Tiga Orang Yang Tersesat di Goa
Kisah Tiga Orang Yang Tersesat di Goa

 Dari Abu Abdur Rahman, iaitu Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiallahu 'anhuma, katanya: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Ada tiga orang dari golongan orang-orang sebelummu sama berangkat berpergian, sehingga terpaksalah untuk menempati sebuah gua guna bermalam, kemudian merekapun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu atas mereka. Mereka berkata bahawasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan engkau semua dari batu besar ini melainkan jikalau engkau semua berdoa kepada Allah Ta'ala dengan menyebutkan perbuatanmu yang baik-baik.

image: pixabay.com

Seorang dari mereka itu berkata: "Ya Allah. Saya mempunyai dua orang tua yang sudah tua-tua serta lanjut usianya dan saya tidak pernah memberi minum kepada siapapun sebelum keduanya itu, baik kepada keluarga ataupun hamba sahaya. Kemudian pada suatu hari amat jauhlah saya mencari kayu - yang dimaksud daun-daunan untuk makanan ternak. Saya belum lagi pulang pada kedua orang tua itu sampai mereka tertidur. Selanjutnya saya pun terus memerah minuman untuk keduanya itu dan keduanya saya temui telah tidur. Saya enggan untuk membangunkan mereka ataupun memberikan minuman kepada seseorang sebelum keduanya, baik pada keluarga atau hamba sahaya. Seterusnya saya tetap dalam keadaan menantikan bangun mereka itu terus-menerus dan gelas itu tetap pula di tangan saya, sehingga fajarpun menyingsinglah, Anak-anak kecil sama menangis kerana kelaparan dan mereka ini ada di dekat kedua kaki saya. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka minum minumannya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan keredhaanMu, maka lapanglah kesukaran yang sedang kita hadapi dari batu besar yang menutup ini." Batu besar itu tiba-tiba membuka sedikit, tetapi mereka belum lagi dapat keluar dari gua.
Yang lain berkata: "Ya Allah, sesungguhnya saya mempunyai seorang anak bapa saudara yang wanita - jadi sepupu wanita - yang merupakan orang yang tercinta bagiku dari sekalian manusia - dalam sebuah riwayat disebutkan: Saya mencintainya sebagai kecintaan orang-orang lelaki yang amat sangat kepada wanita - kemudian saya menginginkan dirinya, tetapi ia menolak kehendakku itu, sehingga pada suatu tahun ia memperolehi kesukaran. lapun mendatangi tempatku, lalu saya memberikan seratus dua puluh dinar padanya dengan syarat ia suka menyendiri antara tubuhnya dan antara tubuhku -maksudnya suka dikumpuli dalam seketiduran. Ia berjanji sedemikian itu. Setelah saya dapat menguasai dirinya - dalam sebuah riwayat lain disebutkan: Setelah saya dapat duduk di antara kedua kakinya - sepupuku itu lalu berkata: "Takutlah engkau pada Allah dan jangan membuka cincin - maksudnya cincin di sini adalah kemaluan, maka maksudnya ialah jangan melenyapkan kegadisanku ini - melainkan dengan haknya - yakni dengan perkahwinan yang sah -, lalu saya pun meninggalkannya, sedangkan ia adalah yang amat tercinta bagiku dari seluruh manusia dan emas yang saya berikan itu saya biarkan dimilikinya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian dengan niat untuk mengharapkan keredhaanMu, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang kita hadapi ini." Batu besar itu kemudian membuka lagi, hanya saja mereka masih juga belum dapat keluar dari dalamnya.

Orang yang ketiga lalu berkata: "Ya Allah, saya mengupah beberapa kaum buruh dan semuanya telah kuberikan upahnya masing-masing, kecuali seorang lelaki. Ia meninggalkan upahnya dan terus pergi. Upahnya itu saya perkembangkan sehingga bertambah banyaklah hartanya tadi. Sesudah beberapa waktu, pada suatu hari ia mendatangi saya, kemudian berkata: Hai hamba Allah, tunaikanlah sekarang upahku yang dulu itu. Saya berkata: Semua yang engkau lihat ini adalah berasal dari hasil upahmu itu, baik yang berupa unta, lembu dan kambing dan juga hamba sahaya. Ia berkata: Hai hamba Allah, janganlah engkau memperolok-olokkan aku. Saya menjawab: Saya tidak memperolok-olokkan engkau. Kemudian orang itu pun mengambil segala yang dimilikinya. Semua digiring dan tidak seekorpun yang ditinggalkan. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian ini dengan niat mengharapkan keredhaanMu, maka lapangkanlah kita dari kesukaran yang sedang kita hadapi ini." Batu besar itu lalu membuka lagi dan mereka pun keluar dari gua itu. (Muttafaq 'alaih)


Keterangan:
Ada beberapa kandungan yang penting-penting dalam Hadis di atas, iaitu:
(a)        Kita disunnahkan berdoa kepada Allah di kala kita sedang dalam   keadaan   yang  sulit,   misalnya  mendapatkan   malapetaka, kekurangan rezeki dalam kehidupan, sedang sakit dan lain-lain.
(b)       Kita disunnahkan bertawassul dengan amal perbuatan kita sendiri yang shalih, agar kesulitan itu segera lenyap dan diganti dengan kelapangan oleh Allah Ta'ala. Bertawassul ertinya membuat perantaraan dengan amal shalih itu, agar permohonan kita dikabulkan olehNya. Bertawassul dengan cara seperti ini tidak ada seorang ulamapun yang tidak membolehkan. Jadi beliau-beliau itu sependapat tentang bolehnya.
Juga tidak diperselisihkan oleh para alim-ulama perihal bolehnya bertawassul dengan orang shalih yang masih hidup, sebagaimana yang dilakukan oleh Sayidina Umar r.a. dengan bertawassul kepada Sayidina Abbas, agar hujan segera diturunkan.
Yang diperselisihkan ialah jikalau kita bertawassul dengan orang-orang shalih yang sudah wafat, maksudnya kita memohonkan sesuatu kepada Allah Ta'ala dengan perantaraan beliau-beliau yang sudah di dalam kubur agar ikut membantu memohonkan supaya doa kita dikabulkan. Sebahagian alim-ulama ada yang membolehkan dan sebahagian lagi tidak membolehkan.
Jadi bukan orang-orang shalih itu yang dimohoni, tetapi yang dimohoni tetap Allah Ta'ala jua, tetapi beliau-beliau dimohon untuk ikut membantu mendoakan saja. Kalau yang dimohoni itu orang-orang yang sudah mati, sekalipun bagaimana juga shalihnya, semua alim-ulama Islam sependapat bahawa perbuatan sedemikian itu haram hukumnya. Sebab hal itu termasuk syirik atau menyekutukan sesuatu dengan Allah Ta'ala yang Maha Kuasa Mengabulkan segala permohonan.


Namun demikian hal-hal seperti di atas hanya merupakan soal-soal furu'iyah (bukan akidah pokok), maka jangan hendaknya menyebabkan retaknya persatuan kita kaum Muslimin.

(Sumber: Riyadhus Shalihin)