May 2017 - CUC

Wednesday, 31 May 2017

Hukum Orang yang Menghina Wanita yang Memakai Penutup Aaurat (Jilbab)

23:20 0
Hukum Orang yang Menghina Wanita yang Memakai Penutup Aaurat (Jilbab)
Hukum Orang yang Menghina 
Wanita yang Memakai Penutup Aurat (Jilbab)

Pertanyaan: 
Apa hukum orang yang menghina seorang wanita yang memakai penutup aurat yang sesuai dengan ajaran Islam (jilbab), dan mengatakannya bahwa wanita tersebut adalah jin ifrit atau kemah bergerak, dan perkataan-perkataan hinaan lainnya?
photo: pixabay.com
Jawaban: 
Orang yang menghina seorang Muslimah atau seorang Muslim karena ia berpegang teguh dengan syariat Islam, maka ia dihukumi kafir, baik penghinaan tersebut terhadap seorang wanita yang menutup aurat sesuai dengan ajaran Islam maupun dalam masalah lainnya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar Radhiyallahu `Anhuma, ia berkata:   
Ada seorang laki-laki berkata ketika perang Tabuk dalam sebuah majelis: "Aku tidak melihat seperti para qurra' (para pembaca Al-Quran) ini yang paling tamak dalam mengisi perutnya, dan yang paling pendusta lisannya, serta yang paling penakut ketika berperang". Lantas ada seseorang berkata: "Kamu telah berdusta bahkan kamu adalah Munafiq. Sungguh akan aku beritahukan hal ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam". 
Akhirnya berita tersebut sampai kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan ayat Al-Quran turun. Kemudian Abdullah bin Umar berkata : 
"Aku melihatnya bergantung di boncengan unta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, terseret di bebatuan (batu mengenai dan melukainya), dan ia berkata: "Wahai Rasulullah sesungguhnya kami sekedar bercanda dan bermain-main saja". Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (dengan firman Allah, yang maknanya):   "Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" 
Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripadamu (lantaran mereka bertaubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.   

Beliau menjadikan hinaannya terhadap kaum Mukminin merupakan hinaan terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
========================
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Ketua                     : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil Ketua Komite : Abdurrazzaq `Afifi
Anggota                 : Abdullah bin Ghadyan
Anggota               : Abdullah bin Qu'ud

Ziarah Kuburan Orang-orang Saleh serta Menyembelih Hewan dan Berdoa kepada Mereka

23:11 0
Ziarah Kuburan Orang-orang Saleh serta Menyembelih Hewan dan Berdoa kepada Mereka
Ziarah Kuburan Orang-orang Saleh 
Serta Menyembelih Hewan dan Berdoa kepada Mereka

Soal: Apa hukum ziarah kuburan orang-orang saleh di mana seseorang pergi ke kuburan orang saleh disertai dengan keluarga dan kerabatnya termasuk di antara mereka terdapat para wanita dengan membawa kambing untuk disembelih di dekat kuburan. Kemudian mereka menghidangkan makanan dan mereka pun makan dan minum serta berdiam di kuburan ini sehari atau setengah hari, dan terkadang sampai pagi, padahal kuburan ini terletak jauh dari rumah, kurang lebih sekitar 20 km. Usai ziarah, mereka membawa sebagian daging ke teman-teman atau kerabat-kerabat mereka di tempat lain. Mereka beranggapan bahwa daging ini sebagai hadiah atau sedekah. Sebagaimana diketahui, mereka menyebut nama Allah ketika menyembelih hewan tersebut dan kami mendengar dari sebagian orang-orang mengatakan bahwasanya daging tersebut persis seperti daging babi, yakni hukumnya haram menurut syari`at, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman:   Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sedangkan perjalanan ini dari awal sampai akhir tidaklah dimaksudkan melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berziarah ke kuburan orang saleh ini, berdoa di sisinya, serta meminta berkah dan bertawasul dengannya kepada Allah. Jika ada dua orang bertikai mereka bersumpah di atas kuburan orang saleh ini. Di samping itu mereka juga mengadakan berbagai ritual maulid setiap tahun di kuburan orang saleh ini. Dan sudah menjadi adat kami apabila salah seorang dari kami sakit, ia pergi ke kuburan orang-orang saleh, dan apabila salah seorang dari kami kesurupan atau terkena penyakit keras, maka kerabat-kerabatnya pergi bersamanya ke kuburan orang saleh. Terkadang ia sembuh dari penyakitnya atau lepas dari kesurupan dengan sebab ziarah ke kuburan orang saleh tersebut. Apa pandangan Islam tentang hal itu? Mohon Anda menjelaskannya kepada kami.

Jawaban: 

Pertama: Tidak boleh bersusah-payah mengadakan perjalanan untuk ziarah kubur, berdasarkan sabda Nabi Muhammad `Alaihi ash Shalatu wa as Salam:
"Janganlah kalian bersusah payah melakukan perjalanan jauh kecuali menuju tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjid Haram , dan Masjid Aqsha"
Kedua: Ziarah kubur disyariatkan bagi kaum pria bukan wanita jika masih di daerah itu - yakni tanpa bersusah payah melakukan perjalanan - dengan tujuan untuk mengambil pelajaran dan berdoa bagi mereka jika mereka kaum Muslimin, berdasarkan sabda Nabi Muhammad `Alaihi ash Shalatu wa as Salam:
"Aku dahulu melarang kalian untuk ziarah kubur, maka sekarang lakukanlah ziarah karena hal itu mengingatkan kalian terhadap akhirat"
Juga demi meneladani Nabi Shalawatullah wa Salamuhu `Alaihi saat berziarah kepada kaum Muslimin yang dikebumikan di pemakaman al-Baqi` dan para syuhada' di Uhud dengan memberi salam serta mendoakan mereka.

Ketiga: Berdoa kepada orang-orang mati, meminta bantuan atau pertolongan kepada mereka, menyembelih untuk mereka, berkeyakinan bahwa mereka bisa memberikan manfaat atau menolak bahaya, menyembuhkan penyakit, mengembalikan orang hilang dan yang semisalnya merupakan syirik besar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam.

Keempat: Penyembelihan untuk Allah yang dilakukan di kuburan untuk mendapatkan berkah ahli kubur, berdoa di kuburan, berlama-lama tinggal di kuburan, berharap mendapat berkah ahli kubur, bertawasul dengan kemuliaan atau hak mereka dan semisalnya adalah bid`ah, bahkan merupakan bagian dari sarana-sarana syirik besar. Oleh karenanya haram melakukannya dan wajib memberikan nasehat kepada orang yang melakukannya.

Kelima: Adapun sembelihan di kuburan untuk mendapat berkah ahli kubur, maka hal itu termasuk mungkar dan bid`ah, serta tidak boleh memakannya. Hal itu dalam rangka membasmi kesyirikan dan sarana-sarananya, serta menutup semua perantaranya. Apabila sembelihan tersebut dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada ahli kubur, maka hal itu menjadi syirik besar kepada Allah meskipun dalam menyembelihnya disebut nama Allah, karena amalan hati lebih kuat daripada amalan lisan dan hal itu merupakan pondasi dalam segala ibadah.

Keenam: Adapun kesembuhan yang terjadi kepada sebagian orang sakit atau kesurupan yang datang ke kuburan, maka hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk membolehkan perbuatan ini, karena kesembuhan tersebut terjadi bertepatan dengan takdir Allah `Azza wa Jalla sehingga orang-orang bodoh menyangka bahwa kesembuhan itu disebabkan oleh orang saleh ahli kubur tersebut. Dan karena para pemuja berhala dan jin terkadang sebagian kebutuhan-kebutuhan mereka dipenuhi oleh setan, dan hal itu bukan merupakan dalil akan bolehnya perbuatan mereka. Bahkan perbuatan mereka itu termasuk syirik kepada Allah meski kebutuhan-kebutuhan mereka terpenuhi, karena setan-setan itu memperdaya mereka agar mereka tetap dalam kesyirikan. Dan karena kesembuhan tersebut bisa jadi bertepatan dengan takdir Allah.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

========================
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Ketua                     : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Anggota               : Abdullah bin Qu'ud

Apakah Boleh Membaca Al-Quran Untuk Orang Sakit Dengan Niat Karena Allah Ta'ala atau Karena Bayaran?

23:01 0
Apakah Boleh Membaca Al-Quran Untuk Orang Sakit Dengan Niat Karena Allah Ta'ala atau Karena Bayaran?
Apakah Boleh Membaca Al-Quran Untuk Orang Sakit Dengan Niat Karena Allah Ta'ala atau Karena Bayaran?

Soal: Apakah Boleh Membaca Al-Quran Untuk Orang Sakit Dengan Niat Karena Allah Ta'ala atau Karena Bayaran?

Jawaban:

Jika maksudnya adalah meruqyah (mengobati) orang sakit dengan Al-Quran maka itu hukumnya boleh, bahkan dianjurkan, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam:
"Barangsiapa diantara kalian sanggup memberi manfaat kepada saudaranya, maka hendaknya ia melakukannya".
Juga karena beliau dan para sahabat radhiyallahu 'anhum melakukan hal itu. 
Sebaiknya ruqyah tersebut dilakukan tanpa memungut bayaran, meskipun memungut bayaran diperbolehkan karena ada dalil dari Sunnah yang membolehkan hal itu.

Jika maksudnya adalah menjadikan pahala meruqyah tersebut untuk orang yang sakit, maka hal itu tidak boleh dilakukan, karena tidak ada dalilnya dalam syariat. Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
"Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal dari urusan agama kami, maka perkara itu tertolak". (Muttafaq 'Alaih)
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

========================
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Ketua                     : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil Ketua Komite : Abdurrazzaq `Afifi
Anggota                 : Abdullah bin Ghadyan
Anggota               : Abdullah bin Qu'ud

Apakah hukumnya haram jika seorang Mukmin mengatakan saya nasionalis? Apakah juga haram seseorang berbicara mengenai politik luar negeri dan politik dalam negeri?

00:26 0
Apakah hukumnya haram jika seorang Mukmin mengatakan saya nasionalis? Apakah juga haram seseorang berbicara mengenai politik luar negeri dan politik dalam negeri?
Apakah hukumnya haram jika seorang Mukmin mengatakan saya nasionalis? Apakah juga haram seseorang berbicara mengenai politik luar negeri dan politik dalam negeri?

Soal: Apakah hukumnya haram jika seorang Mukmin mengatakan saya nasionalis? Apakah juga haram seseorang berbicara mengenai politik luar negeri dan politik dalam negeri?

Jawaban:

Kebanggaan terbesar, kemuliaan dan derajat yang paling tinggi adalah dengan masuk agama Islam, membela serta berjuang sungguh-sungguh untuk menegakkan ayat-ayat Allah. Maka seorang Muslim hendaklah berkata dengan bangga: "Saya seorang Muslim." Dengan demikian akan mulia kedudukannya dan tinggi derajatnya. Dengan Islam dan ukhuwah (persaudaraan) di dalamnya, Allah akan menyatukan seluruh kaum Muslimin. 

Adapun kebanggan atas nasionalisme adalah alat penghancur dan pemecah belah kaum Muslimin jika dimaksudkan sebagai sarana berbangga-bangga kepada saudara Muslim yang bukan satu negaranya. Akan tetapi jika yang dimaksud hanya bertujuan untuk menunjukkan identitas kewarganegaraannya maka itu tidak menjadi masalah. Ketua umum Syaikh Abdul `Aziz bin Baz telah menulis sebuah buku yang membahas mengenai nasionalisme ini.

Kemudian berbicara mengenai politik dalam negeri dan luar negeri umat ini bukanlah sesuatu yang haram selama itu membawa manfaat bagi Islam dan kaum Muslimin, tidak menyulut fitnah yang mengakibatkan perpecahan, kegagalan, kehancuran dan kekalahan bagi kaum Muslimin.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.


========================
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Ketua                     : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil Ketua Komite : Abdurrazzaq `Afifi
Anggota                 : Abdullah bin Ghadyan



Anggota                 : Abdullah bin Qu'ud

Saya telah dikaruniai seorang anak perempuan yang memiliki benjolan daging di samping telinganya, yang membuat penampilannya kurang enak dipandang. Apakah saya boleh melakukan operasi untuk menghilangkan benjolan daging tersebut?

00:25 0
Saya telah dikaruniai seorang anak perempuan yang memiliki benjolan daging di samping telinganya, yang membuat penampilannya kurang enak dipandang. Apakah saya boleh melakukan operasi untuk menghilangkan benjolan daging tersebut?
Saya telah dikaruniai seorang anak perempuan yang memiliki benjolan daging di samping telinganya, yang membuat penampilannya kurang enak dipandang. Apakah saya boleh melakukan operasi untuk menghilangkan benjolan daging tersebut?

Pertanyaan: 

Saya telah dikaruniai seorang anak perempuan yang memiliki benjolan daging di samping telinganya, yang membuat penampilannya kurang enak dipandang. Apakah saya boleh melakukan operasi untuk menghilangkan benjolan daging tersebut? Tolong berikan penjelasan kepada kami. Semoga Allah memberikan pemahaman kepada Anda sekalian.

Jawaban: 

Jika realitanya memang seperti yang telah Anda ceritakan, Anda boleh melakukan operasi untuk menghilangkan benjolan daging yang ada di samping telinga anak Anda selama hal itu tidak mendatangkan risiko.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

=========================
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil Ketua Komite: Abdurrazzaq `Afifi
Anggota: Abdullah bin Ghadyan
Anggota: Abdullah bin Qu'ud

Monday, 29 May 2017

Amanah

23:45 0
Amanah
Amanah

Amanah - Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (QS. Al-Ahzab : 72).

Kepercayaan memegang peranan amat penting dalam pelbagai aspek kehidupan. Manusia sendiri sejak awal sudah diberikan kepercayaan oleh Allah SWT untuk menjadi khalifah di muka bumi. Misi kepercayaan ini yang diemban manusia itu tak lain memakmurkan dan memelihara perdamaian.

Namun demikian, memelihara kepercayaan itu tidaklah mudah. Bahkan sebagaimana dijelaskan pada ayat di atas, memelihara amanah itu sangat berta. Karenanya banyak orang yang tidak kuat, akhirnya ia khianat atau ingkar terhadap amanah itu. Allah sendiri sebenarnya sudah mengetahu bahwa sebagian orang sering ingkar terhadap amanah itu.

Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan tentang pengertian amanah dalam ayat itu, yaitu menjalankan tugas-tugas keagamaan. Dan tugas-tugas keagamaan ini menyangkut seluruh aspek kehidupan.

Amanah sebenarnya adalah suatu kepercayaan yang ditanggung oleh seseorang untuk mewujudkan kepercayaan atau membuktikan dalam kenyataan dan prilakunya. Sehingga kalau manusia bisa bersikap dan berperilaku amanah, maka dunia ini akan aman dan damai. Tetapi, karena manusia sering zalim atau mencederai amanah atau kepercayaan yang dipegangnya sendiri, maka dunia ini sering kacau gara-gara yang bersangkutan tidak amanah.

Karena itu, jika seorang pemimpin sudah tidak bisa bersikap amanah, maka sebetulnya yang bersangkutan dan yang dipimpinnya tinggal menunggu kehancuran. Karena sekuat manusia menutup ketidakjujurannya, suatu saat akan ketahuan juga. Sekalil ia diketahui bahwa ia tidak bisa dipercaya, maka orang tersebut sulit untuk mendapat kepercayaan lagi.

Biasanya, Allah menguji amanah kepada hamba-Nya itu pada tiga persoalan. Pertama soal tahta atau jabatan, kedua soal wanita dan ketiga pada harta. Sumber kerusakan di muka bumi ini juga sering berawal dari tiga persoalan ini.

Seoarng penguasa atau pemimpin, kalau tidak amanah dengan jabatannya, barang kali ia juga tidak amanah pada yang lain. Misalnya, meski punya istri ia suka dia-diam berbuat serong dengan wanita lain. Karena serong, ia mungkin juga tidak beres dlam mengelola keuangan.

Sehingga dapat disimpulak, jika seseorang tak bisa dipercaya untuk satu urusan, ada kemungkinan ia telah melakukan khianat atau dusta secara akumulatif pada aspek kehidupan lainnya. (Zis Muzahid Hasan / Republika)

Amal Duniawi

23:43 0
Amal Duniawi
Amal Duniawi

Amal Duniawi - Pada suatu hari, Rasulullah SAW menjenguk Fatimah yang sedang menggiling tepung dengan alat penggiling. Nabi heran, karena Fatimah tampak menangis. Mengapa? Putri Rasulullah ini mengaku air matanya meleleh karena kesibukannya yang terus silih berganti tiada henti. Kepada ayahnya, Fatimah mengungkapkan keinginannya untuk memiliki budak yang bisa membantu semua pekerjaannya di rumah.

Nabi pun mendekati tempat penggilingan. Beliau lalu menghibur putrinya, ''... Allah berkehendak mencatat kebaikan, menghapus keburukan, dan mengangkat derajatmu jika engkau menunaikan tugas-tugas keseharianmu sebagai seorang istri dengan baik.''

Rasulullah kemudian bersabda bahwa seorang wanita yang dapat berperan sebagai istri yang baik bagi suaminya, serta sebagai ibu yang baik bagi anak-anaknya, maka Allah memberinya derajat yang sangat mulia. 

Dalam kesempatan lain beliau juga menjelaskan, jika seorang ibu meminyaki sendiri rambut anak-anaknya, menyisirinya, mencuci baju-baju mereka sendiri, maka pahala yang ia peroleh laksana amal memberi makan seribu orang yang lapar dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang (tak mempunyai pakaian).

Kisah dan hadis di atas memberi pemahaman yang dalam kepada kita, bahwa hendaknya kita tidak membuat dikotomi atas amal kita antara yang "duniawi" dan "ukhrawi", sehingga kemudian kita mengunggulkan yang satu dan meremehkan yang lain. 

Sebab, tidak jarang, apa yang kita anggap remeh ternyata sebenarnya mengandung kemuliaan yang sangat tinggi. Kita seringkali, mungkin, berpikiran bahwa amal-amal yang mulia yang "ukhrawi", yakni yang kental nuansa ritual-sakralnya, misalnya jihad fi sabilillah, haji, shalat nafilah, zikir, dan tadarus. 

Kesibukan sehari-hari, misalnya, kerja di kantor, di pabrik, di toko, di jalan-jalan, demi menafkahi keluarga di rumah, atau kesibukan di dalam rumah semisal mengurus rumah dan mengasuh anak, yakni amal-amal profan, "duniawi", kita anggap remeh-temeh, biasa-biasa saja, bukan amal yang utama nan mulia.

Padahal, merujuk pada kisah dan sabda Rasul di atas, jelas sekali bahwa pemahaman seperti itu keliru. Dalam sudut pandang dan skala tertentu, amal-amal profan, "amal-amal duniawi" justru sangat tinggi nilainya di hadapan Allah, selama dilakukan dengan cara dan niat yang baik, sesuai tuntunan yang disunahkan Rasul.

Suatu kali, ketika Rasul sedang berkumpul dengan sahabat-sahabatnya, ada seorang pemuda yang kekar dan perkasa lewat. Para sahabat berkata, "Ah, andaikan kekekaran dan keperkasaannya digunakan untuk berjihad di medan perang sabilillah, betapa bagusnya." 
Tapi, apa komentar Rasulullah? 

Beliau sama sekali tidak sepakat dengan cara pandang parsial seperti itu. "Andaikan ia masih punya orang tua di rumah, ia lebih baik menggunakan kekuatannya untuk mengurus orang tuanya daripada berjihad. Atau, jika dengan keperkasaannya itu ia bekerja mencari nafkah buat dirinya sendiri agar tidak bergantung pada orang lain, itu jauh lebih baik daripada jihad." (Sabrur R Soenardi / Koran Republika)

Akhlaq Manusia

23:41 0
Akhlaq Manusia
Akhlaq Manusia

Akhlaq Manusia - Dalam surat An-Nisaa ayat 36 Allah SWT berfirman, ''Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.'' (QS 4:36). 

Ayat di atas secara rinci menjelaskan tentang dua akhlak yang harus dimiliki manusia. 
Pertama, akhlak kepada Allah, yaitu untuk beriman dan bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya, serta memurnikan keimanannya dengan jalan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Mengenai mempersekutukan Allah (syirik), Allah menegaskan masalah ini dalam firman-Nya, ''Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.'' (QS 4:48). 
Kedua, akhlak kepada sesama manusia, yaitu untuk selalu berbuat baik (ihsan). Berbuat baik, sebagaimana dijelaskan pada ayat di atas, tidak memiliki batasan. Artinya, nilai-nilai ihsan merupakan nilai-nilai yang universal yang tidak terfragmentasikan oleh batasan apa pun, bahkan agama atau musuh sekalipun. Perhatikan firman Allah SWT, ''Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.'' (QS 60:8). 

Rasulullah pun telah mencontohkan perbuatan baik yang patut untuk diteladani oleh setiap manusia. Dalam suatu hadis beliau menjelaskan, ''Janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling mendengki, dan janganlah kamu saling menjatuhkan. Dan, hendaklah kamu menjadi hamba Allah yang bersaudara dan tidak boleh seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.'' (HR Anas). 

Berbuat baik kepada sesama, pada hakikatnya, merupakan wujud dari rasa kasih sayang dan buah dari keimanan yang benar. Tanpa ada dua hal tersebut, maka kebaikan yang tercipta biasanya merupakan kebaikan semu. Firman Allah SWT, ''Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap sedikit pun.'' (QS 14:24-26). 

Karenanya, mari kita pupuk keimanan dengan benar agar dapat menciptakan dan menghasilkan buah kebaikan yang dapat dirasakan oleh siapa pun. Ingatlah, pesan Rasulullah SAW bahwa 'sesungguhnya manusia yang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi yang lainnya'. Wallahu a'lam bis-shawab. (Mulyana/Koran Republika)

Ajaran Berderma

23:37 0
Ajaran Berderma
Suatu saat Dzun Nun al-Mishri melakukan perenungan di hutan, diiringi seorang murid setianya. Mereka mendapati seekor burung yang tiada daya untuk terbang, karena sayapnya patah. Burung itu hanya bisa menggelepar-gelepar di tanah. Selang beberapa saat kemudian, datang burung yang lain membawakan makanan baginya. Burung yang patah sayapnya pun, tanpa perlu repot-repot mencari makanan, dapat makan kenyang berkat jasa kawannya.

Menyaksikan kejadian langka itu, si murid termenung dan berpikir keras untuk menggali pelajaran yang dapat dipetik. ''Ternyata, tanpa harus berusaha mencari makanan sekalipun, kita dapat bertahan hidup berkat jasa orang lain. Alangkah rahmatnya Allah SWT kepada setiap makhluknya,'' simpulnya.

Sebagai seorang waliyullah, Dzun Nun al-Mishri bisa merasakan apa yang direnungkan oleh muridnya. Dia pun berkata padanya, ''Seharusnya kamu tidak berpikir menjadi burung yang patah sayap itu. Tapi, berpikirlah menjadi burung yang memberi makan, yang dapat menolong saudaranya.''

Ajaran Berderma

Ucapan Dzun Nun al-Mishri ini mengingatkan kita pada sabda Nabi SAW, ''Al-yadd al-ulya khair min al-yadd al-sufla.'' (HR al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim ditambahkan, yang dimaksud al-yadd al-ulya adalah al-munfiqah (pemberi sedekah) dan al-yadd al-sufla adalah al-sailah (peminta atau penerima). 

Itulah ajaran Islam. Islam mengajarkan pemeluknya untuk menjadi penderma dan penolong bagi yang membutuhkan. Ini tecermin misalnya dari ajaran zakat (al-Baqarah: 43, 83, dan 110; al-Ahzab: 33; al-Mujadilah: 13; dan lain-lain). Malah, zakat dijajarkan sebagai pilar rukun Islam. Ini menunjukkan, menolong orang yang membutuhkan, mendapat perhatian besar dalam ajaran Islam.

Menariknya lagi, seperti janji Allah SWT dalam QS Saba' ayat 39, kendati kita banyak bederma, itu tidak akan mengurangi harta kita. Allah SWT akan mengganti dan malah menambahnya. Allah SWT berfirman, ''Katakanlah: 'Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)'. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.'' 

Tapi, di sisi lain, Allah SWT juga menantang kita untuk mendermakan barang-barang yang paling kita cintai. Allah SWT berfirman, ''Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.'' (Ali Imran ayat 92). 

Ini tantangan yang berat bagi kita. Karena, mendermakan barang yang kita cintai, membutuhkan kesadaran beragama yang baik dan pengorbanan yang tulus. Itulah tantangan dan ujian bagi orang beriman. Tinggal kita yang harus membuktikan bahwa kita termasuk orang yang berhak meraih gelar al-birr, melalui berbagai derma. Wallah a'lam. (Nurul Huda Maarif / Koran Republika)

Agama Yang Diridhai

21:25 0
Agama Yang Diridhai
Agama Yang Diridhai

Allah SWT berfirman: ''Dialah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.'' (QS. 61: 9). Dari firman tersebut kita dapat menyimpulkan agama terbagi dalam dua bagian, yaitu agama yang berasal dari Allah, agama yang diridhoi yaitu Islam dan agama selain Islam atau dalam ayat itu disebut sebagai ad-diinu kullih. Ayat itu juga menegaskan Islam merupakan agama yang benar.

Bukti bahwa Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhoi Allah, dapat pula diperhatikan pada wahyu terakhir yang diterima oleh Rasulullah SAW tatkala beliau sedang melaksanakan haji wada' yang berbunyi: ''Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhoi Islam itu jadi agamamu (QS 5: 3).

Dalam ayat lain Allah SWT menegaskan: ''Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.'' (QS 3: 19).

Ayat lainnya dalam surat Ali Imran, Allah berfirman: ''Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.'' (QS 3: 85).

Ayat-ayat di atas jelas menunjukkan Islam merupakan satu-satunya agama yang diridhoi dan benar. Islam merupakan agama yang sesuai dengan fitrah manusia dan Islam berbeda dengan agama-agama lainnya. Islam merupakan agama yang langsung Allah turunkan melalui rasul-rasul-Nya terdahulu hingga Nabi Muhammad SAW.

Allah berfirman: ''Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada-Nya (agama) orang yang kembali (kepada-Nya).'' (QS 42: 13).

Dalam ayat lainnya Allah menjelaskan: ''Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yaqub, dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.'' (QS 4: 163).

Dalam praktik kehidupan agama saat ini, upaya pendangkalan dan penggembosan terhadap akidah umat Islam telah marak dilakukan, seperti dengan beredarnya paham semua agama sama, pernikahan beda agama, dan seterusnya. Karenanya, peningkatan akidah, keimanan, dan keyakinan umat Islam terhadap agamanya menjadi keharusan dalam menghadapi upaya-upaya pendangkalan akidah tersebut. Ini menjadi tugas dan kewajiban ulama, para ustaz, orang tua, dan semua umat Islam. (Mulyana/Koran Republika)

Ahsanu Taqwim

21:23 0
Ahsanu Taqwim

Ahsanu Taqwim

Dalam Alquran (QS 95: 4), Allah SWT menyatakan manusia diciptakan dalam sebaik-baik bentuk, ahsanu taqwim. Maksudnya, manusia diciptakan dalam tampilan dan sosok fisikal yang sedemikian rupa memenuhi standar dan syarat untuk bisa menjalani kehidupannya di dunia yang penuh tantangan ini.

Ini artinya, manusia diciptakan dengan memenuhi standar kelayakan untuk mampu menjalani kehidupan, yakni diberi organ tubuh yang lengkap dan sehat sebagaimana lazimnya. Bahasa teknisnya, manusia lahir ke dunia dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Jadi, yang dimaksud dengan ahsanu taqwim bukanlah berkaitan dengan persoalan estetika erotis: cantik, tampan, langsing, atletis, dan sejenisnya.

Masalah cantik, tampan, dan seterusnya tergantung dari bahan mentahnya. Lantas mengapa kita tidak jarang menjumpai anak-anak yang lahir dalam keadaan tidak normal, lahir tidak sebagaimana lazimnya? Misalnya, lahir cacat fisik, cacat mental, dan semacamnya? Siapakah yang salah? Tuhankah, dengan pertimbangan Dia sebagai Khalik (Pencipta)? Jika memang Tuhan, berarti Dia menyalahi karakter azali-Nya untuk menciptakan manusia hanya dalam sebaik-baik bentuk. 

Untuk meneropong masalah ini, ada baiknya jika merujuk pada disiplin Ulumul Quran. Menurut Hamim Ilyas, doktor Ulumul Quran dari IAIN Sunan Kalijaga, ketika Tuhan, di dalam Alquran, mengidentifikasi suatu perbuatan yang merujuk pada-Nya dengan kata ganti 'Kami' (Nahnu, Inna, dan sejenisnya), pola seperti itu menunjukkan bahwa di dalam proses perwujudan perbuatan tersebut ada keterlibatan pihak (subjek) lain, bukan hanya aktivitas Dia sendiri.

Misalnya, ketika Tuhan menyatakan, 'Sesungguhnya Kami (Inna) yang menurunkan Alquran dan sesungguhnya Kamilah yang akan menjaganya', mengandung pengertian bahwa bukan Tuhan sendirian yang aktif menjaga Alquran, tetapi melibatkan pihak lain. Pihak lain itu bisa saja para penghafal Alquran, ulama, kiai, dan umat Islam pada umumnya.

Begitupun halnya ketika Tuhan mengidentifikasi dengan kata 'Kami' dalam hal penciptaan manusia, ''Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk.'' (At-Tiin: 4). Ayat ini menunjukkan adanya pola kerja sama antara Tuhan dan makhluk-Nya di dalam proses terwujudnya perbuatan tersebut (menciptakan manusia). Jadi, ahsanu taqwim kita bukanlah semata-mata hasil kerja Tuhan sendiri, kun fayakun, jadilah indah (ahsanu taqwim)! Ada keterlibatan/peran kita di dalam prosesnya. 

Manusia ikut berperan dalam menentukan indah atau tidak bentuk ciptaan Tuhan atas manusia. Dan, Tuhan tidak pernah salah! Mengapa anak-anak lahir cacat? Banyak faktor manusiawi yang melatarinya, misalnya, karena orang tuanya suka berganti pasangan sehingga tertular penyakit kelamin; karena orang tuanya tidak menjaga kesehatan tubuhnya saat mengandung; karena pemerintah menoleransi perzinahan dan pelacuran; karena pemerintah tidak memperhatikan kesehatan kaum perempuan. Kesehatan kelamin, kesehatan fisik kaum perempuan (yang hamil), sangat berpengaruh bagi terwujud atau tidaknya ahsanu taqwim. Wallahu a'lam. (Sabrur R Soenardi / Koran Republika)

Adab Pertetanggaan

21:20 0
Adab Pertetanggaan
Adab Pertetanggaan

Pesatnya industrialisasi dan globalisasi yang tidak diiringi dengan peningkatan pembinaan jiwa ternyata membawa dampak buruk pada tatanan kehidupan bermasyarakat di negeri ini.

Hedonisme, keglamoran, egoisme, dan individualisme, saat ini amat mudah ditemui di tengah masyarakat kita. Sementara itu, keguyuban, kerukunan, ke-tepa selira-an, pertolong-menolongan, dan kegotongroyongan, mulai terkikis dan memudar sedikit demi sedikit. Akibatnya, masyarakat--khususnya di perkotaan--menjadi sangat tidak peduli dengan anggota masyarakat lainnya.

Ketika diundang dalam pertemuan rukun tetangga (RT), dengan banyak alasan mereka tidak menghadirinya, atau cukup membayar sejumlah uang sebagai ganti giliran meronda kampung. Maka jangan heran bila kemudian penghuni suatu rumah tidak mengenal tetangganya karena tidak ada komunikasi, keakraban, dan kepedulian antarmereka.

Tetangga, karena begitu dekat posisinya dengan kita, dalam keadaan tertentu mereka lebih berarti bila dibandingkan dengan kerabat karena keberadaan kerabat tidak selalu, secara geografis, dekat dengan kita. Tetanggalah yang dalam batas tertentu kita berikan kepercayaan untuk mengurus dan mengawasi harta dan keluarga ketika kita sedang bepergian jauh dan cukup lama.

Dalam Alquran dijelaskan bahwa perintah berbuat baik kepada tetangga disebutkan setelah perintah untuk tidak menyekutukan Allah dan perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua. Firman Allah, artinya), ''Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. 

Berbuat baiklah kepada dua orang, ibu bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong dan membangga-banggakan diri.'' (QS. An-Nisa:36)

Sejalan dengan pentingnya hubungan bertetangga, maka barang siapa melalaikan hak-hak bertetangga berarti telah melakukan sebuah dosa besar yang terancam siksa neraka. Rasulullah SAW pun sangat menekankan hubungan baik kepada tetangga. 

Beliau bersabda, ''Selalu Jibril berpesan kepadaku supaya berbuat baik kepada tetangga, hingga saya mengira kalau ia berhak mendapat warisan.'' (HR. Bukhori-Muslim).

Menolong, bergaul dengan baik, tidak menyakiti, dan memberi pembelaan, merupakan bentuk perbuatan baik kepada tetangga, di samping juga kita perlu memuliakan mereka. Salah satunya dengan memberi hadiah, meskipun kecil nilainya. 

Rasulullah pernah menasihati Abu Zar, beliau bersabda, ''Wahai Abu Zar, jika engkau memasak, perbanyaklah airnya. Berilah tetanggamu.'' (HR. Muslim)Demikianlah keagungan ajaran Islam dalam membentuk keharmonisan kehidupan bermasyarakat, hingga perkara sepele. 

Namun, kadang kita melalaikannya dan justru membanggakan aturan yang bersumber dari akal sempit dan dituntun oleh hawa nafsu jahat, sehingga timbullah ketimpangan. Wallahu A'lam. (Subhan Fathuddin/Koran Republika)

Friday, 12 May 2017

Memutuskan Hubungan Dengan Saudara Muslim Lebih Dari Tiga Hari

19:12 0
Memutuskan Hubungan Dengan Saudara Muslim Lebih Dari Tiga Hari
Memutuskan Hubungan Dengan Saudara Muslim Lebih Dari Tiga Hari

Memutuskan Hubungan Dengan Saudara Muslim Lebih Dari Tiga Hari - Di antara langkah syaitan dalam menggoda dan menjerumuskan manusia adalah dengan memutuskan tali hubungan antara sesama umat Islam. Ironinya, banyak umat Islam terpedaya mengikuti langkah langkah syaitan itu. Mereka menghindar dan tidak menyapa saudaranya sesama muslim tanpa sebab yang dibenarkan syara’. Misalnya karena percekcokan masalah harta atau karena situasi buruk lainnya.

Terkadang, putusnya hubungan tersebut langsung terus hingga setahun. Bahkan ada yang sumpah untuk tidak mengajaknya bicara selama-lamanya, atau bernadzar untuk tidak menginjak rumahnya. Jika secara tidak sengaja berpapasan di jalan ia segera membuang muka. Jika bertemu di suatu majlis ia hanya menyalami yang sebelum dan sesudahnya dan sengaja melewatinya. Inilah salah satu sebab  kelemahan dalam masyarakat Islam. Karena itu, hukum syariat dalam masalah tersebut amat tegas dan ancamanya pun sangat keras.

Abu Hurairah Radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“Tidak halal seorang muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari, barang siapa memutuskan lebih dari tiga hari dan meninggal maka ia masuk neraka”  (HR Abu Dawud, 5/215, Shahihul Jami’ : 7635)
Abu khirasy Al Aslami Radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa memutus hubungan dengan saudaranya selama setahun maka ia seperti mengalirkan darahnya (membunuhnya) “ (HR Al Bukhari Dalam Adbul Mufrad no : 406, dalam Shahihul Jami’: 6557)

Untuk membuktikan betapa buruknya memutuskan hubungan antara sesama muslim cukuplah dengan mengetahui bahwa Allah menolak memberikan ampunan kepada mereka. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu , Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Semua amal manusia diperlihatkan (kepada Allah) pada setiap Jum’at (setiap pekan) dua kali; hari senin dan hari kamis. Maka setiap hamba yang beriman diampuni (dosanya) kecuali hamba yang di antara dirinya dengan saudaranya ada permusuhan. Difirmankan kepada malaikat :” tinggalkanlah atau tangguhkanlah (pengampunan untuk) dua orang ini sehingga keduanya kembali berdamai” (HR. Muslim : 4/1988)

Jika salah seorang dari keduanya bertaubat kepada Allah, ia harus bersilaturrahim kepada kawannya dan memberinya salam. Jika ia telah melakukannya, tetapi sang kawan menolak maka ia telah lepas dari tanggungan dosa, adapun kawannya yang menolak damai, maka dosa tetap ada padanya.

Abu Ayyub Radhiallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“Tidak halal bagi seorang laki-laki memutuskan hubungan saudaranya lebih dari tiga malam. Saling berpapasan tapi yang ini memalingkan muka dan yang itu (juga) membuang muka. Yang terbaik di antara keduanya yaitu yang memulai salam” (HR Bukhari, Fathul Bari : 10/492)

Tetapi jika ada alasan yang dibenarkan, seperti karena ia meninggalkan shalat, atau terus menerus melakukan maksiat sedang pemutusan hubungan itu berguna bagi yang bersangkutan misalnya membuatnya kembali kepada kebenaran atau membuatnya merasa bersalah maka pemutusan hubungan itu hukumnya menjadi wajib. Tetapi jika tidak mengubah keadaan dan ia malah berpaling, membangkang, menjauh, menantang, dan menambah dosa maka ia tidak boleh memutuskan hubungan dengannya. Sebab perbuatan itu tidak membuahkan maslahat tetapi malah mendatangkan madharat. Dalam keadaan seperti ini, sikap yang benar adalah terus-menerus berbuat baik dengannya, menasehati dan mengingatkannya.

Seperti  hajr (pemutusan hubungan) yang dilakukan Nabi Shallallahu'alaihi wasallam kepada Ka’ab bin Malik dan dua orang kawannya, karena beliau melihat dalam hajr tersebut terdapat maslahat. Sebaliknya bila menghentikan hajr kepada Abdullah bin Ubay bin Salul dan orang-orang munafik lainnya karena hajr kepada mereka tidak membawa faidah. [Keterangan : Syaikh Bin Baz]

Memukul Orang Dan Menandai Muka Binatang

19:06 0
Memukul Orang Dan Menandai Muka Binatang
Memukul Orang Dan Menandai Muka Binatang
          
Sahabat Jabir Radhiallahu’anhu meriwayatkan :
“Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melarang memukul muka dan menandai sesuatu di muka” (HR. Muslim: 3/1673). 
Sebagian orang tua dan bapak guru terkadang sengaja menghukum anak-anaknya dengan mendaratkan pukulan di wajah. Demikian pula dengan yang dilakukan oleh sebagian majikan kepada pembantunya.

Perbuatan tersebut, di samping menghinakan wajah yang dimuliakan oleh Allah juga bisa mengakibatkan hilangnya sebagian fungsi indra terpenting yang kebanyakan berada di wajah. Jika itu yang terjadi maka akan menyebabkan penyesalan bahkan terkadang yang bersangkutan meminta hukum qishash.

Menandai muka binatang dengan gambar atau tanda tertentu sehingga setiap orang mengenali binatang miliknya atau agar dikembalikan kepadanya jika hilang hukumnya adalah haram. Perbuatan semacam itu termasuk penyiksaan kepada binatang. Meskipun sebagian orang berdalih, itu merupakan tradisi dan lambang kabilahnya, maka tetap tak bisa mengubah haramnya perbuatan tersebut. Seandainya mereka hendak membuat tanda maka mereka bisa membuatnya di bagian lain selain muka.

Meratapi Jenazah Secara Berlebihan

18:59 0
Meratapi Jenazah Secara Berlebihan
Meratapi Jenazah Secara Berlebihan

Meratapi Jenazah Secara Berlebihan - Ikhwatal Islam, saudaraku se Islam semuanya. Diantara dosa yang dianggap biasa adalah Meratapi Jenazah Secara Berlebihan. Dikarenakan menganggap hal tersebut sebagai hal yang lumrah, maka banyak saudara-saudara kita yang terjerumus kedalam dosa tersebut.

Salah satu kemungkaran besar yang dilakukan oleh sebagian orang adalah meratapi jenazah secara berlebihan. Misalnya dengan menangis sejadi-jadinya, berteriak sekeras kerasnya, meratap mengharu biru kepada mayit, memukuli muka sendiri, mengoyak ngoyak pakaian, menggunduli rambut, menjambak-jambak atau memotongnya. Semua perbuatan tersebut menunjukkan ketidak relaan terhadap takdir, di samping menunjukkan tidak sabar terhadap musibah.

Nabi Shallallahu’alaihi wasallam melaknat orang yang suka melakukan ratapan berlebihan kepada mayit. Abu Umamah Radhiallahu’anhu meriwayatkan :
“Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melaknat wanita yang mencakar mukanya, merobek-robek bajunya, serta yang berteriak dan berkata : ‘celaka dan binasalah aku” (HR Ibnu Majah : 1/505, Shahihul Jami’ : 5068)
Dan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Tidak termasuk golongan kami orang yang menampar pipi, yang merobek-robek pakaian dan yang menyeru dengan seruan jahiliyah” (HR. Al-Bukhari, Fathul Bari : 3/163).
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: 
“Wanita yang meratap, jika tidak bertaubat sebelum ia meninggal, kelak pada hari kiamat akan dibangkitkan dengan pakaian dari cairan tembaga dan mantel dari kudis” (HR Muslim no : 934).

Melaknat Orang Beriman dan Melaknat Orang Yang Tidak Semestinya Dilaknat

18:40 0
Melaknat Orang Beriman dan Melaknat Orang Yang Tidak Semestinya Dilaknat
Melaknat Orang Beriman dan Melaknat Orang Yang Tidak Semestinya Dilaknat

Ketika marah, orang terkadang tidak mampu mengontrol ucapannya, sehingga dengan ringan melaknat apa saja. Melaknat orang, melaknat binatang, melaknat benda-benda mati atau melaknat hari dan zaman. Bahkan tak jarang yang melaknat dirinya sendiri atau anak-anak mereka. Suami melaknat istri atau sebaliknya. Melaknat adalah perbuatan mungkar.

Dalam sebuah hadits marfu’ riwayat Abu zaid Tsabit bin Adh Dhahak Al Anshari Radhiallahu’anhu disebutkan :
“ …Dan barangsiapa melaknat seorang mukmin maka ia seperti membunuhnya” (HR. Al-Bukhari, Fathul jami :10)
Dalam pergaulan sehari-hari kaum wanita lebih banyak suka melaknat. Karena itu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengingatkan bahwa hal tersebut merupakan salah satu penyebab masuknya mereka ke dalam neraka. Di samping itu, orang yang suka melaknat tidak bisa menjadi pemberi syafaat pada hari kiamat. Lebih berbahaya dari itu, jika laknat tersebut ia ucapkan secara aniaya maka ia bisa kembali kepada dirinya sendiri. Dengan demikian ia mendoakan atas dirinya sendiri agar diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah Tabaroka wata’ala, na’uzubillah.

Bermain Dadu

18:35 0
Bermain Dadu
Bermain Dadu

Bermain Dadu - Banyak permainan terkenal digemari orang yang mengandung perkara yang diharamkan syariat. Di antaranya permainan dadu yang mengilhami munculnya berbagai macam permainan seperti rolet dan yang sejenisnya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memperingatkan permainan yang merupakan pintu kepada perjudian tersebut dalam sabdanya:
“Barangsiapa bermain dadu, maka ia seakan mencelupkan tangannya ke dalam daging babi dan darah babi” (HR. Muslim: 4/1770)
Dalam hadits marfu’ Abu Musa Asy’ari meriwayatkan :
“Barangsiapa bermain dadu maka ia telah berbuat maksiat kepada Allah dan RasulNya” ( HR. Al-Bukhari: 10/465).

Berwasiat Yang Merugikan

02:07 0
Berwasiat Yang Merugikan
Berwasiat Yang Merugikan - Di antara kaidah syariat Islam adalah : “Tidak boleh mendatangkan bahaya dan tidak boleh membalasnya dengan bahaya lain”.

Contohnya yaitu merugikan ahli waris yang sah, baik semua atau sebagiannya. Orang yang melakukan perbuatan tersebut diancam dalam sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam :
“Barangsiapa membahayakan (orang lain) Allah akan membahayakan dirinya, dan barang siapa yang menyulitkan (orang lain) Allah akan menyulitkan dirinya” (HR. Al-Bukhari, Al-Adabul Mufrad : no : 103, As-silsilah Ash-Shahihah, 65)
Contoh wasiat yang membahayakan adalah seperti tidak memberikan hak salah seorang ahli waris sesuai ketentuan syariat, atau mewasiatkan kepada salah seorang ahli waris dengan melanggar ketentuan yang telah ditetapkan syariat, atau mewasiatkan lebih sepertiga harta.

Di beberapa negara yang masyarakatnya tidak memperlakukan syariat Allah, seorang ahli waris yang sah kesulitan untuk mendapatkan bagiannya sesuai ketentuan yang disyariatkan Islam. Sebab yang berkuasa di sana adalah undang- undang bikinan tangan manusia. Maka jika wasiat yang zhalim itu telah dicatat oleh seorang pengacara sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku mereka tinggal memerintahkan dipenuhinya wasiat yang zhalim tersebut. Sungguh celakalah apa yang ditulis oleh tangan mereka dan celakalah apa yang mereka usahakan.

Jahat Dalam Bertetangga

02:04 0
Jahat Dalam Bertetangga
Jahat Dalam Bertetangga

Allah Tabaroka wata’ala berfirman :
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada orang tuamu, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba shayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (An-Nisa’: 36)
Karena besarnya hak tetangga, maka menyakiti tetangga hukumnya haram. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Syuraih Radhiallahu'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” Beliau ditanya : Siapa Wahai Rasulullah ?“ beliau Shallallahu'alaihi wasallam menjawab : “Yaitu yang tetangganya tidak aman dari gangguannya” (HR. Al-Bukhari, Fathul Bari : 10/443)
Sebagai petunjuk Nabi Shallallahu’alaihi wasallam menjadikan pujian atau hinaan tetangga sebagai ukuran kebaikan dan keburukan seseorang. Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu meriwayatkan:
“Seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam : “Wahai Rasulullah, bagaimana untuk mengetahui jika aku ini seseorang yang baik atau jahat? “ Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :“Jika engkau mendengar tetangga-tetanggamu mengatakan engkau baik, berarti engkau baik, dan jika engkau mendengar mereka mengatakan engkau jahat maka berarti engkau jahat” (HR. Ahmad : 1/402, Dalam Shahihul Jami : 623)
Gangguan kepada tetangga bentuknya bermacam-macam. Di antaranya melarangnya memasang tiang pada dinding milik bersama, meninggikan bangunan tanpa izin hingga menghalangi sinar matahari atau menutup ventilasi udara rumah tetangga, membuka jendela rumah untuk melongok kerumah tetangga sehingga melihat aurat mereka, mengganggu dengan suara gaduh seperti ketok-ketok atau teriak-teriak pada waktu tidur dan istirahat, memukul anak tetangga, membuang sampah di depan pintu rumahnya dan sebagainya.

Syariat Islam benar-benar memuliakan kedudukan tetangga. Sehingga orang yang melakukan pelanggaran hak dan kejahatan kepada tetangga dihukum secara berlipat. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“Seorang laki-laki berzina dengan sepuluh wanita lebih ringan daripada berzina dengan istri seorang tetangganya, seorang laki-laki mencuri dari sepuluh rumah lebih ringan baginya daripada mencuri dari rumah tetangganya” (HR. Al-Bukhari, Al-Adabul Mufrad: no : 103, As sisilah Shahihah: 65)
Betapapun berat ancamannya, tapi banyak orang tetap tak peduli. Sebagian penghianat malah ada yang mengambil kesempatan perginya tetangga pada malam hari, misalnya pada saat ia mendapat giliran tugas malam. Penghianat itu lalu masuk mengendap rumah tetangganya untuk melakukan perbuatan terkutuk. Celakalah orang semacam itu, dan kelak baginya azab yang pedih di neraka.

Mendengarkan Pembicaraan Orang Lain Sedang Mereka Tidak Menyukai

01:49 0
Mendengarkan Pembicaraan Orang Lain Sedang Mereka Tidak Menyukai
Mendengarkan Pembicaraan Orang Lain Sedang Mereka Tidak Menyukai

Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
“Dan janganlah kamu mengintai orang lain…” (Al Hujurat : 11).

Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu berkata:
“Barangsiapa mendengarkan pembicaraan suatu kaum sedang mereka membenci hal itu, niscaya dituangkan ke kedua telinganya timah mendidih pada hari kiamat” (HR.Al-Bukhari, Fathul Bari:10/465)
Jika ia menyebarkan pembicaraan itu tanpa sepengetahuan mereka dengan maksud mencelakakan, maka berarti ia menambah jenis dosa lain, dosa tajassus (mencuri dengar) yakni dosa mengadu domba, padahal Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“Tidak masuk surga tukang mengadu domba (HR.Ibnu Majah: 1/505, dalam Shahihul Jami’ : 5068).

Tidak Cebok Setelah Buang Air Kecil

01:37 0
Tidak Cebok Setelah Buang Air Kecil
Tidak Cebok Setelah Buang Air Kecil - Islam datang dengan membawa peraturan yang semuanya demi kemaslahatan umat manusia. Di antaranya soal menghilangkan najis. Islam mensyariatkan agar umatnya melakukan istinja’ (cebok dengan air) dan istijmar (membersihkan kotoran dengan batu) lalu menerangkan cara melakukannya sehingga tercapai kebersihan yang dimaksud.
Sebagian orang menganggap enteng masalah menghilangkan najis. Akibatnya badan dan bajunya masih kotor. Dengan begitu, shalatnya menjadi tidak sah. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengabarkan bahwa perbuatan tersebut salah satu sebab dari pada azab kubur

Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu berkata : “Suatu kali Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melewati kebun di antara kebun-kebun di Madinah. Tiba-tiba beliau mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di dalam kuburnya. Lalu Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Keduanya diazab, tetapi tidak karena masalah besar (dalam anggapan keduanya) lalu bersabda benar (dalam riwayat lain sesungguhnya ia masalah besar) salah satunya tidak meletakkan sesuatu untuk melindungi diri dari percikan kencingnya dan yang satu lagi suka mengadu domba” (HR. Bukhari, Fathul Bari : 1/317).
Bahkan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam mengabarkan : 
“Kebanyakan azab kubur disebabkan oleh buang air kecil” (HR Ahmad : 2/236, Shahihul Jami’ : 1213).
Termasuk tidak cebok setelah buang air kecil adalah orang yang menyudahi hajatnya dengan tergesa-gesa sebelum kencingnya habis, atau sengaja kencing dalam posisi tertentu atau di suatu tempat yang menjadikan percikan air kencing itu mengenainya, atau sengaja meninggalkan istinja’ dan istijmar tidak teliti dalam melakukannya.

Saat ini, banyak umat Islam yang menyerupai orang-orang kafir dalam masalah kencing. Beberapa kamar kecil hanya dilengkapi dengan bejana air kencing permanen yang menempel di tembok dalam ruangan terbuka. Setiap yang kencing dengan tanpa malu berdiri dengan disaksikan orang yang lalu lalang keluar masuk kamar mandi. Selesai kencing ia mengangkat pakainnya dan mengenakannya dalam keadaan najis.

Orang tersebut telah melakukan dua perkara yang diharamkan. pertama ia tidak menjaga auratnya dari penglihatan manusia dan kedua, ia tidak cebok dan membersihkan diri dari kencingnya.

Tuesday, 9 May 2017

Hukum Wudhunya Orang Yang Menggunakan Inai dan Kutek

19:31 0
Hukum Wudhunya Orang Yang Menggunakan Inai dan Kutek
Hukum Wudhunya Orang 
Yang Menggunakan Inai dan Kutek

Hukum Wudhunya Orang Yang Menggunakan Inai dan Kutek - Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta' ditanya : Diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang maksudnya: Tidak sah wudhunya seseorang bila pada jari-jarinya terdapat adonan (sesuatu yang dicampur air) atau tanah. 

Kendati demikian saya banyak melihat kaum wanita yang menggunakan inai (pacar) pada tangan atau kaki mereka, padahal inai yang mereka pergunakan ini adalah sesuatu yang dicampur dengan air dalam proses pembuatannya, kemudian para wanita itu pun melakukan shalat dengan menggunakan inai tersebut, apakah hal itu diperbolehkan ? Perlu diketahui bahwa para wanita itu mengatakan bahwa inai ini adalah suci, jika ada seseorang yang melarang mereka. 

Jawaban:

Berdasarkan yang telah kami ketahui bahwa tidak ada hadits yang bunyinya seperti demikian. Sedangkan inai (pacar) maka keberadaan warnanya pada kaki dan tangan tidak memberi pengaruh pada wudhu, karena warna inai tersebut tidak mengandung ketebalan/lapisan. 

Lain halnya dengan adonan, kutek, dan tanah yang memiliki ketebalan dapat menghalangi mengalirnya air pada kulit, maka wudhu seseorang tidak sah dengan adanya ketebalan tersebut karena air tidak dapat menyentuh kulit. Namun, jika inai itu mengandung suatu zat yang menghalangi air untuk sampai pada kulit, maka inai tersebut harus dihilangkan sebagaimana adonan.

(Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta : 5/217)

================== 
Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq hal. 7 penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin.

Wahai Wanita Muslimah! Ketahuilah Hukum Agamamu Tentang Haid ini!

19:12 0
Wahai Wanita Muslimah! Ketahuilah Hukum Agamamu Tentang Haid ini!
Wahai Wanita Muslimah! 
Ketahuilah Hukum Agamamu Tentang Haid ini!

Wahai Wanita Muslimah! Ketahuilah Hukum Agamamu Tentang Haid ini!Terdapat banyak hukum haid, ada lebih dari dua puluh hukum. Dan kami sebutkan di sini hukum-hukum yang kami anggap banyak diperlukan, antara lain: 
1. Shalat

Diharamkan bagi wanita haid mengerjakan shalat, baik fardhu maupun sunat, dan tidak sah shalatnya. Juga tidak wajib baginya mengerjakan shalat, kecuali jika ia mendapatkan sebagian dari waktunya sebanyak satu raka'at sempurna, baik pada awal atau akhir waktunya. 

Contoh pada awal waktu : Seorang wanita haid setelah matahari terbenam tetapi ia sempat mendapatkan sebanyak satu ra'kaat dari waktunya. Maka wajib baginya, setelah suci, mengqadha' shalat maghrib tersebut karena ia telah mendapatkan sebagian dari waktunya yang cukup untuk satu rakaat sebelum kedatangan haid. 

Adapun contoh pada akhir waktu, seorang wanita suci dari haid sebelum matahari terbit dan masih sempat mendapatkan satu rakaat dari waktunya. Maka wajib baginya, setelah bersuci, mengqadha' shalat Shubuh tersebut karena ia masih sempat mendapatkan sebagian dari waktunya yang cukup untuk satu rakaat. 

Namun, jika wanita yang haid mendapatkan sebagian dari waktu shalat yang tidak cukup untuk satu rakaat sempurna; seperti : Kedatangan haid -pada contoh pertama- sesaat setelah matahari terbenam, atau suci dari haid -pada contoh kedua- sesaat sebelum matahari terbit, maka shalat tersebut tidak wajib baginya. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. 
"Artinya : Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari shalat, maka dia telah mendapatkan shalat". (Hadits Muttafaq 'alaihi) 
Pengertiannya, siapa yang mendapatkan kurang dari satu rakaat dari waktu Ashar, apakah wajib baginya mengerjakan shalat Zhuhur bersama Ashar, atau mendapatkan satu rakaat dari waktu Isya' apakah wajib baginya mengerjakan shalat Maghrib bersama Isya' ? 

Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama dalam masalah ini. Dan yang benar, bahwa tidak wajib baginya kecuali shalat yang didapatkan sebagian waktu saja, yaitu shalat Ashar dan Isya'. Karena sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. 
"Artinya : Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari shalat Ashar sebelum matahari terbenam, maka dia telah mendapatkan shalat Ashar itu". (Hadits Muttafaq 'alaihi) 
Nabi tidak menyatakan "maka ia telah mendapatkan shalat Zhuhur dan Ashar", juga tidak menyebutkan kewajiban shalat Zhuhur baginya. Dan menurut kaidah, seseorang itu pada prinsipnya bebas dari tanggungan. Inilah madzhab Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, sebagaimana disebutkan dalam kitab Syarh Al-Muhadzdzab Juz 3, hal.70. 

Adapun membaca dzikir, takbir, tasbih, tahmid dan bismillah ketika hendak makan atau pekerjaan lainnya, membaca hadits, fiqh, do'a dan aminnya, serta mendengarkan Al-Qur'an, maka tidak diharamkan bagi wanita haid. Hal ini berdasarkan hadits dalam Shahih Al-Bukhari-Muslim dan kitab lainnya bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersandar di kamar Aisyah Radhiyallahu 'anha yang ketika itu sedang haid, lalu beliau membaca Al-Qur'an. 

Diriwayatkan pula dalam Shahih Al-Bukhari-Muslim dari Ummu 'Athiyah Radhiyallahu 'anha bahwa ia mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. 
"Artinya : Agar keluar para gadis, perawan dan wanita haid -yakni ke shalat Idul fitri dan Adha- serta supaya mereka ikut menyaksikan kebaikan dan do'a orang-orang yang beriman. Tetapi wanita haid menjauhi tempat shalat". 
Sedangkan membaca Al-Qur'an bagi wanita haid itu sendiri, jika dengan mata atau dalam hati tanpa diucapkan dengan lisan maka tidak apa-apa hukumnya. Misalnya, mushaf atau lembaran Al-Qur'an diletakkan lalu matanya menatap ayat-ayat seraya hatinya membaca. Menurut An-Nawawi dalam kitab Syarh Al-Muhadzdzab, Juz 2, hal. 372 hal ini boleh, tanpa ada perbedaan pendapat. 

Adapun jika wanita haid itu membaca Al-Qur'an dengan lisan, maka banyak ulama mengharamkannya dan tidak membolehkannya. Tetapi Al-Bukhari, Ibnu Jarir At-Thabari dan Ibnul Munzdir membolehkannya. Juga boleh membaca ayat Al-Qur'an bagi wanita haid, menurut Malik dan Asy-Syafi'i dalam pendapatnya yang terdahulu, sebagaimana disebutkan dalam kitab Fathul Baari (Juz 1, hal. 408), serta menurut Ibrahim An-Nakha'i sebagaimana diriwayatkan Al-Bukhari. 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa kumpulan Ibnu Qasim mengatakan : 
"Pada dasarnya, tidak ada hadits yang melarang wanita haid membaca Al-Qur'an. Sedangkan pernyataan "Wanita haid dan orang junub tidak boleh membaca ayat Al-Qur'an" adalah hadist dha'if menurut perkataan para ahli hadits. Seandainya wanita haid dilarang membaca Al-Qur'an, seperti halnya shalat, padahal pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kaum wanita pun mengalami haid, tentu hal itu termasuk yang dijelaskan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada umatnya, diketahui para istri beliau sebagai ibu-ibu kaum mu'minin, serta disampaikan para shahabat kepada orang-orang. Namun, tidak ada seorangpun yang menyampaikan bahwa ada larangan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah ini. Karena itu, tidak boleh dihukumi haram selama diketahui bahwa Nabi tidak melarangnya. Jika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak melarangnya, padahal banyak pula wanita haid pada zaman beliau, berarti hal ini tidak haram hukumnya". (Ibid, Juz 2. hal, 191) 
Setelah mengetahui perbedaan pendapat di antara para ulama, seyogyanya kita katakan, lebih utama bagi wanita haid tidak membaca Al-Qur'an secara lisan, kecuali jika diperlukan. Misalnya, seorang guru wanita yang perlu mengajarkan membaca Al-Qur'an kepada siswi-siswinya atau seorang siswi yang pada waktu ujian perlu diuji dalam membaca Al-Qur'an, dan lain sebagainya.

2. Puasa 

Diharamkan bagi wanita haid berpuasa, baik itu puasa wajib mupun puasa sunat, dan tidak sah puasa yang dilakukannya. Akan tetapi ia berkewajiban mengqadha' puasa yang wajib, berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu 'anha. 
"Artinya : Ketika kami mengalami haid, diperintahkan kepada kami mengqadha' puasa dan tidak diperintahkan mengqadha' shalat". (Hadits Muttafaq 'alaih) 
Jika seorang wanita kedatangan haid ketika sedang berpuasa maka batallah puasanya, sekalipun hal itu terjadi saat menjelang maghrib, dan wajib baginya mengqadha' puasa hari itu jika puasa wajib. Namun, jika ia merasakan tanda-tanda akan datangnya haid sebelum maghrib, tetapi baru keluar darah setelah maghrib, maka menurut pendapat yang shahih bahwa puasanya itu sempurna dan tidak batal. Alasannya, darah yang masih berada di dalam rahim belum ada hukumnya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika ditanya tentang wanita yang bermimpi dalam tidur seperti mimpinya orang laki-laki, apakah wajib mandi ? Beliau pun menjawab. 
"Artinya : Ya, jika wanita itu melihat adanya air mani". 
Dalam hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengaitkan hukum dengan melihat air mani, bukan dengan tanda-tanda akan keluarnya. Demikian pula masalah haid, tidak berlaku hukum-hukumnya kecuali dengan melihat adanya darah keluar, bukan dengan tanda-tanda akan keluarnya. 

Juga jika pada saat terbitnya fajar seorang wanita masih dalam keadaan haid maka tidak sah berpuasa pada hari itu, sekalipun ia suci sesaat setelah fajar. Tetapi jika suci menjelang fajar, maka sah puasanya sekalipun ia baru mandi setelah terbit fajar. Seperti halnya orang dalam keadaan junub, jika berniat puasa ketika masih dalam keadaan junub dan belum sempat mandi kecuali setelah terbit fajar, maka sah puasanya. Dasarnya, hadits Aisyah Radhiyallahu 'anha, katanya. 
"Artinya : Pernah suatu pagi pada bulan Ramadhan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berada dalam keadaan junub karena jima', bukan karena mimpi, lalu beliau berpuasa". (Hadits Muattafaq 'alaihi) 

3. Thawaf 

Diharamkan bagi wanita haid melakukan thawaf di Ka'bah, baik yang wajib maupun yang sunat, dan tidak sah thawafnya. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Aisyah. 
"Artinya : Lakukanlah apa yang dilakukan jemaah haji, hanya saja jangan melakukan thawaf di Ka'bah sebelum kamu suci". 
Adapun kewajiban lainnya, seperti sa'i antara Shafa dan Marwah, wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah dan Mina, melempar jumrah dan amalan haji serta umrah selain itu, tidak diharamkan. Atas dasar ini, jika seorang wanita melakukan thawaf dalam keadaan suci, kemudian keluar haid langsung setelah thawaf, atau di tengah-tengah melakukan sa'i, maka tidak apa-apa hukumnya. 

4. Thawaf Wada' 

Jika seorang wanita telah mengerjakan seluruh manasik haji dan umrah, lalu datang haid sebelum keluar untuk kembali ke negerinya dan haid ini terus berlangsung sampai ia keluar, maka ia boleh berangkat tanpa thawaf wada'. Dasarnya, hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma. 
"Artinya : Diperintahkan kepada jemaah haji agar saat-saat terakhir bagi mereka berada di Baitullah (melakukan thawaf wada'), hanya saja hal itu tidak dibebankan kepada wanita haid". (Hadits Muttafaq 'Alaih) 
Dan tidak disunatkan bagi wanita haid ketika hendak bertolak, mendatangi pintu Masjidil Haram dan berdo'a. Karena hal ini tidak ada dasar ajarannya dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan seluruh ibadah harus berdasarkan pada ajaran (sunnah) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan, menurut ajaran (sunnah) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sebaliknya. Sebagaimana disebutkan dalam kisah Shafiyah Radhiyallahu 'Anha, ketika dalam keadaan haid setelah thawaf ifadhah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya:
"Kalau demikian, hendaklah ia berangkat" (Hadits Muttafaq 'Alaih). 
Dalam hadits ini, Nabi tidak menyuruhnya mendatangi pintu Masjidil Haram. Andaikata hal itu disyariatkan, tentu Nabi sudah menjelaskannya. 
Adapun thawaf untuk haji dan umrah tetap wajib bagi wanita haid, dan dilakukan setelah suci. 

5. Berdiam dalam masjid 

Diharamkan bagi wanita haid berdiam dalam masjid, bahkan diharamkan pula baginya berdiam dalam tempat shalat Ied. Berdasarkan hadits Ummu Athiyah Radhiyallahu Anha bahwa ia mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. 
"Artinya : Agar keluar para gadis, perawan dan wanita haid ... Tetapi wanita haid menjauhi tempat shalat". (Hadits Muttafaq 'Alaih) 

6. Jima' (senggama) 

Diharamkan bagi sang suami melakukan jima' dengan isterinya yang sedang haid, dan diharamkan bagi sang isteri memberi kesempatan kepada suaminya melakukan hal tersebut. Dalilnya, firman Allah Ta'ala. 
"Artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah : 'Haid itu adalah suatu kotoran'. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci ...". (Al-Baqarah : 222) 
Yang dimaksud dengan "Al-mahidhi" dalam ayat di atas adalah waktu haid atau tempat keluarnya yaitu farji (v4gin4). 
Dan sabda nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. 
"Artinya : Lakukan apa saja, kecuali nikah (yakni : bersenggama)". (Hadits Riwayat Muslim) 
Umat Islam juga telah berijma' (sepakat) atas dilarangnya suami melakukan jima' dengan istrinya yang sedang haid dalam farji-nya. 

Oleh karena itu, tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian melakukan perbuatan mungkar ini, yang telah dilarang oleh Kitab Allah, sunnah Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam dan ijma' ummat Islam. Maka siapa saja yang melanggar larangan ini, berarti ia telah memusuhi Allah dan Rasul-Nya serta mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman. 

An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu Syarh Al Muhadzdzab Juz 2, hal. 374. mengatakan : "Imam Asy-Syafi'i berpendapat bahwa orang yang melakukan hal itu telah berbuat dosa besar. Dan menurut para sahabat kami serta yang lainnya, orang yang menghalalkan senggama dengan isteri yang haid hukumnya kafir". 

Untuk menyalurkan syahwatnya, suami diperbolehkan melakukan selain jima' (senggama), seperti : berciuman, berpelukan dan bersebadan pada selain daerah farji (vagina). Namun, sebaiknya, jangan bersebadan pada daerah antara pusat dan lutut jika sang isteri mengenakan kain penutup. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Aisyah Radhiyallahu 'Anha. 
"Artinya : Pernah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruhku berkain, lalu beliau menggauliku sedang aku dalam keadaan haid". (Hadits Muttafaq 'Alaih) 
7. Talak 

Diharamkan bagi seorang suami mentalak isterinya yang sedang haid, berdasarkan firman Allah Ta'ala. 
"Artinya : Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) ...". (Ath-Thalaq: 1) 
Maksudnya, isteri-isteri itu ditalak dalam keadaan dapat menghadapi iddah yang jelas. Berarti, mereka tidak ditalak kecuali dalam keadaan hamil atau suci sebelum digauli. Sebab, jika seorang isteri ditalak dalam keadaan haid, ia tidak dapat menghadapi iddahnya karena haid yang sedang dialami pada saat jatuhnya talak itu tidak dihitung termasuk iddah. Sedangkan jika ditalak dalam keadaan suci setelah digauli, berarti iddah yang dihadapinya tidak jelas karena tidak dapat diketahui apakah ia hamil karena digauli tersebut atau tidak. Jika hamil, maka iddahnya dengan kehamilan; dan jika tidak, maka iddahnya dengan haid. Karena belum dapat dipastikan jenis iddahnya, maka diharamkan bagi sang suami mentalak isterinya sehingga jelas permasalahan tersebut. 

Jadi, mentalak isteri yang sedang haid haram hukumnya. Berdasarkan ayat di atas dan hadits dari Ibnu Umar yang diriwayatkan dalam shahih Al-Bukhari dan Muslim serta kitab hadits lainnya, bahwa ia telah menceraikan isterinya dalam keadaan haid, maka Umar (bapaknya) mengadukan hal itu kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pun marah dan bersabda. 
"Artinya : Suruh ia merujuk isterinya kemudian mempertahankannya sampai ia suci, lalu haid, lalu suci lagi. Setelah itu, jika ia mau, dapat mempertahankannya atau mentalaknya sebelum digauli. Karena itulah iddah yang diperintahkan Allah dalam mentalak isteri". 
Dengan demikian, berdosalah seorang suami andaikata mentalak isterinya yang sedang haid. Ia harus bertaubat kepada Allah dan merujuk isterinya untuk kemudian mentalaknya secara syar'i sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Yakni, setelah merujuk isterinya hendaklah ia membiarkannya sampai suci dari haid yang dialaminya ketika ditalak, kemudian haid lagi, setelah itu jika ia menghendaki dapat mempertahankannya atau mentalaknya sebelum digauli. 
Dalam hal diharamkannya mentalak isteri yang sedang haid, ada tiga masalah yang dikecualikan. 
  1. Jika talak terjadi sebelum berkumpul dengan isteri atau sebelum menggaulinya (dalam keadaan pengantin baru misalnya, pent), maka boleh mentalaknya dalam keadaan haid. Sebab, dalam kasus demikian, si isteri tidak terkena iddah, maka talak tersebut pun tidak menyalahi firman Allah Ta'ala: "... maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) ...". (At-Thalaq : 1) 
  2. Jika haid terjadi dalam keadaan hamil, sebagaimana telah dijelaskan sebabnya pada pasal terdahulu. 
  3. Jika talak tersebut atas dasar 'iwadh (penggantian), maka boleh bagi suami menceraikan isterinya yang sedang haid. 

Misalnya, terjadi percekcokan dan hubungan yang tidak harmonis lagi antara suami - isteri. Lalu si isteri meminta suami agar mentalaknya dan suami memperoleh ganti rugi karenanya, maka hal itu boleh sekalipun isteri dalam keadaan haid. Berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma. 
"Artinya : Bahwa isteri Tsabit bin Qais bin Syammas datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata : 'Ya Rasulullah, sungguh aku tidak mencelanya dalam ahlak maupun agamanya, tetapi aku takut akan kekafiran dalam Islam'. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya : 'Maukah kamu mengembalikan kepadanya kebunnya?'. Wanita itu menjawab : 'Ya'. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda (kepada suaminya): 'Terimalah kebun itu, dan ceraikanlah ia". (Hadits Riwayat Al-Bukhari) 
Dalam hadits tadi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak bertanya apakah si isteri sedang haid atau suci. Dan karena talak ini dibayar oleh pihak isteri dengan tebusan atas dirinya maka hukumnya boleh dalam keadaan bagaimanapun, jika memang diperlukan. 

Dalam kitab Al-Mughni disebutkan tentang alamat bolehnya khulu' (cerai atas permintaan pihak isteri dengan membayar tebusan) dalam keadaan haid: 
"Dilarang-nya talak dalam keadaan haid adalah adanya madharat (bahaya) bagi si isteri dengan menunggu lamanya masa 'iddah. Sedang khulu' adalah untuk menghilangkan madharat bagi si isteri disebabkan hubungan yang tidak harmonis dan sudah tidak tahan tinggal bersama suami yang dibenci dan tidak disenanginya. Hal ini tentu lebih besar madharatnya bagi si isteri daripada menunggu lamanya masa 'iddah, maka diperbolehkan menghindari madharat yang lebih besar dengan menjalani sesuatu yang lebih ringan madharatnya. Karena itu Nabi tidak bertanya kepada wanita yang meminta khulu' tentang keadaannya". (Ibid, Juz 7, hal. 52) 
Dan dibolehkan melakukan akad nikah dengan wanita yang sedang haid, karena hal itu pada dasarnya adalah halal, dan tidak ada dalil yang melarangnya. Namun, perlu dipertimbangkan bila suami diperkenankan berkumpul dengan isteri yang sedang dalam keadaan haid. Jika tidak dikhawatirkan akan menggauli isterinya yang sedang haid tidak apa-apa. Sebaliknya, jika dikhawatirkan maka tidak diperkenankan berkumpul dengannya sebelum suci untuk menghindari hal-hal yang dilarang. 

8. 'Iddah Talak dihitung dengan haid 

Jika seorang suami menceraikan isteri yang telah digauli atau berkumpul dengannya, maka si isteri harus beriddah selama tiga kali haid secara sempurna apabila termasuk wanita yang masih mengalami haid dan tidak hamil. Hal ini didasarkan pada firman Allah. 
"Artinya : Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'...". (Al-Baqarah : 228) 
Tiga kali quru' artinya tiga kali haid. Tetapi jika si isteri dalam keadaan hamil, maka iddahnya ialah sampai melahirkan, baik masa iddahnya itu lama maupun sebentar. Berdasarkan firman Allah. 
"Artinya : ... Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya ...". (Ath-Thalaaq : 4) 
Jika si isteri termasuk wanita yang tidak haid, karena masih kecil dan belum mengalami haid, atau sudah menopause, atau karena pernah operasi pada rahimnya, atau sebab-sebab lain sehingga tidak diharapkan dapat haid kembali, maka iddahnya adalah tiga bulan. Sebagaimana firman Allah. 
"Artinya : Dan perempuan-perempuan yang putus asa dari haid di antara isteri-isterimu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu pula perempuan-perempuan yang tidak haid ...". (At-Thalaaq:4) 
Jika si isteri termasuk wanita-wanita yang masih mengalami haid, tetapi terhenti haidnya karena suatu sebab yang jelas seperti sakit atau menyusui, maka ia tetap dalam iddahnya sekalipun lama masa iddahnya sampai ia kembali mendapati haid dan beriddah dengan haid itu. Namun jika sebab itu sudah tidak ada, seperti sudah sembuh dari sakit atau telah selesai dari menyusui sementara haidnya tak kunjung datang, maka iddahnya satu bulan penuh terhitung mulai dari tidak adanya sebab tersebut. Inilah pedapat yang shahih yang sesuai dengan kaidah-kaidah syar'iyah. Dengan alasan, jika sebab itu sudah tidak ada sementara haid tak kunjung datang maka wanita tersebut hukumnya seperti wanita yang terhenti haidnya karena sebab yang tidak jelas. Dan jika terhenti haidnya karena sebab yang tidak jelas, maka iddahnya yaitu satu tahun penuh dengan perhitungan; sembilan bulan sebagai sikap hati-hati untuk kemungkinan hamil (karena masa kehamilan pada umumnya 9 bulan) dan tiga bulan untuk iddahnya. 

Adapun jika talak terjadi setelah akad nikah sedang sang suami belum mencampuri dan menggauli isterinya, maka dalam hal ini tidak ada iddah sama sekali, baik dengan haid maupun yang lain. Berdasarkan firman Allah Ta'ala. 
"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu menceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka iddah yang kamu minta menyempurnakannya ...". (Al-Ahzaab : 49) 

9. Keputusan bebasnya rahim

Yakni keputusan bahwa rahim bebas dari kandungan. Ini diperlukan selama keputusan bebasnya rahim dianggap perlu, karena hal ini berkaitan dengan beberapa masalah. Antara lain, apabila seorang mati dan meninggalkan wanita (isteri) yang kandungannya dapat menjadi ahli waris orang tersebut, padahal si wanita setelah itu bersuami lagi. Maka suaminya yang baru itu tidak boleh menggaulinya sebelum ia haid atau jelas kehamilannya. Jika telah jelas kehamilannya, maka kita hukumi bahwa janin yang dikandungnya mendapatkan hak warisan karena kita putuskan adanya janin tersebut pada saat bapaknya mati. Namun, jika wanita itu pernah haid (sepeninggal suaminya yang pertama), maka kita hukumi bahwa janin yang dikandungnya tidak mendapatkan hak warisan karena kita putuskan bahwa rahim wanita tersebut bebas dari kehamilan dengan adanya haid. 

10. Kewajiban mandi 

Wanita haid jika telah suci wajib mandi dengan membersihkan seluruh badannya. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Fatimah binti Abu Hubaisy. 
"Artinya : Bila kamu kedatangan haid maka tinggalkan shalat, dan bila telah suci mandilah dan kerjakan shalat". (Hadits Riwayat Al-Bukhari) 
Kewajiban minimal dan mandi yaitu membersihkan seluruh anggota badan sampai bagian kulit yang ada di bawah rambut. Yang afdhal (lebih utama), adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala ditanya oleh Asma binti Syakl tentang mandi haid, beliau bersabda. 
"Artinya : Hendaklah seseorang di antara kamu mengambil air dan daun bidara lalu berwudhu dengan sempurna, kemudian mengguyurkan air di bagian atas kepala dan menggosok-gosoknya dengan kuat sehingga merata ke seluruh kepalanya, selanjutnya mengguyurkan air pada anggota badannya. Setelah itu, mengambil sehelai kain yang ada pengharumnya untuk bersuci dengannya. "Asma bertanya : "Bagaimana bersuci dengannya ?" Nabi menjawab : "Subhanallah". Maka Aisyah pun menerangkan dengan berkata : "Ikutilah bekas-bekas darah". (Hadits Riwayat Muslim) Shahih Muslim, Juz 1 hal.179. 
Tidak wajib melepas gelungan rambut, kecuali jika terikat kuat dan dikhawatirkan air tidak sampai ke dasar rambut. Hal ini didasarkan pada hadits yang tersebut dalam Shahih Muslim Juz 1, hal. 178 dari Ummu Salamah Radhiyallahu 'anha bahwa ia bertanya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. 
"Artinya : 'Aku seorang wanita yang menggelung rambutku, haruskah aku melepasnya untuk mandi jinabat ?' Menurut riwayat lain : 'untuk (mandi) haid dan jinabat ?' Nabi bersabda. 'Tidak, cukup kamu siram kepalamu tiga kali siraman (dengan tanganmu), lalu kamu guyurkan air ke seluruh tubuhmu, maka kamupun menjadi suci". 
Apabila wanita haid mengalami suci di tengah-tengah waktu shalat, ia harus segera mandi agar dapat melakukan shalat pada waktunya. Jika ia sedang dalam perjalanan dan tidak ada air, atau ada air tetapi takut membahayakan dirinya dengan menggunakan air, atau sakit dan berbahaya baginya air, maka ia boleh bertayamum sebagai ganti dari mandi sampai hal yang menghalanginya itu tidak ada lagi, kemudian mandi. 

Ada di antara kaum wanita yang suci di tengah-tengah waktu shalat tetapi menunda mandi ke waktu lain, dalihnya : "Tidak mungkin dapat mandi sempurna pada waktu sekarang ini". Akan tetapi ini bukan alasan ataupun halangan, karena boleh baginya mandi sekedar untuk memenuhi yang wajib dan melaksanakan shalat pada waktunya. Apabila kemudian ada kesempatan lapang, barulah ia dapat mandi dengan sempurna. 

================
Disalin dari buku Risalah Fid Dimaa' Ath-Thabii'iyah Lin Nisaa'. Penulis Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-'Utsaimin, edisi Indonesia Darah Kebiasaan Wanita hal. 26-44. Penerjemah Muhammad Yusuf Harun, MA. Penerbit Darul Haq Jakarta