April 2018 - CUC

Thursday, 12 April 2018

Sungguh Durhaka Anak yang Mendoakan Orang Tuanya Sehari Hanya 5 Kali !

02:43 0
Sungguh Durhaka Anak yang Mendoakan Orang Tuanya Sehari Hanya 5 Kali !
Sungguh Durhaka Anak yang Mendoakan Orang Tuanya Sehari Hanya 5 Kali !

Berikut ini ada kisah singkat yang sangat menarik dari sebuah group Wahtsapp. Kisah dari orang yang ikut sebuah kajian di salah satu masjid. Begini kisahnya::

Barusanajian di Masjid Burj Al Bakrie, pengisi kajian Ustad Arifin Nugroho.

Saya pernah datang ke Kairo - Mesir. Pada saat sholat dhuhur ada kajian dari Syaikh yang mengisi kajian sambil berjualan buku. Di akhir kajian, saya sempatkan utk membeli buku yang di jual oleh Syaikh tadi. Judul bukunya "Melipat gandakan keuntungan dengan berbakti kepada orangtua."

Dalam satu bab di buku tersebut di bahas mengenai "Adab kepada orangtua". Dimana dikatakan bahwa, "Sungguh durhaka seorang anak yang hanya mendoakan kedua orangtuanya hanya 5 kali dalam satu hari."

Saya bingung, kenapa kita udah do'ain orangtua sehari 5 kali, kok masih di bilang anak durhaka ?

Saya coba balik lagi ke masjid tempat saya membeli buku tersebut, saya tanyakan kepada pengurus kajian di masjid itu, di mana saya bisa menemui Syaikh yang kemarin memberi kajian di masjid ini.

Dan setelah saya dapatkan nomor ponselnya, saya hubungi dan kami janjian untuk bertemu di sebuah masjid yang kebetulan beliau sedang mengisi kajian juga.

Selesai kajian, saya bertemu dengan beliau, dan saya bertanya, kenapa kok seorang anak yang sudah mendo'akan kedua orangtuanya 5 kali sehari, masih di katakan anak yang durhaka?

Syaikh itu kemudian meminta kepada saya untuk membacakan do'a untuk kedua orangtua. Dan saya bacakan do'a yang biasa saya baca setelah sholat.

"Rabighfirli waliwali dayya" stop kata si Syaikh. Ulangi lagi.

"Rabighfirli waliwali dayya" stop, ulangi lagi.

"Rabighfirli waliwali dayya" stop, ulangi lagi. Terus saya ulangi sampai sepuluh kali.

Kemudian si Syaikh bertanya kepada saya, "Apakah kamu capek?"
"Tidak Syaikh".
"Apakah kamu sampai berkeringat?"
"Tidak Syaikh".
"Apakah kamu sampai mengeluarkan uang membaca do'a seperti yang kamu baca tadi?"
"Kembali saya jawab tidak Syaikh."
"Kamu gak perlu mengeluarkan uang, kamu gak perlu mengeluarkan keringat, kamu gak perlu mengeluarkan tenaga yang besar hanya untuk membacakan do'a ampunan kepada kedua orangtuamu. Tapi kenapa kamu hanya bisa memintakan ampunan buat orangtuamu sehari semalam cuma 5 kali. Padahal sejak kamu masih berada dalam perut ibumu, berapa banyak keringatnya yang sudah ibumu keluarkan karena beratnya menanggung kamu yang berada di perutnya. Betapa sakitnya ibumu saat melahirkan kamu, berapa besar biaya yang sudah di keluarkan kedua orangtuamu untuk membesarkan kamu. Dan sebagai balasannya, kamu hanya bisa mendo'akan kedua orangtua mu cuma 5 kali dalam sehari semalam? Padahal satu kali saat kamu membacakan do'a untuk kedua orangtuamu, *Rabighfirli waliwali dayya*, saat itu juga satu dosa dari orang tuamu dihapuskan ALLAH."

Dan ada sebuah kisah, dimana ada seorang orangtua yang saat dia dimakamkan penuh dengan dosa, tiba-tiba, saat orangtua tersebut sedang kesusahan di alam kuburnya, ALLAH berikan keringan dan ALLAH berikan kemuliaan. Sampai2 si ahlul kubur bingung, kenapa dia di angkat derajatnya seperti ini? Kemudian jawab malaikat, *"Ini berkat do'a anak anak mu"*.

Masya Allah. Sekarang, apakah kita masih berat untuk membacakan do'a untuk kedua orangtua kita sehari lebih dari 50 kali?

Renungkan lah (Sumber: Group Whatsapp)

Thursday, 5 April 2018

UMAT ISLAM TIDAK LAGI PEMAAF...? Nasehat Untuk Para Penista Agama Islam

05:02 0
UMAT ISLAM TIDAK LAGI PEMAAF...? Nasehat Untuk Para Penista Agama Islam
UMAT ISLAM TIDAK LAGI PEMAAF...? Nasehat Untuk Para Penista Agama Islam

Sebagian kaum muslimin pada saat ini ada yang bertanya, kenapa umat Islam tidak bersikap pemaaf pada saat sekarang ini sebagaimana dahulunya?
Dahulu nabi dihina, dicaci, dilempar dengan batu namun beliau memaafkan orang-orang yang berlaku demikian kepada beliau, namun sekarang kita lihat umat Islam susah memaafkan orang yang salah.

Jawaban untuk pertanyaan tersebut:
sikap pemaaf memang merupakan akhlaq Rasulullah saw, apapun yang ditujukan kepada beliau dari keburukan orang lain bahkan pelecehan sekalipun, beliau sikapi dengan penuh kemaafan.

Diantara kisah luar biasa yang sampai kepada kita dari kemaafan Rasulullah saw adalah kisah dakwah ke Thaif.
Rasulullah saw mengatakan kepada Aisyah bahwa apa yang beliau dapati di Thaif merupakan hal yang sangat berat beliau hadapi sebagaimana perang Uhud sampai-sampai malaikat jibril menawarkan agar malaikat gunung menimpakan gunung ke penduduk Thaif akibat perbuatan mereka kepada nabi namun Nabi Muhammad saw malah memaafkan mereka dan mendoakan kebaikan bagi mereka.
Namun apakah selalu seperti itu sikap nabi Muhammad saw?

Dalam sirah kita akan dapati bahwa Rasulullah saw mengutus beberapa orang ke berbagai pimpinan negara untuk berdakwah kepada mereka.
Diantara utusan tersebut ada yang diutus kepada Kisra Persia, akan tetapi ketika sang kisra membaca surat yang dikirim kepadanya maka sang kisra kemudian merobek-robek surat tersebut.

Pertanyaan yang timbul dalam diri kita, apakah yang akan dilakukan oleh Rasulullah saw ketika mendapatkan berita perobekan tersebut?

Kalaulah dipakai kaedah kemaafan maka kita akan dapati Rasulullah saw akan memaafkan kisra Persia karena hanya sebuah surat yang dirobek dan tidak ada seorang muslim yang dihina atau al-Quran yang dilecehkan.

Namun yang terjadi sebaliknya, Rasulullah saw sangat marah dengan berita tersebut dan beliau berdoa :


ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻣَﺰِّﻕْ ﻣُﻠْﻜَﻪُ

Artinya : “ Ya Allah, hancurkanlah dan cerai beraikanlah kekuasaannya”

Allah swt mengabulkan doa nabi tersebut, pada masa pemerintahan Umar bin Khattab semua wilayah yang pernah berada di bawah kekuasaan kisra Persia, tidak ada satupun yang tertinggal semua sudah lepas dari kekuasaan mereka.

Apakah yang membedakan antara dua kisah diatas?

Jawabannya ada pada hadits Aisyah r.a:


ﻭَﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﺍﻧْﺘَﻘَﻢَ ﻟِﻨَﻔْﺴِﻪِ ﻓِﻲ ﺷَﻲْﺀٍ ﻳُﺆْﺗَﻰ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻗَﻂُّ، ﺣَﺘَّﻰ ﺗُﻨْﺘَﻬَﻚَ ﺣُﺮُﻣَﺎﺕُ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﻓَﻴَﻨْﺘَﻘِﻢُ ﻟِﻠَّﻪِ

Artinya : *“Demi Allah, Tidaklah Rasulullah saw membalas sesuatu yang ditujukan kepada dirinya kecuali ketika kehormatan agama Allah SWT dilanggar maka beliau pun marah semata-mata karena Allah”* (HR al-Bukhari).

Bukalah lembaran sirah Rasul maka kita akan dapati kemaafan diberikan Rasul untuk sesuatu yang berkaitan dengan diri beliau, baik hinaan, celaan, lemparan batu dan lain sebagainya, akan tetapi ketika menyangkut kehormatan agama maka beliau mengajarkan kepada kita untuk menunjukkan kemarahan supaya tidak ada seorang pun yang mencoba bertidak semena-mena terhadap agama ini.

->Kisah lain akan kita dapati pada kisah Yahudi bani Qainuqa, yang terkenal sebagai pandai emas.
Suatu hari seorang muslimah datang ke pasar bani Qainuqa untuk membeli atau memperbaiki emasnya, namun sang penjual mengikat jilbab muslimah tersebut sehingga ketika ia berdiri maka nampaklah aurat bagian belakangnya.
Seorang pemuda muslim yang lewat berusaha membantu sang muslimah akan tetapi ia dikeroyok oleh orang-orang Yahudi bani Qainuqa’ yang ada di pasar tersebut. Ketika sampai berita itu kepada Rasulullah saw maka apakah yang akan beliau lakukan?
Kalaulah teori kemaafan yang dipakai, niscaya Rasul akan memaafkan yahudi bani Qainuqa dan mengadakan negosiasi dengan mereka.

Akan tetapi ternyata yang beliau lakukan adalah sebaliknya, beliau perintahkan semua sahabat untuk mengepung perkampungan yahudi bani Qainuqa dengan pilihan: perang atau mereka keluar dari Madinah dalam keadaan terusir.

Pengepungan itu terjadi selama 15 hari, lalu mereka memilih untuk keluar dari Madinah dalam keadaan terusir dan tidak boleh kembali lagi ke Madinah.
Cukuplah kisah-kisah diatas sebagai jawaban bagi kita, kenapa umat Islam tidak memaafkan pelecehan yang dilakukan terhadap al-Quran dan agama mereka, sebab nabi yang mengajarkan kita untuk memaafkan kesalahan orang lain maka beliau juga yang mengajarkan kepada kita untuk bersikap tegas kepada penista agama.

Kata kuncinya adalah; kalau pelecehan dan penghinaan itu kepada DIRI beliau maka beliau akan meMAAFkan sepenuh HATI tanpa perlu diminta.
Akan tetapi kalaulah PELECEHAN itu dalam masalah AGAMA, maka beliau menunjukkan keMARAHannya. 

Seakan-akan pesan kepada kita semua :
“Kalaulah penghinaan itu kepada diri kita, maka seribu maaf akan kita berikan. Tapi kalaulah penghinaan itu kepada agama, maka seribu nyawa akan kami siapkan"

(Sumber: UMAT ISLAM TIDAK LAGI PEMAAF...? Oleh: Ust. DR. Urwatul Wusqo.LC,MA/Group WhatsApp)