November 2017 - CUC

Sunday, 12 November 2017

BILA IBADAH MEMILIKI BEBERAPA SIFAT

18:47 0
BILA IBADAH MEMILIKI BEBERAPA SIFAT
BILA IBADAH MEMILIKI BEBERAPA SIFAT

BILA IBADAH MEMILIKI BEBERAPA SIFATSuatu ibadah apabila memiliki beberapa sifat (macam) seperti sifat doa Iftitah, adzan, sholawat ketika tasyahud dll, maka ada tiga kemungkinan:
1. Kita menggabung seluruh sifat yang ada. 
2. Kita melakukan sebagian sifat dan kadang-kadang sifat lainnya. 
3. Kita hanya memilih satu sifat saja. 

Pendapat yang kedua adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله dalam Majmu Fatawa 22/335 dan Qowa'id Fiqhiyyah Nuroniyyah hlm. 19, dan Ibnul Qoyyim Jala'ul Afham hlm. 453.

Dan cara alternatif ini yaitu melakukan satu sifat dan kadang lagi sifat lainnya, memiliki beberapa faedah yang cukup banyak:
- Menjaga sunnah Nabi صلي الله عليه وسلم dan menyebarkannya di antara manusia. 
- Mempermudah seseorang, sebab sebagian sifat kadang lebih ringan daripada     sifat lainnya. 
- Lebih menghadirkan hati. 
- Tidak membosankan. 
- Mengamalkan syari'at dengan semua sifatnya. 
- Menjalin persatuan hati. 
- Menunjukkan keadilan, dan lain-lain. 
(Syarh Mumti' Ibnu Utsaimin 2/56, Ta'liqot Syaikhina Sami Muhammad ala Bulughul Marom no. 305).


Sumber: 10 FAEDAH TENTANG QOWA'ID FIQHIYYAH oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi

Friday, 10 November 2017

MACAM-MACAM LAFADZ

20:05 0
MACAM-MACAM LAFADZ
MACAM-MACAM LAFADZ

MACAM-MACAM LAFADZ - Lafadz-lafadz dalam ibadah dan muamalat itu terbagi menjadi tiga macam:
- Pertama: Lafadz dan maknanya dianggap, yaitu al-Qur'an, tidak boleh diganti dengan bahasa lainnya. 

- Kedua: Maknanya dianggap tetapi lafadznya tidak, seperti lafadz-lafadz dalam akad dan muamalat. Maka setiap lafadz yang menunjukkan arti jual beli, pernikahan dan lain sebagainya maka itu sudah sah, sekalipun tidak berbahasa Arab. 
- Ketiga: lafadznya dianggap bila mampu, adapun kalau tidak mampu maka gugur, seperti khutbah Jum'at, do'a dan lain sebagainya. (Tahrirul Qowaid, Ibnu Rojab 1/64)

Sumber: 10 FAEDAH TENTANG QOWA'ID FIQHIYYAH oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi

JIKA DIIZINKAN, MAKA TIDAK MENANGGUNG AKIBATNYA

20:04 0
JIKA DIIZINKAN, MAKA TIDAK MENANGGUNG AKIBATNYA
JIKA DIIZINKAN, MAKA TIDAK MENANGGUNG AKIBATNYA

JIKA DIIZINKAN, MAKA TIDAK MENANGGUNG AKIBATNYA - Satu kaidah fiqh mengatakan (pen):

مَا تَرَتَّبَ عَلَى الْـمَأْذُونِ فَلَيْسَ بِـمَضْمُونٍ

"Apa yang terjadi karena sesuatu yang diizinkan, maka tidak perlu menanggungnya."

Contoh penerapan kaidah:

1. Dalam hal yang berhubungan syari'at: dibolehkannya orang yang sedang sholat menghalangi orang yang akan lewat di depannya, jika orang yang akan lewat ternyata luka atau sampai meninggal dunia, maka orang yang menghalangi tidak ada tanggungan. 
2. Dalam hal yang berhubungan dengan urusan sesama manusia: pemilik rumah mengizinkan pekerjanya untuk meruntuhkan tembok tertentu, lalu tembok sampingnya ikut hancur, maka si pekerja tidak menanggung. 

Contoh lainnya, kalau ada seorang dokter berusaha semaksimal mungkin mengobati pasien, ternyata sakit pasien bertambah parah maka dokter tersebut tidak menanggung akibatnya.

Contoh lainnya lagi, seorang pegawai menggunakan peralatan kerja untuk urusan pekerjaannya, lalu terjadi kerusakan, maka dia tidak menanggung akibatnya. Wallohu a'lam.

Sumber: 10 FAEDAH TENTANG QOWA'ID FIQHIYYAH oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi

Thursday, 9 November 2017

KADANG BISA LEBIH UNGGUL

17:21 0
KADANG BISA LEBIH UNGGUL
KADANG BISA LEBIH UNGGUL

KADANG BISA LEBIH UNGGUL - Kaidah Fiqh menyatakan:

قَدْ يَعْرِضُ لِلْمَفْضُوْلِ مَا يَكُوْنُ أَفْضَلَ مِنَ الْفَاضِلِ

Kadang-kadang suatu amalan yang kurang afdhol bisa mengungguli amalan yang afdhol.

Hal ini karena beberapa sebab, di antaranya:
1. Apabila amalan yang kurang afdhol itu diperintahkan dalam waktu tertentu. Seperti membaca al-Qur'an dan menjawab adzan ketika dikumandangkan. Pada asalnya membaca al-Qur'an lebih utama namun menjawab adzan saat itu lebih utama karena akan terlewatkan. 
2. Apabila amalan yang kurang afdhol tadi mengandung kemaslahatan yang tidak ada dalam amalan yang afdhol, seperti untuk kemaslahatan persatuan hati. 
3. Apabila dalam amalan yang kurang afdhol tadi lebih khusyu' bagi hati, sebagaimana ucapan Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله tatkala ditanya tentang sebagian amalan: "Lihatlah apa yang lebih khusyu'/tenang bagi hatimu maka lakukanlah." (Lihat al-Qowa'id al-Fiqhiyyah, Abdurrahman as-Sa'di hlm. 22) 


Sumber: 10 FAEDAH TENTANG QOWA'ID FIQHIYYAH oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi

KAPAN BOLEH DIUNDI

17:20 0
KAPAN BOLEH DIUNDI
KAPAN BOLEH DIUNDI

KAPAN BOLEH DIUNDI - Undian memang cara yang diperbolehkan dalam syari'at Islam, berdasarkan al-Qur'an,1 hadits dan perbuatan sahabat. (ath-Thuruq al-Hukmiyyah, Ibnul Qoyyim 2/743)

Namun kapankah undian ini di lakukan? Jawabannya: Ketika masing-masing kedua belah pihak memiliki hak yang sama dan tidak ada penguat yang dimiliki oleh salah satunya. Contoh, apabila ada dua orang yang ingin maju untuk menjadi imam sholat atau adzan dan keduanya memiliki sifat yang sama tanpa ada keunggulan salah satu dari keduanya, maka di sini disyari'atkan untuk diundi.

Sumber: 10 FAEDAH TENTANG QOWA'ID FIQHIYYAH oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi

Wednesday, 8 November 2017

ANTARA MASLAHAT DAN MADHOROT

23:12 0
ANTARA MASLAHAT DAN MADHOROT
ANTARA MASLAHAT DAN MADHOROT

ANTARA MASLAHAT DAN MADHOROTAl-Hafizh Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: "Apabila seseorang merasa kesulitan tentang hukum suatu hal, apakah mubah ataukah haram, maka hendaklah dia melihat kepada kerusakan dan hasil yang ditimbulkannya. 

Apabila sesuatu tersebut mengandung kerusakan yang lebih besar, maka sangatlah mustahil bila syari'at Islam memerintahkan atau memperbolehkannya bahkan keharamannya merupakan sesuatu yang pasti. Lebih-lebih apabila hal tersebut menjurus kepada kemurkaan Alloh عزّوجلّ dan Rosul-Nya, seorang yang cerdik tidak akan ragu akan keharamannya."(Madarijus Salikin (1/496)


Sumber: 10 FAEDAH TENTANG QOWA'ID FIQHIYYAH oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi

KAPAN RAGU-RAGU DIABAIKAN

22:45 0
KAPAN RAGU-RAGU DIABAIKAN
KAPAN RAGU-RAGU DIABAIKAN

KAPAN RAGU-RAGU DIABAIKANRagu-ragu diabaikan dalam tiga keadaan:

1. Apabila ragu hadir setelah melakukan ibadah. 
2. Apabila sering sekali ragu-ragu (was-was). 
3. Apabila sekedar wahm (ragu-ragu kecil/sedikit). 

Tiga keadaan ini telah dikumpulkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin رحمه الله dalam Mandhumah Ushul Fiqih-nya hlm. 153

وَالـــــــــــــــــــــشَّــــــــــــــــكُّ بَـــــعْدَ الْـــــــــــــــــــــفِعْلِ لاَ يُـــــــــــــــــــؤَثِّرُ

وَهَكَـــــــــذَا إِذَا الـــــــــــــــــــــــشُّــــــــــكُوْكُ تَــــــــــــكْثُرُ

أَوْتَكُ وَهْـمًا مِــــثْـــــــــــلُ وَسْـــــــــــــــــــــــــــــــوَاسِ فَدَعْ

لِكُلِّ وَسْـــــــــوَاسِ يَـــــــــــــجِيْ بِـــــــــــــــــــــــــــــهِ لُـــــــــكَعْ

Dan ragu-ragu usai ibadah tidak berpengaruh 
Demikian juga apabila banyak ragu.
Atau hanya sedikit ragu seperti was-was
Maka tinggalkan segala was-was setan.


Sumber: 10 FAEDAH TENTANG QOWA'ID FIQHIYYAH oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi

KEMBALIKAN KEPADA URF (KEBIASAAN MANUSIA)

22:41 0
KEMBALIKAN KEPADA URF (KEBIASAAN MANUSIA)
KEMBALIKAN KEPADA URF (KEBIASAAN MANUSIA)

KEMBALIKAN KEPADA URF (KEBIASAAN MANUSIA) - Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: "Setiap nama yang tidak ada batas tertentu dalam bahasa maupun syari'at maka dikembalikan kepada urf." Oleh karenanya, jarak yang dianggap manusia bahwa hal itu adalah safar, maka itulah safar yang dimaksud oleh syari'at. (Majmu' Fatawa 24/40-41)

Contoh penerapan kaidah ini banyak sekali, seperti jarak safar, batas lamanya haid, ukuran gerakan terlarang dalam sholat dan lain sebagainya.

Sumber: 10 FAEDAH TENTANG QOWA'ID FIQHIYYAH oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi

FIQIH KEMUDAHAN

22:39 0
FIQIH KEMUDAHAN
FIQIH KEMUDAHAN

FIQIH KEMUDAHAN - Sesungguhnya syari'at Islam ini dibangun di atas kemudahan. Banyak sekali dalil-dalil yang mendasari hal ini, bahkan Imam asy-Syathibi رحمه الله mengatakan: "Dalil-dalil tentang kemudahan bagi umat ini telah mencapai derajat yang pasti." (al-Muwafaqot, 1/231)

Namun, perlu diperhatikan bahwa maksud kaidah ini bukan berarti kita menyepelekan sebagian syari'at Islam dan mencari-cari ketergelinciran atau pendapat lemah sebagian ulama agar sesuai dengan hawa nafsu kita! Zaman dahulu sebagian ulama mengatakan: "Apabila engkau mengambil setiap ketergelinciran ulama, maka telah berkumpul pada dirimu seluruh kejelekan." (Jami' Bayanil Ilmi wa Fadhlihi Ibnu Abdil Barr 2/91-92) Wallohul Musta'an.

Sumber: 10 FAEDAH TENTANG QOWA'ID FIQHIYYAH oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi

BILA KAIDAH MELAWAN DALIL

22:37 0
BILA KAIDAH MELAWAN DALIL
BILA KAIDAH MELAWAN DALIL

BILA KAIDAH MELAWAN DALILAl-Hafizh Ibnu Qoyyim al-Jauziyah رحمه الله pernah mengatakan sebuah ucapan yang patut dicatat dengan tinta emas:

أَمَّ أَنْ نُقَعِّدَ قَاعِدَةً وَنَقُولُ: هَذَا هُوَ الأَصْلُ ثُـمَّ نَرُدُّ السُّنَّةَ لِأَجْلِ تِلْكَ الْقَاعِدَةِ، فَلَعَمْرَ اللهِ لَهـَدْمُ أَلْفِ قَاعِدَةٍ لَـمْ يُؤَصِّلْهَا اللهُ وَرَسُولُهُ أَفْرَضُ عَلَيْنَا مِنْ رَدِّ حَدِيْثٍ وَاحِدٍ 

Apabila kita membuat suatu kaidah lalu kita katakan: "Inilah patokannya" kemudian kita menolak sunnah Nabi صلي الله عليه وسلم apabila bertentangan dengan kaidah yang kita buat tersebut. Sungguh, jika kita menolak seribu kaidah yang tidak diajarkan Alloh عزّوجلّ dan Rosul-Nya adalah lebih baik daripada menolak satu hadits!!." (I’lam Muwaqqi'in 4/172)

Sumber: 10 FAEDAH TENTANG QOWA'ID FIQHIYYAH oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi

Monday, 6 November 2017

Kaidah-kaidah Tentang Nifas

18:58 0
Kaidah-kaidah Tentang Nifas
Kaidah-kaidah Tentang Nifas

Kaidah-kaidah Tentang Nifas - Nifas adalah darah yang keluar setelah kosongnya rahim (setelah melahirkan, pen.)

Kaidah Dalam Nifas:

- Keluarnya darah yang disertai rasa sakit karena melahirkan (mulas) sehari atau dua hari sebelum melahirkan, maka itu adalah nifas. Seorang wanita pada kondisi ini harus meninggalkan shalat dan puasa. 

- Keluarnya cairan putih baik dengan adanya rasa mulas atau tidak, maka itu bukanlah nifas, namun hendaknya ia berwudhu, karena cairan tersebut termasuk dalam hukum shufrah dan kudrah. Jika ia tidak mampu berwudhu dan bertayamum, maka hendaklah ia mendirikan shalat sesuai dengan kemampuannya berdasarkan sabda Nabi صلي الله عليه وسلم, 

صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

"Shalatlah kamu dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, dan jika tidak mampu maka dengan berbaring." (HR. al-Bukhari) 

⦁ Jika janin seorang ibu mengalami keguguran: 
a. Jika janin itu telah berbentuk (berumur lebih dari 81 hari), maka ia adalah nifas. 
b. Jika janin belum berbentuk (kurang dari 81 hari), maka itu merupakan darah yang rusak (kotor) dan masuk dalam hukum istihadhah. 
c. Jika janin seorang ibu mengalami keguguran dan masa kehamilannya telah mencapai (81 hari), akan tetapi janin itu telah mati ketika dalam perut, misalnya sejak dua minggu sebelumnya, maka ia adalah darah rusak (kotor) dan masuk dalam hukum istihadhah. 

Yang menjadi patokan adalah terbentuknya janin. Dan maksudnya adalah jika telah kelihatan tangan atau bentuk kepala atau tangan pada darah yang beku yang keluar dari rahim seorang wanita.

Peringatan: 
Sebagian wanita meninggalkan shalat dan puasa hanya dengan sebab keguguran, padahal itu terjadi pada bulan pertama atau kedua atau pada awal bulan ketiga. Ini tidak dibolehkan, dan perincian di atas telah menjelaskan masalah itu. 

=================== 
Kapankah Seorang Wanita yang Nifas itu Suci?

⦁ Jika ia telah melewati masa lamanya nifas, yaitu 40 hari. Lebih dari itu adalah istihadhah. 
⦁ Jikalau ia sudah suci sebelum empat puluh hari, maka hendaknya dia mandi, mendirikan shalat dan berpuasa. 
⦁ Jika ia suci sebelum empat puluh hari, lalu ia mandi, shalat dan puasa, kemudian keluar haidh lagi dan belum genap empat puluh hari, maka darah tersebut adalah nifas, sedangkan puasa yang ia lakukan sebelumnya tetap sah. 
⦁ Jika ia suci sebelum empat puluh hari, lalu mandi dan mendirikan shalat, kemudian keluar kudrah dan shufrah dan belum genap empat puluh hari, maka masuk dalam hukum istihadhah. 
⦁ Jika ia melihat cairah shufrah dan kudrah yang bersambung dengan darah nifas, dan belum genap empat puluh hari, maka ia adalah nifas. 
⦁ Jika setelah empat puluh hari darah keluar kembali secara kebetulan dan bertepatan dengan masa haidh, sedangkan warna dan aroma darahnya sama seperti darah haidh, maka dihukumi haidh. Biasanya orang awam menyebutnya sebagai saudaranya nifas. 

Kapankah Waktu Suci Seorang Wanita itu Dikatakan Sudah Empat Puluh Hari? 

Yaitu dengan menyempurnakan empat puluh hari siang dan malamnya, misalnya seorang wanita melahirkan pada jam 12 siang waktu Dhuhur, maka setelah empat puluh harinya pada jam 12 siang waktu Dzuhur, berarti ia telah menyempurnakan empat puluh hari dan ia dalam keadaan suci.

Kaidah-kaidah dan Permasalahan Tentang Istihadhah

18:45 0
Kaidah-kaidah dan Permasalahan Tentang Istihadhah
Kaidah-kaidah dan Permasalahan Tentang Istihadhah

Kaidah-kaidah dan Permasalahan Tentang IstihadhahIstihadhah adalah darah yang keluar di luar kebiasaannya atau darah yang datang secara tidak disangka-sangka. 
Tanya: Apa yang seharusnya dilakukan oleh wanita yang beristihadhah? 

Jawab: Hendaknya dia berwudhu setiap akan mendirikan shalat, dan mencuci bagian yang terkena darah, sebagaimana dijelaskan sebelumnya. 

=========== 
⦁ Wanita yang menyusui, jika mengeluarkan darah yang sedikit, dan kurang dari sehari semalam, maka ini adalah istihadhah. 
⦁ Jika seorang wanita mengonsumsi pil pencegah kehamilan, lalu pada suatu hari ia lupa meminumnya, kemudian keluar darah kurang dari sehari semalam atau shufrah (cairan kuning) atau kudrah (cairan keruh), lalu ia melanjutkan meminum pil tersebut, sehingga darah berhenti, maka ini adalah istihadhah. Adapun jika darah keluar terus-menerus selama sehari semalam atau lebih, maka ini adalah haidh. 
⦁ Jika ia meminum pil pencegah kehamilan, dan setelah seminggu atau sepuluh hari kemudian ia meninggalkannya, lalu keluar darah, maka ini adalah haidh. 
⦁ Jika ia meminum pil pencegah kehamilan atau pil pencegah haidh ketika sedang Haji atau Umrah atau berpuasa, dan sebab panas yang sangat berlebihan dan semisalnya, seperti berjalan kaki atau bekerja berat, lalu keluar shufrah atau kudrah, maka ini adalah istihadhah. 
⦁ Jika seorang wanita bekerja keras atau mengangkat sesuatu yang berat, mengendarai mobil secara tidak nyaman di tengah jalan tidak rata (berlobang, naik turun), atau memakan daun-daunan sebagai obat, kemudian keluar darah bukan pada waktu haidh, dan warna dan aromanya berbeda dengan darah haidh, maka ini adalah istihadhah. 

============= 
Catatan yang sering ditanyakan:

1. Cairan keputihan atau cairan kekuningan (pektay) yang keluar dari rahim di selain waktu haidh adalah suci (seorang wanita tidak harus berwudhu dan mencuci bekas bercaknya), cairan tersebut sama halnya dengan cairan yang keluar dari mata, telinga, dan hidung. Ini sering disebut oleh para ahli Fiqih dengan ruthubatu farjil mar'ah (kelembaban kemaluan wanita), dan secara umum wanita tidak akan terlepas dari hal ini. 

Cairan ini bukan seperti shufrah dan kudrah yang bersambung dengan haidh pada hari pertama atau hari terakhir dari masa haidh yang telah dijelaskan sebelumnya. Sedangkan menurut keterangan medis [bahwa al-ifrazat al-baidha' (keputihan), adalah masalah yang sangat alami dan terkadang lebih cenderung berwarna kekuningan pada saat ter-tentu. Dan ia merupakan cairan yang keluar dari leher rahim atau liang peranakan (vagina) yang berfungsi sangat penting bagi kehidupan yaitu melembabkan/ melicinkan alat kelamin bagian dalam maupun luar, sebagaimana juga ia berfungsi membersihkan sebagian kotoran, serta menjaga tingkat kemasaman tertentu yang dapat mencegah terjadinya radang (infeksi) dan masuknya bakteri dan lain-lain]. (Dinukil dari kitab Tasaulat Hairah, hal: 164) 

2. Angin yang keluar dari kemaluan wanita tidak membatalkan wudhu.

Thursday, 2 November 2017

Lihat Cara Berfikirmu!

17:13 0
Lihat Cara Berfikirmu!
KOMENTAR MU MENENTUKAN NASIBMU, 
Bukan Nasib Orang yang Kamu Komentari

KOMENTAR MU MENENTUKAN NASIB MU, bukan nasib orang yang kamu komentari - Zaman semakin modern, bicara dengan orang lain tidak harus lagi saling ketemuan terus mengobrol, berbicara face to face. Dulu baru telephon yang hanya bisa didengar lewat telinga, teknologi semakin berkembang akhirnya semua anggota badan bisa terlihat ketika berbicara meskipun jarak jauh memisahkan. Media sosial menjamur dari kota hingga ke pelosok-pelosok ujung. Buat status dan saling balas komentar kadang menerjang norma-norma yang seharusnya dijaga, entah lupa atau sengaja, yang akhirnya berimbas kepada pelanggaran pasal tidak menyenangkan. Ah,....daripada panjang lebar, berikut ini Admin share dialog inspiratif yang patut kita renungkan dan seyogyanya kita ambil pelajaran untuk kebaikan hidup kita. Ubahlah cara berpikirmu maka Nasibmu akan segera berubah.
******
Seorang murid bertanya pada gurunya;

"Guru kenapa ya hidup ini selalu banyak masalah?"

Guru:  "Bukan hidup yang banyak masalah tapi pikiranmulah yang bermasalah...?"

"Kamu selalu berprasangka buruk pada apa saja dan siapa saja, itulah sebenarnya masalahnya"

Murid: "Tapi faktanya aku selalu mendapat masalah dalam hidupku"

Guru:  " Ya itu karena pikiranmu bermasalah",  Setiap kejadian dalam hidup itu netral pikiran kamulah yang menilai itu "bermasalah" atau "menguntungkan".

Murid : "Maksudnya?"

Guru :  "Misalnya apakah Hujan itu bermasalah atau malah menguntungkan".

Murid : "Bagiku bermasalah, karena kalau aku naik motor dan lupa bawa jas hujan pasti basah kuyup"

Guru :  "Lantas kalau hujan bagi tukang Baso dan Tukang Payung apakah itu bermasalah?"

Murid : " Tentu saja tidak", bagi mereka malah menguntungkan.

Guru :  "yang jadi masalah Hujannya atau orangnya...?

Ingatlah selalu

Ketika kita selalu berprasangka baik/Husnudzon  maka hal-hal baiklah yang akan kita jumpai di sepanjang waktu kehidupan kita.

dan ketika kita selalu berprasangka buruk/Suudzon maka hal-hal buruklah yang akan selalu kita jumpai setiap hari.

Jadi jangan mengeluh jika kita termasuk orang-orang yang selalu merasakan pengalaman yang negatif dan tidak menyenangkan di sepanjang hidup kita.

Karena kita dan pikiran kita sendirilah penyebabnya.

Bisa jadi ketika kamu membaca tulisan ini sebenarnya Tuhan sedang mencoba membantu kamu untuk memperbaiki cara berpikirmu, agar hidupmu tidak selalu dirundung masalah.

*Jadi mari kita ubah cara berpikir kita saat ini juga agar kita tidak lagi menjumpai pengalaman negatif dan tidak menyenangkan*.

Nah sekarang mari kita cek cara berpikir  kita masing2 yang tercermin dari komentar-komentar kita setiap hari :

1.  *Melihat rekan kerjanya naik jabatan*
*Orang postif* :  Saya akan belajar dari dia.
*Orang negatif:*  Pasti dia  pinter banget cari muka

2.  *Melihat orang pergi Haji*
*Orang positif* : Ya Allah semoga kelak aku bisa seperti dia....
*Orang negatif*:  Hajinya paling cuma buat pamer-pamer doang.

3. *Membaca status di WA*
*Orang Positif* : terimakasih untuk infonya izin share ya....
*Orang negatif*:  ah postingnya sudah basi tau....saya sudah pernah baca kok.

4. *Membaca status humor di WA*
*Orang positif:* terimakasih bisa membuat saya tersenyum pagi ini...
*Orang negatif*: Garing ! tidak lucu ! Preet !

5.  *Jika turun hujan*
*Orang Positif* : Alhamdullilah udaranya jadi sejuk...
*Orang Negatif:*  Ah kalo pas lagi perlu terang malah hujan, Dasar Sial !!

6.  *Dapat Gaji*
*Orang positif* :  Alhamdullilah bisa buat bayar-bayar kebutuhan
*Orang Negatif:*  Percuma gajian juga gak cukup buat bayar2 kebutuhan

7.  *Punya Suami*
*Orang Positif*: Alhamdullilah meskipun gajinya tidak besar tapi suamiku baik dan penuh perhatian.
*Orang negatif*:  Percuma punya suami baik, kalo gak bisa cukupin kebutuhan rumah tangga.

8. *Melihat orang berpakaian Sederhana*
*Orang positif* :  duh dia orang yang sederhana sekali ya meskipun pejabat.
*Orang Negatif*:  Pejabat Tinggi  tapi penampilannya kok kampungan gitu sih.

9. *Punya Motor*
*Orang Negatif* : Begini neh kalo naek motor,  kalo pas ujan basah kuyup gak kayak orang yang punya mobil.

*Orang Positif*:  Alhamdullilah punya motor, enaknya naik motor itu kalo pas panas gak kehujanan dan kalo pas hujan gak kepanasan.

10. *Melihat posting gambar po*no*
*Orang Negatif* : Begini neh yang aku suka. Kirim lagi ya...

*Orang Positif*:  Astaghfirullahal adziim. Langsung dihapus semoga yang memposting menyesal dan mohon ampunan Alloh.

11 *Membaca postingan ini*
*Orang Positif:* Terimakasih sudah diingatkan, mohon izin sharing ya biar manfaat bagi yang lain.

*Orang Negatif:*  "Gak mau baca" karena  menyindir dan menyinggung perasaan.

Tipe yang manakah kita....?
akan menentukan nasib kita.

*Mau ubah nasib.....* ?
Segera ubah cara berpikir kita dan komentar kita setiap hari. *Rubahlah Akhlaq KITA*

Pengalaman bertemu dengan orang-orang berpikir positif dan negatif.

*Semoga bermanfaat dari kami yang Dhoif (lemah)*

Sumber: Group WA