September 2016 - CUC

Friday, 30 September 2016

Sebab-sebab Terkena Sihir dan Penyakit 'Ain

05:32 0
Sebab-sebab Terkena Sihir dan Penyakit 'Ain
Sebab-sebab Terkena Sihir dan Penyakit 'Ain
 
Soal:
 Apakah sebab-sebab terkena sihir, ‘ain dan al-Mas (gangguan setan)?
image: pixabay.com
Jawaban:

Ketahuilah bahwa aktifitas sihir itu diharamkan dan kafir kepada Allah سبحانه و تعالى. Karena tukang sihir meminta bantuan kepada setan dan mendekatkan diri kepada jin sehingga mereka membantu untuk menimpakan sihir. Di antaranya memisahkan dan menghubungkan (suami dengan isterinya atau selainnya). Tukang sihir apabila ingin menimpakan bahaya kepada seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, maka ia memanggil setan-setannya atau jin-jin yang mentaatinya lalu menyembelihkan untuk mereka atau khadam mereka dan meminta kepada mereka supaya meng-ganggu si fulan atau fulanah, lalu terwujudlah gangguan itu, dengan seizin Allah.

Untuk menyembuhkan hal itu atau membentengi diri darinya ialah dengan berdzikir kepada Allah, beribadah kepadaNya, mentaatiNya, menjauhi kemaksiatan dan ahli kemaksiatan, memperbanyak membaca al-Qur'an dan merenungkannya, serta membaca wirid-wirid, doa-doa dan dzikir. Bersama itulah Allah akan memelihara hambaNya dari tertimpa al-Mass (gangguan setan) dan sihir.

Adapun ‘ain ialah kadang sebagian orang diketahui mempunyai kedengkian kepada orang lain. Ketika ia melihat dari mereka sesuatu yang membuatnya dengki, maka ia menghadapkan hatinya kepada mereka dan mencoba berbicara dengan ucapan permusuhan, lalu ia mengarahkan pandangannya kepada siapa yang dipandangnya dengan panah beracun yang mempengaruhi orang yang dipandangnya tersebut dengan seizin Allah.
 
Cara mengatasi hal itu ialah dengan berusaha menjauhi mereka yang dikenal dengan kedengkiannya, tidak menampakkan perhiasan di hadapan mereka, menasehati mereka supaya tidak membahayakan orang lain dengan tanpa hak, meminta mereka supaya berbuat baik kepada setiap muslim dan mengucapkan maa syaa Allah laa quwwata illaa billaah, dan sejenisnya.

Rujukan:
 
Fatwa Syaikh Abdullah bin Jibrin yang ditandatanganinya.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

Menimpakan Penyakit ‘Ain Dengan Tanpa Sengaja

05:27 0
Menimpakan Penyakit ‘Ain Dengan Tanpa Sengaja
Apakah Benar Bahwa Seseorang Bisa Menimpakan Penyakit ‘Ain Dengan Tanpa Sengaja, dan Bagaimana Cara Mengatasinya?
image: pixabay.com
Jawaban:
'Ain itu nyata, sebagaimana yang disinyalir dalam hadits. Sebab, ‘ain mengagumi sesuatu yang dilihatnya, baik manusia, hewan, maupun harta benda. Lalu jiwanya yang jahat dan dengki membayangkan berbagai hal tersebut tertimpa kemudaratan, lantas terlontarlah darinya butir-butir racun yang mempengaruhi apa dan siapa yang dipandangnya, dengan seizin Allah yang bersifat kauni, bukan syar'i.

'Ain bisa menimpa seseorang dengan tanpa disengaja. Ia bisa menimpa anaknya, isterinya, kendaraannya dan sejenisnya.


Cara menyembuhkannya ialah meminta orang yang menimpakan 'ain berdoa dengan mengucapkan,  

مَاشَاءَ اللّه لَا قُوَّةَ إِلّا بِاللّهِ

"Maa syaa allahu laa quwwata illaa billaah." 

Demikian pula ia mencuci sebagian anggota badannya dan mengguyurkannya kepada orang yang terkena ‘ain tersebut.

Rujukan:

Fatwa Syaikh Abdullah bin Jibrin yang ditandatanganinya.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

Membentengi Diri Dari Penyakit 'Ain

05:22 0
Membentengi Diri Dari Penyakit 'Ain
Membentengi Diri Dari Penyakit 'Ain 

Apakah setiap muslim harus membentengi dirinya dari ‘ain, kendatipun itu telah sah dalam Sunnah? Apakah itu menyelisihi tawakal kepada Allah?
image: pixabay.com
Jawaban:
Dalam hadits disebutkan,
"Ain adalah nyata, dan seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir niscaya ‘ain-lah yang mendahuluinya, dan apabila kalian diminta mandi, maka mandilah." [1]

'Ain adalah mata manusia yang tertuju pada sesuatu lalu menimpakan kerusakan padanya, dan kerusakan ini hanya dengan seizin Allah dan ketentuanNya.

Adapun caranya, wallahu a'lam. Tetapi sebagian manusia ada yang berjiwa sangat jahat, dan keluar dari jiwanya, ketika meracuninya, berbagai racun yang membahayakan yang sampai kepada orang yang dipandangnya. Lalu orang yang dipandangnya mengalami berbagai gangguan, seperti merasakan sakit dan sejenisnya.

Karena itu, kamu harus membentengi diri, dan mengerahkan berbagai upaya yang dapat membentengi dirimu dari kejahatannya.

Di antara upaya-upaya tersebut, ialah Isti'adzah (meminta perlindungan kepada Allah). Nabi صلی الله عليه وسلم meminta perlindungan untuk al-Hasan dan al-Husain.[2] Rasulullah صلی الله عليه وسلم berlindung dari jin dan mata manusia yang dengki.[3] Jibril meruqyah Nabi صلی الله عليه وسلم dari penyakit 'ain dengan ucapan:

بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ 
اللهُ يَشْفِيْكَ بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ

"Dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang mengganggumu dari kejahatan setiap jiwa, atau mata yang dengki. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan menyebut nama Allah aku meruqyahmu." [4]

Oleh karena itu, setiap orang harus mengamalkan doa-doa ini, melakukan upaya-upaya lainnya yang dapat membentenginya dari keburukannya, serta menyembuhkan hal itu jika telah menimpa. Jika seseorang dituduh telah menimpahkan ‘ain kepada orang lain, maka ia diminta supaya mencuci pakaiannya untuknya atau sejenisnya, berdasarkan sabda Nabi صلی الله عليه وسلم,  

"Apabila kalian diminta mandi, maka mandilah." [5]


Footnote:
[1] HR. Muslim, no. 2188, kitab as-Salam.
[2] HR. Al-Bukhari, no. 3371, kitab Ahadits al-Anbiya'.
[3] HR. At-Tirmidzi, no. 2058, kitab ath-Thibb; Ibnu Majah, no. 3511, kitab ath-Thibb; dan at-Tirmidzi menilai-nya sebagai hadits hasan gharib.
[4] HR. Muslim, no. 2186, kitab as-Salam.
[5] HR. Muslim, no. 2188, kitab as-Salam.

Rujukan:
 
Al-Kanz ats-Tsamin, Syaikh Abdullah al-Jibrin, hal. 232, 233.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

Thursday, 29 September 2016

Hukum Meminta Mandi Kepada Orang Yang Menimpakan Penyakit 'Ain

04:40 0
Hukum Meminta Mandi Kepada Orang Yang Menimpakan Penyakit 'Ain
 Hukum Meminta Mandi 
Kepada Orang Yang Menimpakan Penyakit 'Ain

Terdapat dalam hadits yang diriwayatkan Muslim, "Ain adalah nyata, dan seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir niscaya ‘ain-lah yang mendahuluinya, dan apabila kalian diminta mandi, maka mandilah." [1] Apakah ini berarti tidak berdosa meminta ‘ain supaya mandi berdasarkan apa yang disinyalir dalam hadits. Apa nasehat anda terhadap orang yang memintanya darinya, karena sebagian orang akan marah bila dirinya diminta demikian?
image: pixabay.com
Jawaban:
Jika orang yang menimpakan 'ain ('a'in) diketahui dan terbukti bahwa dialah yang menimpakan kepada Ma'in (yang tertimpa 'ain), maka ia diminta supaya mencuci kedua tangannya atau sebagian anggota badannya untuk diguyurkan kepada orang yang terkena 'ain atau meminumkannya. Demikian pula jika orang yang menimpakan 'ain itu sendiri mengakuinya bahwa dirinya telah menimpakan kepada orang yang terkena ‘ain, maka ia harus berlutut di hadapannya dengan mengucapkan: Ma sya?allah la quwwata illa billah. Setelah tertimpa ‘ain, ia harus meniupkan padanya atau mencuci sebagian tubuhnya dan mengguyurkannya padanya.

Tidak boleh ia menolak untuk mandi (atau mencuci sebagian tubuhnya), jika ia diminta demikian, baik ia sebagai tertuduh karena ucapan yang dinyatakannya atau secara pasti bahwa dirinyalah yang menimpakan ‘ain tersebut.

Ia tidak boleh marah dengan hal itu, walaupun ia mengakui tidak melakukannya. Sebab ‘ain itu adakalanya mendahului pelakunya. Dan kebanyakan gangguan itu terjadi dengan tanpa dikehendaki oleh 'ain sehingga kadangkala menimpa sebagian anak-anaknya atau sebagian hartanya. Kemudian ia menyesal atas ucapan yang pernah dinyatakannya. Wallahu a'lam.

Footnote
[1] HR. Muslim, no. 2188, Kitab as-Salam.
Rujukan:
 
Fatwa Syaikh Abdullah bin Jibrin yang ditandatanganinya.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

'Ain (Penyakit Akibat Tatapan Mata)

04:31 0
'Ain (Penyakit Akibat Tatapan Mata)
'Ain (Penyakit Akibat Tatapan Mata)

Apakah hakikat ain Nadhl- (panah kedengkian) itu? Allah berfirman, "Dan dari keburukan orang yang dengki ketika dengki." (Al-Falaq: 5). Apakah hadits Rasul صلی الله عليه وسلم shahih, yang maknanya, "Sepertiga yang ada dalam kubur mati karena 'ain"? Apabila seseorang ragu tentang kedengkian salah seorang dari mereka, maka apa yang wajib dikerjakan dan diucapkan oleh seorang muslim? Apakah mengambil bekas mandi orang yang menimpakan ain dan diguyurkan pada orang yang tertimpa dapat menyembuhkan, dan apakah ia meminumnya atau mandi dengannya?

image: pixabay.com

Jawaban:

'Ain itu diambil dari kata 'Ana'Ya'inu, apabila ia menatapnya dengan matanya. Asalnya dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, kemudian diikuti oleh jiwanya yang keji, kemudian menggunakan tatapan matanya itu untuk menyampaikan racun jiwanya kepada orang yang dipandangnya.

Allah سبحانه و تعالى telah memerintahkan Nabinya, Muhammad صلی الله عليه وسلم, untuk meminta perlindungan dari orang yang dengki. Allah سبحانه و تعالى berfirman,

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَد

"Dan dari keburukan orang yang dengki ketika dengki." (Al-Falaq: 5).

Setiap 'a'in (orang yang menimpakan 'ain) adalah hasid (pendengki) dan tidak setiap hasid adalah 'a'in. Karena hasid itu lebih umum ketimbang 'a'in, maka meminta perlindungan dari hasid berarti meminta perlindungan dari 'a'in. Yaitu panah yang keluar dari jiwa hasid dan 'a'in yang tertuju pada orang yang didengki (mahsud atau ma'in), yang adakalanya menimpanya dan adakalanya tidak mengenainya. Jika 'ain itu kebetulan menimpa orang yang dalam keadaan terbuka tanpa pelindung, maka itu berpengaruh padanya. Sebaliknya, bila ia menimpa kepada orang yang waspada dan bersenjata, maka panah itu tidak berhasil mengenainya, tidak berpengaruh padanya. Bahkan barangkali panah itu kembali kepada pemiliknya (diringkas dari Zad al-Ma'ad).

Banyak hadits-hadits shahih dari Nabi صلی الله عليه وسلم tentang terjangkit dengan 'ain ini. Di antaranya apa yang disebutkan dalam Shahihain dari Aisyah -rodliallaahu'anhu-, ia mengatakan,

"Bahwasanya Rasulullah صلی الله عليه وسلم memerintahkan kepadanya supaya meminta diruqyah dari 'ain." (HR. Al-Bukhari, no. 5738, kitab ath-Thibb; dan Muslim, no. 2195, kitab as-Salam).

Muslim, Ahmad dan at-Tirmidzi; ia menshahihkannya, dari Ibnu Abbas dari Nabi صلی الله عليه وسلم beliau bersabda,

"'Ain adalah nyata, dan seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir niscaya 'ain mendahuluinya. Jika kalian diminta untuk mandi, maka mandilah." (HR. Muslim, no. 2188, kitab as-Salam).

Diriwayatkan Imam Ahmad dan at-Tirmidzi; ia menshahihkannya, dari Asma' binti Umais bahwa ia mengatakan,

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya Bani Ja'far tertimpa 'ain; apakah aku boleh meminta ruqyah untuk mereka?" Beliau menjawab, "Ya, seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir niscaya 'ainlah yang mendahuluinya." (HR. at-Tirmidzi, no. 2059, kitab ath-Thibb; Ahmad dalam al-Musnad, 6/ 438; Ibnu Majah, no. 3510, kitab ath-Thibb; dan at-Tirmidzi menilainya sebagai hadits hasan shahih).

Abu Daud meriwayatkan dari Aisyah -rodliallaahu'anha-, ia mengatakan,

"Orang yang menimpakan 'ain diperintahkan supaya berwudhu, kemudian orang yang tertimpa 'ain mandi darinya.? (HR. Abu Daud, no.3880, kitab ath-Thibb).

Imam Ahmad, Malik, an-Nasa'i dan Ibnu Hibban; ia menshahihkannya, meriwayatkan dari Sahl bin Hanif,

"Bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم keluar beserta orang-orang yang berjalan bersamanya menuju Makkah, hingga ketika sampai di daerah Khazzar dari Juhfah, Sahl bin Hanif mandi. Ia seorang yang berkulit putih serta elok tubuh dan kulitnya. Lalu Amir bin Rabi'ah, saudara Bani Adi bin Ka'b melihatnya, dalam keadaan sedang mandi, seraya mengatakan, 'Aku belum pernah melihat seperti hari ini kulit yang disembunyikan.' Maka Sahl pingsan. Lalu ia dibawa kepada Nabi صلی الله عليه وسلم lantas dikatakan kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, mengapa Shal begini. Demi Allah, ia tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula siuman.' Beliau bertanya, 'Apakah kalian mendakwa seseorang mengenainya?' Mereka menjawab, 'Amir bin Rabi'ah telah memandangnya.' Maka beliau صلی الله عليه وسلم memanggil Amir dan memarahinya, seraya bersabda, 'Mengapa salah seorang dari kalian membunuh saudaranya. Mengapa ketika kamu melihat sesuatu yang mengagumkanmu, kamu tidak mendoakan keberkahan (untuknya)?' Kemudian beliau bersabda kepadanya, 'Mandilah untuknya.' Lalu ia membasuh wajahnya, kedua tangannya dan kedua sikunya, kedua lututnya dan ujung kedua kakinya, dan bagian dalam sarungnya dalam suatu bejana. Kemudian air itu diguyurkan di atasnya, yang diguyurkan oleh seseorang di atas kepalanya dan punggungnya dari belakangnya. Ia meletakkan bejana di belakangnya. Setelah melakukan demikian, Sahl bangkit bersama orang-orang tanpa merasakan sakit lagi."
(HR. Muslim, no. 2188, kitab as-Salam).

Jumhur ulama menetapkan bahwa 'ain itu bisa menimpa, berdasarkan hadits-hadits yang telah disebutkan dan selainnya, karena bisa disaksikan dan fakta. Adapun hadits yang anda sebutkan, "Sepertiga manusia yang berada dalam kubur mati karena 'ain," maka kami tidak mengetahui keshahihannya. Tetapi penulis Nail al-Authar menyebutkan bahwa al-Bazzar mengeluarkan dengan sanad hasan dari Jabir رضى الله عنهما dari Nabi صلی الله عليه وسلم, beliau bersabda,
أَكْثَرُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِيْ بَعْدَ قَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ بِاْلأَنْفُسِ

"Kebanyakan orang yang mati dari umatku, setelah qadha Allah dan qadarNya, karena Anfus." (HR. Ath-Thayalisi dalam Musnadnya, no. 1760; ath-Thahawi dalam al-Musykil dan al-Bazzar; serta dihasankan oleh al-Hafizh dalam al-Fath, 10/ 167; dalam as-Silsilah ash-Shahihah, no. 747).

Yakni, karena 'ain.

Kewajiban atas setiap muslim ialah membentengi dirinya dari setan dan dari kejahatan jin dan manusia, dengan kekuatan iman kepada Allah, ketergantungan dan tawakalnya kepadaNya, berlindung dan tadharru' kepadaNya, ta'awwudz nabawiyah, serta banyak membaca Mu'awwidzatain, surah al-Ikhlas, Fatihatul kitab, dan ayat Kursi. Di antara ta'awwudz ialah:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang diciptakanNya."


أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ وَمِنْ شَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ 
وَأَنْ يَحْضُرُوْنِ

"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari murkaNya dan siksaNya, dari keburukan hamba-hambaNya, dari bisikan-bisikan setan, dan bila mereka datang."

Juga firman Allah,

فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُلْ حَسْبِيَ اللّهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ

"Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki 'Arsy yang agung." (At-Taubah: 129).

Dan doa-doa sejenisnya yang disyariatkan. Ini adalah makna pembicaraan Ibnul Qayyim yang disebutkan di awal jawaban.

Jika diketahui bahwa seseorang telah menimpakan 'ain kepada orang lain, atau seseorang diragukan bahwa ia menimpakan 'ain, maka orang yang menimpakan 'ain diperintahkan supaya mencuci wajahnya dalam bejana, kemudian memasukkan tangan kirinya lalu mengguyurkan pada lutut kanannya dalam bejana, kemudian memasukkan tangan kanannya lalu mengguyur lutut kirinya, kemudian mencuci kainnya, kemudian diguyurkan pada kepala orang terkena 'ain dari belakangnya sekali guyuran, maka ia akan sembuh dengan seizin Allah.

Hanya Allah-lah yang memberi taufik. Semoga shalawat dan salam Allah limpahkan atas Nabi kita, Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

Rujukan:

Lajnah Da'imah, Fatawa al-'Ilaj bil Qur'an was Sunnah'ar-Ruqa wama yata'allaqu biha.

Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

Monday, 26 September 2016

Hukum Mencium Tangan Kyai, Guru, dan Orang Tua

15:04 0
Hukum Mencium Tangan Kyai, Guru, dan Orang Tua
Hukum Mencium Tangan Kyai, 
Guru, dan Orang Tua

Hukum Mencium Tangan Kyai, Guru, dan Orang Tua
Pertanyaan:

Apa hukum cium tangan? Dan apa hukum mencium tangan seseorang yang memiliki keutamaan, misalnya guru, dan sebagainya? Apa pula hukum mencium tangan paman dan lainnya yang lebih tua? Apakah mencium tangan kedua orang tua ada tuntunannya dalam syari'at? Ada orang yang mengatakan bahwa cium tangan mengandung kehinaan (menghinakan diri sendiri).

Jawaban:
Menurut kami, itu boleh, dalam rangka menghormati dan bersikap sopan terhadap kedua orang tua, ulama, orang-orang yang memiliki keutamaan, kerabat yang lebih tua dan sebagainya. Ibnul Arabi telah menulis risalah tentang hukum cium tangan dan sejenisnya, sebaiknya merujuknya. Bila cium tangan itu dilakukan terhadap kerabat-kerabat yang lebih tua atau orang-orang yang memiliki keutamaan, ini berarti sebagai penghormatan, bukan menghinakan diri dan bukan pula pengagungan. Kami dapati sebagian Syaikh kami mengingkarinya dan melarangnya, hal itu karena sikap rendah hati mereka, bukan berarti mereka mengharamkannya. Wallahu a'lam.

Rujukan:
 
Fatwa Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin (1852), tanggal 20/11/1421 H.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.


Viedo Hukum Mencium Tangan Kyai, Guru, dan Orang Tua