February 2018 - CUC

Tuesday, 27 February 2018

Tata Cara Tidur Sesuai Sunnah Nabi

18:17 0
Tata Cara Tidur Sesuai Sunnah Nabi
Tata Cara Tidur Sesuai Sunnah Nabi

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya .

Adab islami sebelum tidur yang seharusnya tidak ditinggalkan oleh seorang muslim adalah sebagai berikut.

Pertama : Tidurlah dalam keadaan berwudhu.

Hal ini berdasarkan hadits Al Baro’ bin ‘Azib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﺫَﺍ ﺃَﺗَﻴْﺖَ ﻣَﻀْﺠَﻌَﻚَ ﻓَﺘَﻮَﺿَّﺄْ ﻭُﺿُﻮﺀَﻙَ ﻟِﻠﺼَّﻼَﺓِ ، ﺛُﻢَّ ﺍﺿْﻄَﺠِﻊْ ﻋَﻠَﻰ ﺷِﻘِّﻚَ ﺍﻷَﻳْﻤَﻦِ

“ Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu” (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)

Kedua : Tidur berbaring pada sisi kanan.

Hal ini berdasarkan hadits di atas. Adapun manfaatnya sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, “Tidur berbaring pada sisi kanan dianjurkan dalam Islam agar seseorang tidak kesusahan untuk bangun shalat malam. Tidur pada sisi kanan lebih bermanfaat pada jantung. Sedangkan tidur pada sisi kiri berguna bagi badan (namun membuat seseorang semakin malas)” (Zaadul Ma’ad, 1/321-322).

Ketiga : Meniup kedua telapak tangan sambil membaca surat Al Ikhlash (qul huwallahu ahad), surat Al Falaq (qul a’udzu bi robbil falaq), dan surat An Naas (qul a’udzu bi robbinnaas), masing-masing sekali. Setelah itu mengusap kedua tangan tersebut ke wajah dan bagian tubuh yang dapat dijangkau. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali. 

Inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dikatakan oleh istrinya ‘Aisyah.

Dari ‘Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

ﻛَﺎﻥَ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﻭَﻯ ﺇِﻟَﻰ ﻓِﺮَﺍﺷِﻪِ ﻛُﻞَّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ ﺟَﻤَﻊَ ﻛَﻔَّﻴْﻪِ ﺛُﻢَّ ﻧَﻔَﺚَ ﻓِﻴﻬِﻤَﺎ ﻓَﻘَﺮَﺃَ ﻓِﻴﻬِﻤَﺎ ‏( ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﺣَﺪٌ ‏) ﻭَ ‏( ﻗُﻞْ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﺮَﺏِّ ﺍﻟْﻔَﻠَﻖِ ‏) ﻭَ ‏( ﻗُﻞْ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﺮَﺏِّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ‏) ﺛُﻢَّ ﻳَﻤْﺴَﺢُ ﺑِﻬِﻤَﺎ ﻣَﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﺎﻉَ ﻣِﻦْ ﺟَﺴَﺪِﻩِ ﻳَﺒْﺪَﺃُ ﺑِﻬِﻤَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﺃْﺳِﻪِ ﻭَﻭَﺟْﻬِﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻗْﺒَﻞَ ﻣِﻦْ ﺟَﺴَﺪِﻩِ ﻳَﻔْﻌَﻞُ ﺫَﻟِﻚَ ﺛَﻼَﺙَ ﻣَﺮَّﺍﺕٍ

“ Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali .” (HR. Bukhari no. 5017). 

Membaca Al Qur’an sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini lebih menenangkan hati dan pikiran daripada sekedar mendengarkan alunan musik.

Keempat : Membaca ayat kursi sebelum tidur.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

ﻭَﻛَّﻠَﻨِﻰ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺑِﺤِﻔْﻆِ ﺯَﻛَﺎﺓِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ، ﻓَﺄَﺗَﺎﻧِﻰ ﺁﺕٍ ، ﻓَﺠَﻌَﻞَ ﻳَﺤْﺜُﻮ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ، ﻓَﺄَﺧَﺬْﺗُﻪُ ﻓَﻘُﻠْﺖُ ﻷَﺭْﻓَﻌَﻨَّﻚَ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – . ﻓَﺬَﻛَﺮَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﻭَﻳْﺖَ ﺇِﻟَﻰ ﻓِﺮَﺍﺷِﻚَ ﻓَﺎﻗْﺮَﺃْ ﺁﻳَﺔَ ﺍﻟْﻜُﺮْﺳِﻰِّ ﻟَﻦْ ﻳَﺰَﺍﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﺎﻓِﻆٌ ، ﻭَﻻَ ﻳَﻘْﺮَﺑُﻚَ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ ﺣَﺘَّﻰ ﺗُﺼْﺒِﺢَ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ‏« ﺻَﺪَﻗَﻚَ ﻭَﻫْﻮَ ﻛَﺬُﻭﺏٌ ، ﺫَﺍﻙَ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ ‏»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadhan kemudian ada orang yang datang mencuri makanan namun aku merebutnya kembali, lalu aku katakan, “ Aku pasti akan mengadukan kamu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “. Lalu Abu Hurairah

radhiyallahu ‘anhu menceritakan suatu hadits berkenaan masalah ini. Selanjutnya orang yang datang kepadanya tadi berkata, “ Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al Kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syetan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi “. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “ Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu syetan “. (HR. Bukhari no. 3275)

Kelima : Membaca do’a sebelum tidur “ Bismika allahumma amuutu wa ahyaa ”.

Dari Hudzaifah, ia berkata,

ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺇِﺫَﺍ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺃَﻥْ ﻳَﻨَﺎﻡَ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺑِﺎﺳْﻤِﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃَﻣُﻮﺕُ ﻭَﺃَﺣْﻴَﺎ ‏» . ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺍﺳْﺘَﻴْﻘَﻆَ ﻣِﻦْ ﻣَﻨَﺎﻣِﻪِ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﺃَﺣْﻴَﺎﻧَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﺎ ﺃَﻣَﺎﺗَﻨَﺎ ، ﻭَﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺍﻟﻨُّﺸُﻮﺭُ ‏»

“ Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari no. 6324)

Masih ada beberapa dzikir sebelum tidur lainnya yang tidak kami sebutkan dalam tulisan kali ini. Silakan menelaahnya di buku Hisnul Muslim, Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qohthoni.

Keenam: Sebisa mungkin membiasakan tidur di awal malam (tidak sering begadang) jika tidak ada kepentingan yang bermanfaat.

Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,

ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻜْﺮَﻩُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟْﻌِﺸَﺎﺀِ ﻭَﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚَ ﺑَﻌْﺪَﻫَﺎ

“ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya. ” (HR. Bukhari no. 568)

Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “ Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?! ” (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah)

Semoga kajian kita kali ini bisa kita amalkan. Hanya Allah yang beri taufik.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Sumber: rumaysho.com

Tata Cara Khutbah Idul Adha dan Idul Fithri Sesuai Sunnah

18:17 0
Tata Cara Khutbah Idul Adha dan Idul Fithri Sesuai Sunnah
KHUTBAH SETELAH SHALAT IED


Oleh: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari

Termasuk sunnah dalam khutbah Ied adalah dilakukan setelah shalat. Dalam permasalahan ini Bukhari membuat bab dalam kitab ‘Shahih’nya [1] : “Bab Khutbah Setelah Shalat Ied”.


Ibnu Abbas berkata :

ﺷَﻬِﺪْﺕُ ﺍﻟْﻌِﻴﺪَ ﻣَﻊَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺃَﺑِﻲ ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮَ ﻭَﻋُﺜْﻤَﺎﻥَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻓَﻜُﻠُّﻬُﻢْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳُﺼَﻠُّﻮﻥَ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟْﺨُﻄْﺒَﺔِ

“Aku menghadiri shalat Ied bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu ‘anhum. Semua mereka melakukan shalat sebelum khutbah” [Riwayat Bukhari 963, Muslim 884 dan Ahmad 1/331 dan 346]

Ibnu Umar berkata :

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺃَﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮُ ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳُﺼَﻠُّﻮﻥَ ﺍﻟْﻌِﻴﺪَﻳْﻦِ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟْﺨُﻄْﺒَﺔِ

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar menunaikan shalat Idul Fithri dan Idul Adha sebelum khutbah” [Riwayat Bukhari 963, Muslim 888, At-Tirmidzi 531, An-Nasa’i 3/183, Ibnu Majah 1276 dan Ahmad 2/12 dan 38]

Waliullah Ad-Dahlawi menyatakan ketika mengomentari bab yang dibuat Bukhari di atas [2] :
“Yakni : Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang diamalkan Al-Khulafaur Rasyidin adalah khutbah setelah shalat. Adapun perubahan yang terjadi -yang aku maksud adalah mendahulukan khutbah dari shalat dengan mengqiyaskan dengan shalat Jum’at- merupakan perbuatan bid’ah yang bersumber dari Marwan” [Dia adalah Marwan Ibnul Hakam bin Abil ‘Ash, Khalifah dari Banni Umayyah wafat tahun 65H, biografinya dalam ‘Tarikh Ath-Thabari 7/34]

Berkata Imam Tirmidzi [3] :
“Yang diamalkan dalam hal ini di sisi ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selain mereka adalah shalat Idul Fithri dan Adha dikerjakan sebelum khutbah. orang pertama yang berkhutbah sebelum shalat adalah Marwan bin Al-Hakam” [Lihat kitab Al-Umm 1/235-236 oleh Imam ASy-Syafi’i Rahimahullah dan Aridlah Al-Ahwadzi 3/3-6 oleh Al-qadli Ibnul Arabi Al-Maliki]

TIDAK WAJIB MENGHADIRI (MENDENGARKAN) KHUTBAH

Abi Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu berkata :

ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺿْﺤَﻰ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤُﺼَﻠَّﻰ ﻓَﺄَﻭَّﻝُ ﺷَﻲْﺀٍ ﻳَﺒْﺪَﺃُ ﺑِﻪِ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓُ ﺛُﻢَّ ﻳَﻨْﺼَﺮِﻑُ ﻓَﻴَﻘُﻮﻡُ ﻣُﻘَﺎﺑِﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻭَﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺟُﻠُﻮﺱٌ ﻋَﻠَﻰ ﺻُﻔُﻮﻓِﻬِﻢْ ﻓَﻴَﻌِﻈُﻬُﻢْ ﻭَﻳُﻮﺻِﻴﻬِﻢْ ﻭَﻳَﺄْﻣُﺮُﻫُﻢْ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar menuju mushalla pada hari Idul Fithri dan Adha. Maka yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat. Kemudian beliau berpaling menghadap manusia sedangkan mereka dalam keadaan duduk di shaf-shaf mereka. Beliau lalu memberi pelajaran, wasiat dan perintah” [Dikeluarkan oleh Bukhari 956, Muslim 889, An-Nasa’i 3/187, Al-Baihaqi 3/280 dan Ahmad 3/36 dan 54]

Khutbah Id sebagaimana khutbah-khutbah yang lain, dibuka dengan pujian dan sanjungan kepada Allah Yang Maha Mulia.

Berkata Ibnul Qoyyim Rahimahullah :
“Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membuka semua khutbahnya dengan pujian untuk Allah. Tidak ada satu hadits pun yang dihafal (hadits shahih yang menyatakan) bahwa beliau membuka khutbah Idul Fitri dan Adha dengan takbir. Adapaun yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam ‘Sunan’nya[4] dari Sa’ad Al-Quradhi muadzin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau memperbanyak bacaan takbir dalam khutbah dua Id, hal itu tidaklah menunjukkan bahwa beliau membuka khutbahnya dengan takbir” [Zadul Ma’ad 1/447-448]

Tidak ada yang shahih dalam sunnah bahwa khutbah Id dilakukan dua kali dengan dipisah antara keduanya dengan duduk.

Riwayat yang ada tentang hal ini lemah sekali. Al-Bazzar meriwayatkan dalam “Musnad”nya (no. 53-Musnad Sa’ad) dari gurunya Abdullah bin Syabib dengan sanadnya dari Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah dengan dua khutbah dan beliau memisahkan di antara keduanya dengan duduk.
Bukhari berkata tentang Abdullah bin Syabib : “Haditsnya mungkar”
Maka khutbah Ied itu tetap satu kali seperti asalnya.

Menghadiri khutbah Ied tidaklah wajib seperti menghadiri shalat, karena ada riwayat dari Abdullah bin Saib, ia berkata : “Aku menghadiri Ied bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika selesai shalat, beliau bersabda :

ﺇِﻧَّﺎ ﻧَﺨْﻄُﺐُ ﻓَﻤَﻦْ ﺃَﺣَﺐَّ ﺃَﻥْ ﻳَﺠْﻠِﺲَ ﻟِﻠْﺨُﻄْﺒَﺔِ ﻓَﻠْﻴَﺠْﻠِﺲْ ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺣَﺐَّ ﺃَﻥْ ﻳَﺬْﻫَﺐَ ﻓَﻠْﻴَﺬْﻫَﺐْ

‘Sesungguhnya kami akan berkhutbah, barangsiapa yang ingin tetap duduk untuk mendengarkan maka duduklah dan siapa yang hendak pergi maka pergilah” [Diriwayatkan Abu Daud 1155, An-Nasa’i 3/185, Ibnu Majah 1290, dan Al-Hakim 1/295, dan isnadnya Shahih. Lihat Irwaul Ghalil 3.96-98]

Berkata Ibnul Qoyyim Rahimahullah [5] :
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan bagi yang meghadiri shala Id untuk duduk mendengarkan khutbah atau pergi” [Lihat Majmu Fatawa Syaikhul Islam 24/214]

[Disalin dari buku Ahkaamu Al’Iidaini Fii Al Sunnah Al Muthahharah, edisi Indonesia Hari Raya Bersama Rasulullah, oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, terbitan Pustaka Al-Haura’, penerjemah Ummu Ishaq Zulfa Husein]
______
Footnote.
[1]. Kitabul Iedain, bab nomor 8. Lihat Fathul Bari 2/453
[2]. Syarhu Tarajum Abwabil Bukhari 79
[3]. Dalam Sunan Tirmidzi 2/411
[4]. Dengan nomor 1287, dan diriwayatkan juga oleh Al-Hakim 3/607, Al-Baihaqi 3/299 dari Abdurrahman bin Sa’ad bin Ammar bin Sa’ad muadzin. Abdurrahman berkata : “Telah menceritakan kepadaku bapakku dari bapaknya dari kakeknya …” lalu ia menyebutkannya. Riwayat ini isnadnya lemah, karena Abdurrahman bin Sa’ad rawi yang dhaif, sedangkan bapak dan kakeknya adalah rawi yang majhul (tidak dikenal)
[5]. Zadul Ma’ad 1/448
Sumber: almanhaj.or.id

Cara Menyembelih Hewan Sesuai Sunnah Nabi

18:14 0
Cara Menyembelih Hewan Sesuai Sunnah Nabi
Cara Menyembelih Hewan Sesuai Sunnah Nabi


Tata cara menyembelih hewan ada dua macam:


1. Nahr [arab: ﻧﺤﺮ ], menyembelih hewan dengan melukai bagian tempat kalung (pangkal leher). Ini adalah cara menyembelih hewan unta.
Allah berfirman,


ﻭَﺍﻟْﺒُﺪْﻥَ ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻫَﺎ ﻟَﻜُﻢ ﻣِّﻦ ﺷَﻌَﺎﺋِﺮِ ﺍﻟﻠﻪ ﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺧَﻴْﺮٌ ﻓَﺎﺫْﻛُﺮُﻭﺍ ﺍﺳْﻢَ ﺍﻟﻠﻪ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺻَﻮَﺍﻑَّ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻭَﺟَﺒَﺖْ ﺟُﻨُﻮﺑُﻬَﺎ ﻓَﻜُﻠُﻮﺍ



Telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu bagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah… (QS. Al Haj: 36)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menjelaskan ayat di atas, (Untanya) berdiri dengan tiga kaki, sedangkan satu kaki kiri depan diikat. (Tafsir Ibn Katsir untuk ayat ini)

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma , beliau mengatakan, bahwa Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat menyembelih unta dengan posisi kaki kiri depan diikat dan berdiri dengan tiga kaki sisanya. (HR. Abu daud dan disahihkan Al-Albani).


2. Dzabh [arab: ﺫﺑﺢ ], menyembelih hewan dengan melukai bagian leher paling atas (ujung leher). Ini cara menyembelih umumnya binatang, seperti kambing, ayam, dst.



Pada bagian ini kita akan membahas tata cara Dzabh, karena Dzabh inilah menyembelih yang dipraktikkan di tempat kita -bukan nahr -.



Beberapa adab yang perlu diperhatikan:

1. Hendaknya yang menyembelih adalah shohibul kurban sendiri, jika dia mampu. Jika tidak maka bisa diwakilkan orang lain, dan shohibul kurban disyariatkan untuk ikut menyaksikan.

2. Gunakan pisau yang setajam mungkin. Semakin tajam, semakin baik. Ini berdasarkan hadis dari Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu , bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻹِﺣْﺴَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗَﺘَﻠْﺘُﻢْ ﻓَﺄَﺣْﺴِﻨُﻮﺍ ﺍﻟْﻘِﺘْﻠَﺔَ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺫَﺑَﺤْﺘُﻢْ ﻓَﺄَﺣْﺴِﻨُﻮﺍ ﺍﻟﺬَّﺑْﺢ ﻭَ ﻟﻴُﺤِﺪَّ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺷَﻔْﺮَﺗَﻪُ ﻓَﻠْﻴُﺮِﺡْ ﺫَﺑِﻴﺤَﺘَﻪُ

“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan ihsan, jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan ihsan. Hendaknya kalian mempertajam pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim).

3. Tidak mengasah pisau dihadapan hewan yang akan disembelih. Karena ini akan menyebabkan dia ketakutan sebelum disembelih. Berdasarkan hadis dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ,

ﺃَﻣَﺮَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺑِﺤَﺪِّ ﺍﻟﺸِّﻔَﺎﺭِ ، ﻭَﺃَﻥْ ﺗُﻮَﺍﺭَﻯ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﺒَﻬَﺎﺋِﻢِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengasah pisau, tanpa memperlihatkannya kepada hewan.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah ).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seseorang yang meletakkan kakinya di leher kambing, kemudian dia menajamkan pisaunya, sementar binatang itu melihatnya. Lalu beliau bersabda (artinya): “Mengapa engkau tidak menajamkannya sebelum ini ?! Apakah engkau ingin mematikannya sebanyak dua kali?!.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad sahih).

4. Menghadapkan hewan ke arah kiblat.

Disebutkan dalam Mausu’ah Fiqhiyah:
Hewan yang hendak disembelih dihadapkan ke kiblat pada posisi tempat organ yang akan disembelih (lehernya) bukan wajahnya. Karena itulah arah untuk mendekatkan diri kepada Allah. (Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah , 21:196).

Dengan demikian, cara yang tepat untuk menghadapkan hewan ke arah kiblat ketika menyembelih adalah dengan memosisikan kepala di Selatan, kaki di Barat, dan leher menghadap ke Barat.

5. Membaringkan hewan di atas lambung sebelah kiri.

Imam An-Nawawi mengatakan,
Terdapat beberapa hadis tentang membaringkan hewan (tidak disembelih dengan berdiri, pen.) dan kaum muslimin juga sepakat dengan hal ini. Para ulama sepakat, bahwa cara membaringkan hewan yang benar adalah ke arah kiri. Karena ini akan memudahkan penyembelih untuk memotong hewan dengan tangan kanan dan memegangi leher dengan tangan kiri. (Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah , 21:197).

Penjelasan yang sama juga disampaikan Syekh Ibnu Utsaimin. Beliau mengatakan, “Hewan yang hendak disembelih dibaringkan ke sebelah kiri, sehingga memudahkan bagi orang yang menyembelih. Karena penyembelih akan memotong hewan dengan tangan kanan, sehingga hewannya dibaringkan di lambung sebelah kiri. (Syarhul Mumthi’ , 7:442).

6. Menginjakkan kaki di leher hewan. 

Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu , beliau mengatakan,

ﺿﺤﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠّﻢ ﺑﻜﺒﺸﻴﻦ ﺃﻣﻠﺤﻴﻦ، ﻓﺮﺃﻳﺘﻪ ﻭﺍﺿﻌﺎً ﻗﺪﻣﻪ ﻋﻠﻰ ﺻﻔﺎﺣﻬﻤﺎ ﻳﺴﻤﻲ ﻭﻳﻜﺒﺮ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor domba. Aku lihat beliau meletakkan meletakkan kaki beliau di leher hewan tersebut, kemudian membaca basmalah …. (HR. Bukhari dan Muslim).

7. Bacaan ketika hendak menyembelih.

Beberapa saat sebelum menyembelih, harus membaca basmalah. Ini hukumnya wajib, menurut pendapat yang kuat. Allah berfirman,

ﻭَ ﻻَ ﺗَﺄْﻛُﻠُﻮﺍْ ﻣِﻤَّﺎ ﻟَﻢْ ﻳُﺬْﻛَﺮِ ﺍﺳْﻢُ ﺍﻟﻠﻪ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﻔِﺴْﻖٌ ..

Janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan . (QS. Al-An’am: 121).

8. Dianjurkan untuk membaca takbir (Allahu akbar) setelah membaca basmalah

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu , bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih dua ekor domba bertanduk,…beliau sembelih dengan tangannya, dan baca basmalah serta bertakbir…. (HR. Al Bukhari dan Muslim).

9. Pada saat menyembelih dianjurkan menyebut nama orang yang jadi tujuan dikurbankannya herwan tersebut.

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma , bahwa suatu ketika didatangkan seekor domba. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dengan tangan beliau. Ketika menyembelih beliau mengucapkan, ‘bismillah wallaahu akbar, ini kurban atas namaku dan atas nama orang yang tidak berkurban dari umatku.’” (HR. Abu Daud, At-Turmudzi dan disahihkan Al-Albani).

Setelah membaca bismillah Allahu akbar, dibolehkan juga apabila disertai dengan bacaan berikut:
hadza minka wa laka .” (HR. Abu Dawud, no. 2795) Atau
hadza minka wa laka ’anni atau ’an fulan (disebutkan nama shohibul kurban). Jika yang menyembelih bukan shohibul kurban atau

Berdoa agar Allah menerima kurbannya dengan doa, ” Allahumma taqabbal minni atau min fulan (disebutkan nama
shohibul kurban).” [1]

Catatan: Bacaan takbir dan menyebut nama sohibul kurban hukumnya sunnah, tidak wajib. Sehingga kurban tetap sah meskipun ketika menyembelih tidak membaca takbir dan menyebut nama sohibul kurban.

10. Disembelih dengan cepat untuk meringankan apa yang dialami hewan kurban.
Sebagaimana hadis dari Syaddad bin Aus di atas.

11. Pastikan bahwa bagian tenggorokan, kerongkongan, dua urat leher (kanan-kiri) telah pasti terpotong.

Syekh Abdul Aziz bin Baz menyebutkan bahwa penyembelihan yang sesuai syariat itu ada tiga keadaan (dinukil dari Salatul Idain karya Syekh Sa’id Al-Qohthoni):

1. Terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dan dua urat leher. Ini adalah keadaan yang terbaik. Jika terputus empat hal ini maka sembelihannya halal menurut semua ulama.
2. Terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dan salah satu urat leher. Sembelihannya benar, halal, dan boleh dimakan, meskipun keadaan ini derajatnya di bawah kondisi yang pertama.
3. Terputusnya tenggorokan dan kerongkongan saja, tanpa dua urat leher. Status sembelihannya sah dan halal, menurut sebagian ulama, dan merupakan pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ,

ﻣﺎ ﺃﻧﻬﺮ ﺍﻟﺪﻡ ﻭﺫﻛﺮ ﺍﺳﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻜﻞ، ﻟﻴﺲ ﺍﻟﺴﻦ ﻭﺍﻟﻈﻔﺮ

“Selama mengalirkan darah dan telah disebut nama Allah maka makanlah. Asal tidak menggunakan gigi dan kuku.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

12. Sebagian ulama menganjurkan agar membiarkan kaki kanan bergerak, sehingga hewan lebih cepat meregang nyawa.

Imam An-Nawawi mengatakan, “Dianjurkan untuk membaringkan sapi dan kambing ke arah kiri. Demikian keterangan dari Al-Baghawi dan ulama Madzhab Syafi’i. Mereka mengatakan, “Kaki kanannya dibiarkan…( Al-Majmu’ Syarh Muhadzab , 8:408)

13. Tidak boleh mematahkan leher sebelum hewan benar-benar mati.

Para ulama menegaskan, perbuatan semacam ini hukumnya dibenci. Karena akan semakin menambah rasa sakit hewan kurban. Demikian pula menguliti binatang, memasukkannya ke dalam air panas dan semacamnya. Semua ini tidak boleh dilakukan kecuali setelah dipastikan hewan itu benar-benar telah mati.

Dinyatakan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah , “Para ulama menegaskan makruhnya memutus kepala ketika menyembalih dengan sengaja. Khalil bin Ishaq dalam Mukhtashar -nya untuk Fiqih Maliki, ketika menyebutkan hal-hal yang dimakruhkan pada saat menyembelih, beliau mengatakan,

ﻭﺗﻌﻤﺪ ﺇﺑﺎﻧﺔ ﺭﺃﺱ

“Diantara yang makruh adalah secara sengaja memutus kepala” (Fatawa Syabakah Islamiyah , no. 93893).

Pendapat yang kuat bahwa hewan yang putus kepalanya ketika disembelih hukumnya halal.

Imam Al-Mawardi –salah satu ulama Madzhab Syafi’i– mengatakan, “Diriwayatkan dari Imran bin Husain radhiallahu ‘anhu , bahwa beliau ditanya tentang menyembelih burung sampai putus lehernya? Sahabat Imran menjawab, ‘boleh dimakan.”

Imam Syafi’i mengatakan,

ﻓﺈﺫﺍ ﺫﺑﺤﻬﺎ ﻓﻘﻄﻊ ﺭﺃﺳﻬﺎ ﻓﻬﻲ ﺫﻛﻴﺔ

“Jika ada orang menyembelih, kemudian memutus kepalanya maka statusnya sembelihannya yang sah” (Al-Hawi Al-Kabir , 15:224).
Allahu a’lam.


Sumber: konsultasisyariah.com

Hati-hati, Penipuan Registrasi Sim Card

17:05 0
Hati-hati, Penipuan Registrasi Sim Card
Hati-hati, Penipuan Registrasi Sim Card


Semakin canggih teknologi, urusan tipu menipu pun ikut-ikutan menggunakan kecanggihan teknologi. Diantaranya adalah dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi komunikasi. Berikut ini adalah salah satu contoh Penipuan Berkedok Registrasi Sim Card atau Kartu HP. Saya buktikan juga dengan screen shoot penipuannya.

Pertama, saya dapatkan sms ke HP saya dengan isi: "Besok terakhir! Registrasi simcard tdk diperpanjang. Cek lg no Anda 62856xxxxxxxx apakah sudah diregistrasi, jgn sampai diblokir!Hub *123*552*7#





Karena ingin mengecek apakah kartu saya sudah registrasi atau belum (karena kemarin-kemarinnya pernah ke gerai Indosat dan sudah didata dengan KTP Asli) maka saya coba cek dengan menghubungi *123*552*7

Dan jawabannya adalah Terbuka Kedok Asli Penipunya dengan balasan SMS:

#Permintaan Anda akan segera kami proses.CS: *123*44#. "Nonton video unik Sepakbola! dijamin heboh&seru *123*534*3#"

Nyesek banget. Benar-benar dhalim. Disitu tertulis PT Inzpire. Yang hendak menguras pulsa yang saya miliki. Dilematis! Menghubungi (=berlangganan karena tertipu) dan bila unreg (berhenti berlangganan) jelas terpotong pulsa juga!




Terima kasih anda telah berlangganan layanan ARON dari PT Inzpire. 3sms/mgg,2rb/sms. Stop unreg ARON ke 97475.CS:02183781481




Untuk STOP, ketik UNREG ARON kirim ke 97475. Atau telepon 021-83781481.Silakan Kunjungi : http://inzpire.games Pilih game yg km mau. Masukan kode brkt : 112163

Maka saya berpesan jangan sekali-kali hububungi *123*552*7# jika pulsa yang Anda miliki tidak ingin dikuras oleh PT. Inzpire. Saya yakin, banyak pemilik kartu HP yang tertipu oleh PT. Inzpire ini dengan kedok Registrasi Sim Card.

Semoga kedhaliman mereka ini kelak menjadikan amal kebaikan saya diakhirat. Benar-benar kasihan mereka. Makan barang haram!!!


Dari Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,


مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Siapa yang dagingnya tumbuh dari pekerjaan yang tidak halal, maka neraka pantas untuknya.” (HR. Ibnu Hibban 11: 315, Al Hakim dalam mustadroknya 4: 141. Hadits ini shahih, lihat Shahihul Jaami’ no. 4519)

Wednesday, 14 February 2018

Jurus Penangkal Sihir 10: Memurnikan Tauhid Untuk Allah

23:34 0
Jurus Penangkal Sihir 10: Memurnikan Tauhid Untuk Allah
Jurus Penangkal Sihir 10: Memurnikan Tauhid Untuk Allah

Ini merupakan penghulu dari apa-apa yang kita bahas sebelumnya dan padanya terletak keberhasilan setiap cara, yaitu memurnikan tauhid untuk Allah.

Kita akan beralih dari berfikir tentang sebab kepada Yang Menyebabkan, yaitu Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Perlu diketahui bahwa sebab-sebab tadi ibarat hembusan angin yang bergantung kepada Dzat yang menghembuskannya, Dialah pencipta angin tersebut. Angin tersebut tak akan ber­manfaat atau mencelakakan kecuali atas seizin-Nya.

Dialah satu-satunya yang menghembuskan angin tersebut kepada siapa saja yang Ia ke­hendaki dari hamba-Nya, dan memalingkannya dari siapa saja yang Ia kehendaki dari mereka. Tiada dzat lain selain-Nya.
Allah berfirman:

وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَآدَّ لِفَضْلِهِ

"Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tiada yang dapat menghilangkan­nya kecuali Dia, dan jika Allah menghendaki ke­baikan bagi kamu maka tiada yang dapat menolak karunia-Nya" (QS. Yunus : 107).

Nabi berkata kepada Abdullah bin Abbas:

وَاعْلَمُ أَنَّ الأَمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَي أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَئٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَئٍ قَدْكَتَبَهُ اللهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُواعَلَيْ أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَئٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَئٍ قَدْكَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ

"Ketahuilah, seandainya seluruh umat ini bersatu padu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu niscaya mereka tak akan mampu memberimu man­faat sedikit pun kecuali berupa apa yang telah Allah tentukan bagimu. Dan seandainya mereka bersatu padu untuk mencelakaimu niscaya mereka tak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali berupa apa yang telah Allah tentukan atasmu" (H.R. Tirmidzi).

Tatkala seorang hamba berhasil memurni­kan tauhid untuk Allah maka hatinya akan terbebas dari rasa takut kepada selain-Nya. Mu­suhnya pun menjadi tak seberapa menakutkan baginya dibanding rasa takutnya kepada Allah, bahkan hanya Allah lah yang ditakutinya. Maka Allah pun mengamankannya dari musuhnya hingga lenyaplah segala uneg-uneg dan fikiran yang menghantuinya.
Rasa takutnya, cintanya, tawakkalnya, inabah-nya dan perbuatannya hanya ia peruntukkan bagi Allah saja.

Ia sadar bahwa sibuk memikirkan keadaan musuh dan takut kepadanya merupakan sesua­tu yang dapat menodai kemurnian tauhidnya, karena seandainya ia benar-benar memurnikan tauhidnya maka cukuplah hal itu menyibukkan dirinya dari hal lain. Kelak Allah lah yang akan bertugas menjaga dan membelanya karena Allah akan senantiasa menjadi pembela orang-orang yang beriman.

Jika ia termasuk orang yang beriman maka Allah pasti akan membelanya, dan pembelaan tersebut sesuai dengan kadar keimanannya. Jika imanya sempurna maka ia akan mendapat pem­belaan maksimal dari Allah, dan jika imannya ter­kontaminasi maka pembelaan Allah pun akan mengendur. Begitu pula jika imannya mengala­mi 'pasang-surut' maka pembelaan Allah pun akan seperti itu.
Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian salaf: "Barangsiapa menghadap Allah sepenuh­nya maka Allah pun akan menyambut sepe­nuhnya, dan barangsiapa berpaling dari Allah sepenuhnya maka Allah pun akan berpaling se­penuhnya darinya. Dan barangsiapa sesekali menghadap dan sesekali berpaling maka Allah pun akan seperti itu terhadapnya."

Singkatnya, tauhid merupakan benteng Allah yang paling kokoh, siapa saja yang memasuki­nya akan merasa aman.

Sebagian salaf mengatakan: "Barangsiapa takut kepada Allah maka segala sesuatu akan takut kepadanya, dan barangsiapa tidak takut kepada Allah maka segala sesuatu akan mena­kutkan baginya."

Inilah sepuluh cara untuk menolak kejahat­an orang yang hasad, bahaya sihir dan sihir 'ain. Tak ada cara yang lebih bermanfaat untuk ini melainkan dengan menghadap kepada Allah, tawakkal dan yakin kepada-Nya, serta tidak menyekutukan-Nya dalam rasa takut dengan se­lain-Nya, akan tetapi rasa takutnya hanya ke­pada Allah semata. Demikian juga dengan ti­dak berharap kepada selain Allah namun hanya berharap kepada-Nya.

Hendaknya ia tidak menggantungkan hati­nya kepada selain-Nya, tidak beristighasah kepada selain-Nya dan tidak berharap kecuali hanya kepada-Nya.
Ketika hati seseorang mulai bergantung ke­pada selain Allah, berharap dan takut kepada selain-Nya, seketika itulah ia akan dikuasakan' kepada yang ditakutinya dan menjadi hina di hadapannya. Karena barangsiapa takut kepada selain Allah maka ia akan dikuasakan kepada­nya dan barangsiapa yang berharap sesuatu ke­pada selain Allah ia akan hina dihadapannya dan terhalang dari karunia Allah.

"Demikianlah sunnatullah (ketetapan) Allah atas hamba-Nya dan kamu tidak akan menda­pati perubahan dalam sunnatullah itu."

لسبب العاشر: وهو الجامع لذلك كله وعليه مدار هذه الأسباب، وهو تجريد التوحيد والترحل بالفكر في الأسباب إلى المسبب العزيز الحكيم، والعلم بأن هذه الآيات بمنزلة حركات الرياح وهي بيد محركها وفاطرها وبارئها، ولا تضر ولا تنفع إلا بإذنه، فهو الذي يحسن عبده بها، وهو الذي يصرفها عنه وحده، لا أحد سواه، قال تعالى: {وإن يمسسك الله بضر فلا كاشف له إلا هو وإن يردك بخير فلا راد لفضله} (سورة هود الآية 107) وقال النبي صلى الله عليه وسلّم لعبد الله بن عباس رضي الله عنهما: «واعلم أن الأمة لو اجتمعوا على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك ولو اجتمعوا على أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك» فإذا جرد العبد التوحيد لله خرج من قلبه خوف ما سواه، وكان عدوه أهون عليه من أن يخافه مع الله، بل تفرد الله بالمخافة وقد أمنه منه، وخرج من قلبه اهتمامه به واشتغاله به وفكره فيه، وتجرد لله محبة وخشية وإنابة وتوكلاً واشتغالاً به عن غيره، فيرى أن إعماله فكره في أمر عدوه وخوفه منه واشتغاله به من نقص توحيده، وإلا فلو جرد توحيده لكان له فيه شغل شاغل، والله يتولى حفظه والدفع عنه، فإن الله يدافع عن الذين آمنوا، فإن كان مؤمناً فالله يدافع عنه ولا بد، وبحسب إيمانه يكون دفاع الله عنه، فإن كمل إيمانه كان دفع الله عنه أتم دفع، وإن مزج مزج له، وإن كان مرة ومرة فالله له مرة ومرة، كما قال بعض السلف: من أقبل إلى الله بكليته أقبل الله عليه جملة، ومن أعرض عن الله بكليته أعرض الله عنه جملة، ومن كان مرة ومرة فالله له مرة ومرة.

فالتوحيد حصن الله الأعظم الذي من دخله كان من الآمنين، قال بعض السلف: من خاف الله خافه كل شيء، ومن لم يخف الله أخافه من كل شيء. فهذه عشرة أسباب يندفع بها شر الحاسد والعائن والساحر، وليس له أنفع من توجهه إلى الله وإقباله عليه وتوكله عليه وثقته به، وأن لا يخاف معه غيره، بل يكون خوفه منه وحده، ولا يرجو سواه، بل يرجوه وحده ولا يعلق قلبه بغيره، ولا يستغيث بسواه، ولا يرجو إلا إياه، ومتى علق قلبه بغيره ورجاه وخافه وكل إليه وخذل من جهته، فمن خاف شيئاً غير الله سلط عليه، ومن رجا شيئاً سوى الله خذل من جهته وحرم خيره، هذه سنة الله في خلقه، لن تجد لسنة الله تبديلاً. بدائع الفوائد

[Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah]


Sumber:

www.ibnumajjah.wordpress.com
www.sahab.net

Jurus Penangkal Sihir 9: Memadamkan Kedengkian Permusuhan Dan Gangguan Orang Dengan Berbuat Baik Kepadanya

23:28 0
Jurus Penangkal Sihir 9: Memadamkan Kedengkian Permusuhan Dan Gangguan Orang  Dengan Berbuat Baik Kepadanya
Jurus Penangkal Sihir 9 : 
Memadamkan Kedengkian Permusuhan Dan Gangguan Orang 
Dengan Berbuat Baik Kepadanya

Ini merupakan cara yang paling berat bagi hawa nafsu, tak ada yang sanggup melaksana­kannya kecuali orang yang mendapat keberun­tungan yang besar dari Allah; yaitu memadam­kan kedengkian permusuhan dan gangguan orang lain dengan berbuat baik kepadanya. Setiap kali gangguan keburukan permusuhan dan kedengkian itu bertambah, bertambah pula kebaikannya kepada musuhnya. Ia justru semakin iba dan kasihan kepada musuhnya... hatinya pun tergerak untuk menasehatinya.

Saya rasa Anda sulit mempercayainya apa­lagi mencobanya, maka renungkanlah firman Allah berikut:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ. وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ. وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. 

"Dan tidaklah, sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah ia menjadi teman yang se­tia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan me­lainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika syaithan mengganggumu dengan suatu gangguan maka mohonlah perlindungan kepada Allah, se­sungguhnya Ia Maha Mendengar lagi Maha Me­ngetahui." (QS. Fushshilat: 34-36).

أُوْلَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُم مَّرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَؤُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ 
وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

"Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kabaikan, dan sebagian dari apa yang kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan." (QS. Al-Qashash: 54)

Perhatikanlah, bagaimana Nabi bercerita tentang dirinya tatkala ia dianiaya kaumnya hing­ga berdarah, lalu sembari beliau mengusap da­rah dari tubuhnya beliau berdoa:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَيَعْلَمُونَ

"Ya Allah ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui!"
Lihatlah bagaimana beliau mengumpulkan dalam dua kalimat ini empat kebaikan yang de­ngannya beliau menghadapi kejahatan yang be­sar dari kaumnya;

Pertama: memaafkan mereka,
Kedua: memintakan ampunan untuk mere­ka,
Ketiga: memberikan udzur atas mereka bahwa mereka tidak mengetahui, dan
Keempat: simpati beliau kepada kaumnya dengan menisbatkan mereka kepada dirinya ketika mengatakan: "...ampunilah kaumku". Seperti layaknya ketika seseorang hendak me­mintakan syafaat untuk orang lain maka ia akan mengatakan kepada orang yang dimintainya: "Ini puteraku atau anak buahku atau sahabat­ku, maka tolonglah dia demiku.."

Guna melunakkan dan melembutkan hati anda, perhatikanlah sekarang uraian berikut;
"Ketahuilah bahwa anda memiliki banyak dosa antara anda dengan Allah, anda takut akan siksa-Nya dan berharap akan ampunan magh-firah dan pemberian-Nya. Padahal Allah tidak akan sekedar mengampuni dan memaafkan sa­ja, Dia bahkan akan mencurahkan nikmat-Nya kepada anda, memuliakan anda, dan menda­tangkan kepada anda banyak manfaat dan ke­baikan di luar yang anda bayangkan.

Jika anda menghendaki cara yang demikian dari Allah ketika Ia 'membalas' dosa dan keje­lekan yang anda perbuat, maka alangkah afdhal-nya jika anda melakukan hal yang sama terha­dap hamba-Nya. Kejahatan mereka anda balas dengan kebaikan agar Allah membalas dosa anda dengan cara yang sama, karena sesungguhnya balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan.

Sebagaimana anda membalas kejahatan orang lain kepada anda, seperti itulah Allah akan 'membalas' dosa-dosa anda sebagai balasan yang setimpal.

Jadi, anda boleh pilih; balas dendam atau maafkan... santuni atau biarkan! Karena barang siapa menyemai benih ia akan menuai hasil, dan sebagaimana anda memperlakukan hamba-hamba Allah demikian pulalah Allah akan memperlakukan anda.

Barangsiapa mampu menghayati makna di atas dan merenungkan dengan akal fikirannya, niscaya akan ringan baginya untuk berbuat baik terhadap orang yang jahat kepadanya. Apalagi jika di samping itu ia akan mendapatkan perto­longan Allah dan kebersamaan khusus dari-Nya (ma'iyyatullah), sebagaimana yang dikata­kan Nabi kepada orang yang mengeluhkan ten­tang kerabatnya yang senantiasa dia santuni namun mereka berlaku jahat kepadanya, kata beliau:

وَلاَ يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيْرٌ مَادُمْتَ عَلَي ذَلِكَ

"Allah akan senantiasa menolong dan bersamamu selama kamu tetap seperti itu."

Apalagi di samping itu ia juga akan men­dapat pujian manusia dan mereka akan bersatu memihaknya melawan musuhnya. Karena sia­pa saja yang mendengar tentang orang baik yang menyantuni orang yang jahat kepadanya pasti akan bersimpati kepadanya, membelanya dan mendoakannya... dan ini merupakan fitrah manusia yang diberikan Allah kepada para hamba-Nya.

Dengan kebaikannya ia seakan-akan memiliki bala tentara yang dia tidak mengenal mere­ka, dan mereka pun tak mengenalnya. Mereka siap membelanya tanpa imbalan sedikitpun darinya. Apalagi jika ia tahu bahwa keadaan­nya dengan orang yang hasad dan memusu­hinya tak lepas dari satu diantara dua hal;
Pertama: Ia dapat menguasai, 'memperbu-dak' dan menaklukkan musuhnya dengan ke­baikan. Bahkan musuh itu akan luluh di hada­pannya dan menjadi teman setianya, atau

Kedua: Ia dapat menjatuhkan mental mu­suhnya bahkan membinasakannya, jika si mu­suh terus-menerus dalam permusuhannya. Ka­rena dengan kebaikan tersebut pada hakikatnya ia telah menimpakan kekalahan yang berlipat ganda kepada musuhnya dari pada kalau ia membalas dendam.

Siapa yang berani mencoba niscaya akan benar-benar merasakannya...

Allah lah yang memberi taufik dan perto­longan... di tangan-Nya lah segala kebaikan... tiada Ilah melainkan Dia... kepada-Nya lah kita berharap agar Dia menggerakkan hati kita dan seluruh kaum muslimin untuk mewujudkan­nya dengan karunia dan kemuliaannya.

Singkatnya, amalan ini memiliki lebih dari seratus manfaat baik duniawi maupun ukhra­wi, insya Allah kami akan menjelaskannya di lain kesempatan.

السبب التاسع: وهو من أصعب الأسباب على النفس وأشقها عليها، ولا يوفق له إلا من عظم حظه من الله: وهو طفي نار الحاسد والباغي والمؤذي بالإحسان إليه، فكما ازداد أذى وشراً وبغياً وحسداً ازددت إليه إحساناً وله نصيحة وعليه شفقة وما أظنك تصدق بأن هذا يكون فضلاً عن أن تتعاطاه. فاسمع الآن قوله عزوجل: {ولا تستوي الحسنة ولا السيئة ادفع بالتي هي أحسن فإذا الذي بينك وبينه عداوة كأنه ولي حميم، وما يلقاها إلا الذين صبروا وما يلقاها إلا ذو حظ عظيم، وإما ينزغنك من الشيطان نزغ فاستعذ بالله إنه هو السميع العليم} (سورة فصلت الآيات 34ـ36) وقال: {أولئك يؤتون أجرهم مرتين بما صبروا ويدرءون بالحسنة السيئة ومما رزقناهم ينفقون} (سورة القصص الآية 54) وتأمل حال النبي صلى الله عليه وسلّم الذي حكى عنه نبينا صلى الله عليه وسلّم أنه ضربه قومه حتى أدموه، فجعل يسلت الدم عنه ويقول: «اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون» كيف جمع في هذه الكلمات أربع مقامات من الإحسان قابل بها إساءتهم العظيمة إليه:

ـ أحدها عفوه عنهم.

ـ والثاني استغفاره لهم.

ـ والثالث: اعتذاره عنهم بأنهم لا يعلمون.

ـ والرابع: استعطافه لهم بإضافتهم إليه فقال: «اغفر لقومي» كما يقول الرجل لمن يشفع عنده فيمن يتصل به هذا ولدي هذا غلامي هذا صاحبي، فهبه لي.

واسمع الآن ما الذي يسهل هذا على النفس ويطيبه إليها وينعمها به: اعلم أن لك ذنوباً بينك وبين الله تخاف عواقبها وترجوه أن يعفو عنها ويغفرها لك ويهبها لك. ومع هذا لا يقتصر على مجرد العفو والمسامحة حتى ينعم عليك ويكرمك ويجلب إليك من المنافع والإحسان فوق ما تؤمله، فإذا كنت ترجو هذا من ربك أن يقابل به إساءتك، فما أولاك وأجدرك أن تعامل به خلقه وتقابل به إساءتهم ؟ ليعاملك الله هذه المعاملة، فإن الجزاء من جنس العمل، فكما تعمل مع الناس في إساءتهم في حقك يفعل الله معك في ذنوبك وإساءتك جزاء وفاقاً، فانتقم بعد ذلك أو اعف وأحسن، أو اترك، وكما تدين تدان، وكما تفعل مع عباده يفعل معك. فمن تصور هذا المعنى وشغل به فكره هان عليه الإحسان إلى من أساء إليه. هذا مع ما يحصل له بذلك من نصر الله ومعونته ومعيته الخاصة، كما قال النبي صلى الله عليه وسلّم للذي شكى إليه قرابته وأنه يحسن إليهم وهم يسيئون إليه، فقال: «لايزال معك من الله ظهير ما دمت على ذلك» هذا مع ما يتعجله من ثناء الناس عليه ويصيرون كلهم معه على خصمه، فإنه كل من سمع أنه محسن إلى ذلك الغير وهو مسيء إليه وجد قلبه ودعاءه وهمته مع المحسن على المسيء، وذلك أمر فطري فطر الله عليه عباده. فهو بهذا الإحسان قد استخدم عسكراً لا يعرفهم ولا يعرفونه ولا يريدون منه إقطاعاً ولا خبزاً هذا مع أنه لا بد له مع عدوه وحاسده من إحدى حالتين: إما أن يملكه بإحسانه فيستعبده وينقاد له، ويذل له ويبقى من أحب الناس إليه، وإما أن يفتت كبده ويقطع دابره إن أقام على إساءته إليه، فإنه يذبحه بإحسانه أضعاف ما ينال منه بانتقامه، ومن جرب هذا عرفه حق المعرفة، والله هو الموفق المعين، بيده الخير كله لا إله غيره، وهو المسؤول أن يستعملنا وإخواننا في ذلك بمنه وكرمه. ..

[Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah]


Sumber:
www.ibnumajjah.wordpress.com
www.sahab.net

Jurus Penangkal Sihir 8: Bersedekah Dan Berbuat Kebajikan Semampunya

23:16 0
Jurus Penangkal Sihir 8: Bersedekah Dan Berbuat Kebajikan Semampunya
Jurus Penangkal Sihir 8: 
Bersedekah Dan Berbuat Kebajikan Semampunya

Sedekah dan kebajikan memiliki kemam­puan yang luar biasa untuk menolak bala, men­cegah sihir 'ain dan melenyapkan sifat hasad. Cukuplah apa yang dialami oleh umat-umat baik yang terdahulu maupun sekarang menjadi bukti akan hal ini.

Hampir tidak pernah kita dapati ada orang baik dan dermawan yang dimusuhi, sihir 'ain, atau didengki orang. Seandainya pun ia menga­laminya maka ia akan hadapi orang tersebut dengan lemah lembut dan uluran tangan se­hingga kebaikan itu pun kembali kepadanya. Orang yang baik dan gemar bersedekah akan berada dalam penjagaan kebaikan dan sede­kahnya, ia akan mendapat 'perisai' dari Allah yang akan melindunginya.

Secara umum, mensyukuri nikmat Allah me­rupakan cara terbaik untuk menjaganya dari se­bab-sebab yang dapat menghilangkannya.
Di antara sebab yang paling dominan dalam hal ini ialah hasad dan sihir 'ain. Hal itu dise­babkan karena orang yang hasad hatinya tidak akan puas dan lega hingga ia melihat kenik­matan itu lenyap dari orang yang didengkinya. Ketika itulah 'rintihan'nya terhenti dan api ke-dengkiannya padam - semoga Allah tidak memadamkannya! .

Jadi seorang hamba tidak bisa menjaga nik­mat Allah dengan cara yang lebih baik dari pa­da mensyukurinya. Dan tak ada cara yang lebih cepat untuk melenyapkan kenikmatan tersebut selain dengan mempergunakannya untuk ber­maksiat kepada Allah. Itulah kufur nikmat yang dapat menghantarkan pelakunya kepada ke­kafiran.

Orang yang baik dan dermawan ibarat sese­orang yang memiliki tentara dan pasukan yang siap berperang membelanya sedangkan ia tidur nyenyak di atas kasurnya. Siapa yang memiliki musuh namun tidak punya pasukan maka ia se­perti orang yang hampir saja dikalahkan mu­suhnya, meski kekalahan tersebut terjadi be­lakangan, Wallahul musta'aan.

السبب الثامن: الصدقة والإحسان ما أمكنه، فإن لذلك تأثيراً عجيباً في دفع البلاء ودفع العين وشر الحاسد، ولو لم يكن في هذا إلا تجارب الأمم قديماً وحديثاً لكفى به، فما يكاد العين والحسد والأذى يتسلط على محسن متصدق، وإن أصابه شيء من ذلك كان معاملاً فيه باللطف والمعونة والتأييد، وكانت له فيه العاقبة الحميدة. فالمحسن المتصدق في خفارة إحسانه وصدقته عليه من الله جنة واقية وحصن حصين. وبالجملة فالشكر حارس النعمة من كل ما يكون سبباً لزوالها.

ومن أقوى الأسباب حسد الحاسد والعائن، فإنه لا يفتر ولا يني، ولا يبرد قلبه حتى تزول النعمة عن المحسود، فحينئذ يبرد أنينه وتنطفىء ناره، لا أطفأها الله. فما حرس العبد نعم الله عليه بمثل شكرها، ولا عرضها للزوال بمثل العمل فيها بمعاصي الله، وهو كفران النعمة وهو باب إلى كفران المنعم . فالمحسن المتصدق يستخدم جنداً وعسكراً يقاتلون عنه وهو نائم على فراشه، فمن لم يكن له جند ولا عسكر وله عدو فإنه يوشك أن يظفر به عدوه وإن تأخرت مدة الظفر، والله المستعان.

[Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah]

Sumber:

www.ibnumajjah.wordpress.com
www.sahab.net

Jurus Penangkal Sihir 7: Memurnikan Taubat Untuk Allah

23:10 0
Jurus Penangkal Sihir 7: Memurnikan Taubat Untuk Allah
Jurus Penangkal Sihir 7 : Memurnikan Taubat Untuk Allah

Yaitu dengan mengkhususkan taubat kepa­da Allah atas dosa-dosa yang menyebabkan mu­suh mampu menguasainya. Sebagaimana fir­man Allah:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri" (QS. Asy Syura: 30).
Allah berfirman kepada generasi terbaik, yaitu para sahabat Rasulullah bukan yang lainnya:

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُم مُّصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُم مِّثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَـذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنْفُسِكُمْ

"Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menim­pakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-mu­suhmu (pada peperangan Badar) kamu mengatakan: "Dari manakah datangnya (kekalahan) ini?" Ka­takanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri" (QS. Ali Imran:165).

Tidaklah seorang hamba dapat dikuasai oleh musuhnya kecuali karena dosa yang di­perbuatnya, baik yang dia ketahui maupun yang tidak diketahuinya. Sedangkan dosa-dosa yang tak diketahuinya jauh lebih banyak-dari pada yang ia ketahui. Dosa-dosa yang telah dilupa­kannya pun jauh lebih banyak dari pada dosa-dosa yang masih dia ingat.

Dalam sebuah doa yang masyhur dise­butkan:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

"Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu sedangkan aku mengetahuinya, dan aku minta ampun kepada-Mu atas apa-apa yang tidak aku ketahui."1

Jadi seorang hamba harus lebih banyak ber-istighfar atas dosa-dosa yang tidak diketahuinya, dibandingkan dosa-dosa yang dia ketahui.

Salah seorang salaf suatu ketika bertemu de­ngan seorang lelaki kemudian tiba-tiba lelaki itu berkata kasar dan mencaci-makinya. Maka dia pun berkata kepada lelaki tersebut: "Tunggulah sebentar hingga aku masuk ke rumah kemudi­an keluar lagi untuk menemuimu", maka ia pun masuk ke rumahnya lalu sujud bersimpuh kepada Allah bertaubat dan kembali kepada-Nya. Kemudian ia keluar menemui lelaki tersebut, lelaki itu bertanya: "Apa yang barusan kamu la­kukan?", maka jawabnya: "Aku bertaubat ke­pada Allah dari dosa yang menjadikanmu da­pat merendahkanku."

Insya Allah akan kami jelaskan bahwa di dunia ini sebenarnya tidak ada kejahatan me­lainkan dosa-dosa yang kita perbuat dan se­bagai akibatnya. Maka jika seorang hamba telah selamat dari dosa-dosa ia pun akan selamat da­ri akibat-akibatnya. Oleh karena itu tak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba tatkala ia di­aniaya dan dikuasai musuhnya kecuali taubat nasuha.

Tanda orang yang bahagia ialah ketika ia mulai melihat dirinya sendiri dan mengoreksi semua dosa dan kekurangannya lalu ia sibuk dengannya membenahi kekurangan tersebut dan memperbanyak taubat, sehingga tak ada lagi peluang baginya untuk memikirkan hal lain. Hatinya tergerak dengan sendirinya untuk bertaubat dan mengoreksi kesalahannya, kemu­dian Allah lah yang kelak akan menolong dan menjaganya serta menolak darinya dan ini ada­lah suatu keharusan.

Alangkah bahagianya hamba semacam ini, alangkah besar keberkahan yang diterimanya dan alangkah baik pengaruh keberkahan itu pa­da dirinya. Akan tetapi hidayah dan taufik itu hanyalah di tangan Allah, tak ada seorang pun yang dapat menolak pemberian-Nya dan tidak ada yang dapat memberi sesuatu yang ditolak-Nya.

Tidak setiap orang beruntung mendapatkan taufik untuk bertaubat, dan tidak setiap orang mengenal taubat itu kemudian tergerak hatinya untuk melaksanakannya. Tidak ada pengeta­huan, kehendak dan kemampuan hamba dan tiadalah daya dan upaya melainkan dari Allah.

السبب السابع: تجريد التوبة إلى الله من الذنوب التي سلطت عليه أعداءه، فإن الله تعالى يقول: {وما أصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم} (سورة الشورى الآية 30) وقال لخير الخلق وهم أصحاب نبيه دونه صلى الله عليه وسلّم : {أو لما أصابتكم مصيبة قد أصبتم مثليها قلتم أنى هذا قل هو من عند أنفسكم} (سورة آل عمران الآية 165) فما سلط على العبد من يؤذيه إلا بذنب يعلمه أولا يعلمه، وما لايعلمه العبد من ذنوبه أضعاف ما يعلمه منها، وما ينساه مما علمه وعمله أضعاف ما يذكره. وفي الدعاء المشهور: «اللهم إني أعوذ بك أن أشرك بك وأنا أعلم وأستغفرك لما لا أعلم» فما يحتاج العبد إلى الاستغفار منه مما لا يعلمه أضعاف أضعاف ما يعلمه، فما سلط عليه مؤذ إلا بذنب. ولقي بعض السلف رجل فأغلظ له ونال منه، فقال له: قف حتى أدخل البيت ثم أخرج إليك، فدخل فسجد لله وتضرع إليه وتاب إلى ربه، ثم خرج إليه فقال: ما صنعت ؟ فقال: تبت إلى الله من الذنب الذي سلطك به علي وسنذكر إن شاء الله تعالى أنه ليس في الوجود شر إلا الذنوب وموجباتها، فإذا عوفي من الذنوب عوفي من موجباتها، فليس للعبد إذا بغي عليه وأوذي وتسلط عليه خصومه شيء أنفع له من التوبة النصوح. وعلامة سعادته أن يعكس فكره ونظره على نفسه وذنوبه وعيوبه، فيشتغل بها وبإصلاحها وبالتوبة منها، فلا يبقى فيه فراغ لتدبر ما نزل به، بل يتولى هو التوبة وإصلاح عيوبه، والله يتولى نصرته وحفظه والدفع عنه ولا بد، فما أسعده من عبد وما أبركها من نازلة نزلت به، وما أحسن أثرها عليه ولكن التوفيق والرشد بيد الله، لا مانع لما أعطى، ولا معطي لما منع، فما كل أحد يوفق لهذا لا معرفة به ولا إرادة له ولا قدرة عليه، ولا حول ولا قوة إلا بالله.
[Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah]

Sumber:

www.ibnumajjah.wordpress.com
www.sahab.net