September 2017 - CUC

Sunday, 10 September 2017

SANTUN DALAM BERBICARA

19:08 0
SANTUN DALAM BERBICARA
SANTUN DALAM BERBICARA

SANTUN DALAM BERBICARA - Maksudnya, janganlah lancang dalam berbicara tentang Alloh, sopan dan santunlah ketika menyandarkan sesuatu kepada-Nya. 


Contoh ucapan yang perlu diluruskan adalah menyandarkan kejelekan kepada Alloh, seperti ucapan: "Takdir memang kejam, ya Alloh, apa dosaku sehingga engkau memberi kesusahan ini"; ini tidak patut diucapkan, bahkan Rosululloh صلي الله عليه وسلمmengajarkan kita agar tidak menyandarkan kejelekan kepada-Nya. Beliau bersabda:



وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ



"Kejelekan itu tidak disandarkan kepada-Mu." (HR. Muslim: 771)

Adab Kepada Allah: Baik Sangka Kepada Allah

04:49 0
Adab Kepada Allah: Baik Sangka Kepada Allah
BAIK SANGKA KEPADA ALLOH


BAIK SANGKA KEPADA ALLOH - Alloh Maha mengetahui kondisi para hamba-Nya. Maka apabila ada hukum Alloh yang menurut persangkaan kita tidak baik, janganlah hal itu menjadikan kita berburuk sangka kepada Alloh. Misalnya ketika kita berdoa dan belum dikabulkan, hilangkanlah perasaan bahwa Alloh tidak mengasihi kita, ini bentuk kurang adab kepada-Nya. 



Berbaik sangkalah kepada Alloh karena Dia akan menuruti persangkaan para hamba-Nya. Berdasarkan hadits:



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: 
يَقُولُ اللَّهُ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي



“Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda: Alloh berfirman: "Aku menuruti persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku." (HR. Bukhori: 7405, Muslim: 2675)



Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله berkata: "Makna hadits ini, Alloh akan menuruti persangkaan hamba-Nya. Dia akan memperlakukan hamba-Nya sesuai persangkaan hamba itu kepada-Nya berupa kebaikan atau kejelekan." (Fathul Bari 13/472)

Saturday, 9 September 2017

Adab Kepada Allah: MENGAGUNGKAN AL-QURAN KALAMULLOH

20:18 0
Adab Kepada Allah: MENGAGUNGKAN AL-QURAN KALAMULLOH
Adab Kepada Allah: MENGAGUNGKAN AL-QURAN KALAMULLOH


Adab Kepada Allah: MENGAGUNGKAN AL-QURAN KALAMULLOH - Al-Qur"an adalah Kalamulloh, maka merupakan bentuk perwujudan beradab kepada Alloh adalah dengan memuliakan dan semangat untuk mempelajarinya. Berusaha untuk merenungi, mentadabburi, dan memahami isinya, kemudian mengamalkan dan mengajarkan kepada manusia. Berakhlak dan beradab dengan adab-adab yang pantas, tidak merendahkan al-Qur'an dengan menempatkan pada tempat yang kotor, atau malah menghinakannya, semua ini tidak pantas dan tidak beradab karena al-Qur'an termasuk kalam-Nya yang mulia yang diturunkan kepada Nabi yang mulia صلي الله عليه وسلم.[1] Alloh berfirman:

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ. نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ. عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ

“Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Robb semesta alam. Dan dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. asy-Syu'aro' [26]: 192-194)

Adab Kepada Allah: MEYAKINI BAHWA HUKUM ALLOH MEMBAWA KEBAIKAN DAN KEADILAN BAGI HAMBA-NYA

20:05 0
Adab Kepada Allah: MEYAKINI BAHWA HUKUM ALLOH MEMBAWA KEBAIKAN DAN KEADILAN BAGI HAMBA-NYA
Adab Kepada Allah: MEYAKINI BAHWA HUKUM ALLOH MEMBAWA KEBAIKAN DAN KEADILAN BAGI HAMBA-NYA

Adab Kepada Allah: MEYAKINI BAHWA HUKUM ALLOH MEMBAWA KEBAIKAN DAN KEADILAN BAGI HAMBA-NYA - Hal kita perhatikan pula, tidak ada satu pun hukum atau syari'at yang Alloh embankan kepada para hamba-Nya kecuali akan membawa kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat mereka. Hukum Alloh seluruhnya adil dan sesuai dengan kemampuan para makhluk. Tidak ada kebaikan sedikitpun kecuali telah dijelaskan dan tidak ada kejelekan kecuali kita telah diperingatkan akan bahayanya. Maka jangan sampai ada prasangka bahwa hukum Alloh itu tidak adil, tidak sesuai zaman dan sebagainya. Alloh عزّوجلّ berfirman:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقاً وَعَدْلاً لاَّ مُبَدِّلِ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Telah sempurnalah kalimat Robbmu, sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-An'am [6]: I 15)

Imam Qotadah رحمه الله berkata: "Yaitu benar di dalam janji-Nya dan adil di dalam hukum-Nya. Benar dalam seluruh berita-Nya dan adil dalam perintah-Nya. Maka seluruh yang Alloh kabarkan adalah benar, tidak ada keraguan. Seluruh perintah-Nya adil, tidak ada yang berbuat adil selain-Nya. Seluruh yang Dia larang adalah batil karena Alloh tidak melarang kecuali dari kejelekan dan bahaya." (Tafsir Ibnu Katsir 2/322)

Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: "Apabila engkau memperhatikan syari'at-syari'at agama Alloh yang Dia embankan kepada para hamba-Nya, niscaya engkau akan mendapati bahwa syari'at-Nya selalu membawa kebaikan.

Apabila berbenturan beberapa kebaikan, didahulukan yang lebih penting dan lebih besar kebaikannya. Demikian pula, syari'at ini selalu menolak bahaya. Apabila saling berbenturan, dihilangkan bahaya yang paling besar. Karena itulah, Alloh sebagai Hakim yang seadil-adilnya meletakkan asas ini, sebagai dalil akan kesempurnaan ilmu dan hikmah-Nya serta kemurahan dan kebaikan-Nya kepada para hamba." (Miftah Darus Sa'adah 2/362)

Kisah Laki-laki Sakit Mata Yang Diludahi Oleh Rasul

17:06 0
Kisah Laki-laki Sakit Mata Yang Diludahi Oleh Rasul
Dari Abul Abbas iaitu Sahl bin Sa'ad as-Sa'idi r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda pada hari perang Khaibar: "Nescayalah saya akan memberikan bendera ini esok hari kepada seseorang yang Allah akan memberikan kemenangan di atas kedua tangannya. Ia mencintai Allah dan RasulNya dan ia juga dicintai Allah dan RasulNya."

Malam harinya orang-orang - para sahabat - sama bercakap-cakap  berbisik-bisik,  siapa  di  antara   mereka  yang  akan  diberi bendera itu. Setelah pagi hari menjelma, orang-orang sama pergi ke tempat  Rasulullah s.a.w.  semuanya  mengharapkan  agar supaya bendera itu diberikan padanya. Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Di manakah Ali bin Abu Thalib?" Kepada beliau dikatakan: "Ya Rasulullah, ia sakit kedua matanya." Beliau bersabda lagi: "Bawalah ia ke mari." Ali didatangkan di  hadapan beliau s.a.w. kemudian Rasulullah s.a.w. berludah ke kedua matanya dan mendoakan untuk kesembuhannya, lalu ia pun sembuhlah - kedua matanya, seolah-olah  tidak  pernah  sakit  sebelumnya.  Selanjutnya  beliau  s.a.w. memberikan bendera itu padanya. Ali r.a. berkata: "Ya Rasulullah, apakah  saya wajib memerangi  mereka  hingga  mereka  menjadi seperti kita semua - yakni masuk Islam?" Beliau s.a.w. menjawab: "Berjalanlah perlahan-lahan - tidak tergesa-gesa, sehingga engkau datang   di   halaman   perkampungan   mereka.   Kemudian   ajaklah mereka itu untuk masuk Islam dan beritahukanlah kepada mereka apa-apa yang wajib atas diri mereka dari hak-haknya Allah Ta'ala yang perlu dipenuhi. Demi Allah, nescayalah jikalau Allah memberikan petunjuk dengan sebab usahamu akan seseorang - satu orang saja, maka hal itu lebih baik bagimu daripada memiliki unta-unta yang merah-merah - kiasan harta yang amat dicintai oleh bangsa Arab." (Muttafaq 'alaih)

----------------------
(Riyadhus Shalihin)

Puasa Wishal (Berpuasa Kembali Setelah Berbuka)

17:05 0
Puasa Wishal (Berpuasa Kembali Setelah Berbuka)
Apabila seseorang tertidur dan belum berbuka dan ia tidak bangun dari tidurnya kecuali pagi hari yang kedua. Apakah boleh  untuk melanjutkan puasanya atau harus berbuka?

Puasa Wishal (Berpuasa Kembali Setelah Berbuka)
image: pixabay
Jawaban (Syaikh Muqbil):

Wajib baginya untuk meneruskan puasanya. Hal yang demikian itu pernah terjadi pada Qais bin Sarmah. Ia pergi bekerja dan waktu itu tepat permulaan diwajibkannya puasa. Apabila ia tertidur sebelum makan, maka ia tidak membolehkan dirinya untuk makan, kemudian ia pulang ke istrinya dan bertanya: “Apakah ada makanan?” Istrinya menjawab, “Tidak ada, tetapi aku akan pergi  memintakan makanan untukmu.” Setelah istrinya kembali, ternyata ia sudah tertidur lalu istrinya berkata, “Engkau telah rugi,” atau ucapan yang semakna dengan ini. Kemudian Qais pergi bekerja lagi sampai pertengahan hari dan kemudian tertidur lagi. Kemudian Allah SWT menurunkan ayat: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu, mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, … sampai firman-Nya…."Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar."

Monday, 4 September 2017

Adab Kepada Allah: SABAR DAN MENERIMA KEPUTUSAN ALLOH

19:52 0
Adab Kepada Allah: SABAR DAN MENERIMA KEPUTUSAN ALLOH
Adab Kepada Allah: SABAR DAN MENERIMA KEPUTUSAN ALLOH

Adab Kepada Allah: SABAR DAN MENERIMA KEPUTUSAN ALLOH - Kita menyadari, takdir Alloh yang ditentukan kepada makhluk-Nya berbeda-beda. Dalam pandangan manusia, takdir Alloh ada yang menyenangkan dan ada yang membuat derita. Sakit misalnya, hal ini tidak diinginkan oleh manusia. Contoh lain ialah kemiskinan, ini pun tidak kita inginkan, karena kita semua ingin hidup kecukupan, tetapi takdir Alloh berbeda-beda sesuai dengan hikmah-Nya, lalu bagaimana sikap yang benar dan beradab dalam menerima takdir Alloh?

Yaitu engkau ridho dengan ketentuan Alloh dan meyakini bahwa hal itu sudah ketentuan-Nya. Takdir Alloh mengandung hikmah yang mungkin tidak kita ketahui baik dan buruknya, maka bersabar dan berprasangka baiklah kepada-Nya. Alloh berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ. الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
“Dan sungguh akan Kami beri cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengatakan:"lnna lillahi wa inna ilaihi roji'un." (QS. al-Baqoroh [2]: 155-156)

Rosululloh bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
"Sungguh mengherankan perkara orang mu'min itu, semua perkaranya baik dan tidaklah hal itu ada kecuali pada orang mu'min. Apabila memperoleh kesenangan dia bersyukur dan itu baik baginya. Apabila kesusahan menimpanya dia bersabar dan itu pun baik baginya." (HR. Muslim: 2999, Ahmad 5/24, Darimi: 2780)


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: "Hendaknya seluruh manusia ridho menerima segala ketentuan Alloh berupa musibah yang menimpanya. Semisal Alloh mengujinya dengan kemiskinan, sakit, kehinaan, gangguan manusia, dan sebagainya. Karena sabar dalam menerima musibah adalah wajib sedangkan ridho sangat dianjurkan." (Majmu' Fatawa 8/191)

Adab Kepada Allah: MENERIMA DAN MELAKSANAKAN SEGALA HUKUM-HUKUM ALLOH

19:52 0
Adab Kepada Allah: MENERIMA DAN MELAKSANAKAN SEGALA HUKUM-HUKUM ALLOH
Adab Kepada Allah: 
MENERIMA DAN MELAKSANAKAN SEGALA HUKUM-HUKUM ALLOH

Adab Kepada Allah: MENERIMA DAN MELAKSANAKAN SEGALA HUKUM-HUKUM ALLOHHendaklah seseorang tidak menolak hukum-hukum yang telah Alloh tetapkan kepada seluruh makhluk-Nya. Jangan menolak ketetapan hukum Alloh baik dengan pengingkaran, sombong, atau hanya karena malas melaksanakannya, semua ini temasuk adab yang jelek kepada Alloh. Ingatlah, kita lahir ke dunia ini untuk sebuah tujuan yang agung yaitu beribadah kepada-Nya serta berhukum dengan hukum-hukumnya. 

Alloh عزّوجلّ berfirman:

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ أَمَرَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

“.... Keputusan itu hanyalah kepunyaan Alloh. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS.Yusuf [ 12]: 40)

Contoh pertama, ibadah puasa. Tidak diragukan lagi, puasa terasa berat bagi jiwa karena mening galkan makan dan minum yang merupakan kebutuhan jiwa. Namun sebagai seorang muslim kita harus menerima hukum ini dengan lapang dada, dan melaksanakan sepenuh hati, inilah bentuk adab kepada Alloh.

Contoh kedua, sholat. Barangkali, sholat terasa berat bagi sebagian orang, apalagi bagi orang munafik. Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda:

أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ

"Sholat yang paling berat bagi orang munafik adalah sholat Isya' dan Shubuh." (HR. Bukhori: 644, Muslim: 651)

Akan tetapi, sholat bagi orang mu'min sejati apabila dikerjakan dengan ikhlas, sepenuh hati, dan menyadari bahwa ini adalah perintah Alloh, akan terasa ringan.

Alloh berfirman:

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ
. الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Robbnya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS.al-Baqoroh [2]: 45-46)

Berakhlak mulia kepada Alloh dalam hal sholat adalah dengan mengerjakannya sedangkan hatimu tenteram dan senang, merasa rindu dengan sholat apabila waktunya akan datang, atau ketika engkau belum melaksanakannya. Maka gantungkanlah hatimu pada sholat, perbagusilah kondisimu dan perhatikanlah syarat serta rukun-rukunnya karena hal itu termasuk berakhlak baik kepada Alloh عزّوجلّ.

Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda:

وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

“Dan dijadikan pandangan sejuk mataku di dalam sholat." (HR. Nasa'i: 3939, Ahmad 3/128. Lihat al-Misykah: 5261, Shohihul Jami': 3134)

Contoh ketiga, pengharoman riba. Ini dalam masalah mu'amalah. Riba termasuk keharaman yang telah Alloh haramkan dengan tegas. Alloh عزّوجلّ berfirman:

وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىَ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“....Alloh telah menghalalkan jual beli dan mengharomkan riba. Orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Robbnya, lalu terus berhenti dari mengambil riba, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu dan urusannya terserah kepada Alloh. Sedangkan orang yang mengulangi mengambil riba maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqoroh [2]: 275)

Orang yang beriman menerima hukum ini dengan lapang dada, ridho, dan pasrah. Dia meninggalkan riba dalam seluruh bentuk mu'amalah.


Imam Abul Hasan al-Asy'ari mengatakan: "Ahlus Sunnah wal Jama'ah bersepakat wajibnya setiap makhluk ridho dengan hukum Alloh yang Dia perintahkan kepada para hamba-Nya. Menerima segala perintah-Nya dan sabar dalam melaksanakannya." (Risalah ila Ahli Tsaghor hal. 244 -tahqiq Abdulloh Syakir Muhammad-)

Adab Kepada Allah: MENERIMA KABAR DARI ALLOH DENGAN MENGIMANI DAN MEMBENARKANNYA

19:52 0
Adab Kepada Allah: MENERIMA KABAR DARI ALLOH DENGAN MENGIMANI DAN MEMBENARKANNYA
Adab Kepada Allah:
MENERIMA KABAR DARI ALLOH DENGAN MENGIMANI 
DAN MEMBENARKANNYA

Adab Kepada Allah: MENERIMA KABAR DARI ALLOH DENGAN MENGIMANI DAN MEMBENARKANNYAHal ini terwujud tanpa keraguan secuilpun dalam hati seorang muslim terhadap berita dan kabar yang datang dari Alloh. Sudah sepantasnya bagi siapapun mengimani dan membenarkan berita Alloh, karena berita yang datang dari-Nya pasti benar. Alloh عزّوجلّ menegaskan:
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللهِ حَدِيثاً
.... Dan siapakah orang yang lebih benar perkataannya daripada Alloh? (QS.an-Nisa' [4]: 87)

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di رحمه الله mengatakan: "Ini adalah penjelasan bahwa kebenaran perkataan dan kabar-kabar-Nya berada pada derajat tertinggi. Oleh karena itu, setiap yang dikatakan dalam masalah aqidah, ilmu, atau amalan yang menyelisihi apa yang Alloh kabarkan maka ketahuilah bahwa itu adalah sebuah kebatilan karena jelas-jelas bertentangan dengan kabar yang lebih benar dan yakin." (Taisir Karim Rohman hal. 195)


Sebagai contoh, kabar yang datang dalam al-Qur'an berupa perkara ghoib, atau hadits-hadits Rosululloh صلي الله عليه وسلم yang sekilas nampak tidak masuk akal, maka sikap yang benar dan harus kita kedepankan adalah membenarkan dan mengimani berita tersebut dan tidak menolaknya sedikitpun walaupun akal ini tidak bisa menjangkau atau jiwa merasa belum siap menerimanya. Karena berita yang datang dari Alloh adalah benar tidak ada keraguan sedikitpun, dan sesuatu yang yakin tidak boleh ditolak hanya dengan keraguan atau sesuatu yang belum jelas. 

Demikianlah, selayaknya kaum muslimin beradab kepada Alloh dalam kabar dan berita yang datang dari-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: "Nash-nash yang telah tetap di dalam Kitab dan Sunnah tidak boleh ditentang hanya dengan akal semata, maka apa yang telah jelas kebenarannya tidak boleh ditentang hanya dengan keraguan atau kerancuan yang belum jelas kebenarannya." (Muwafaqoh Shohihil Manqul li Shorihil Maqul 1/126)

Adab Kepada Allah: MENTAUHIDKAN DAN TIDAK MENYEKUTUKAN-NYA

19:51 0
Adab Kepada Allah: MENTAUHIDKAN DAN TIDAK MENYEKUTUKAN-NYA
Adab Kepada Allah: MENTAUHIDKAN DAN TIDAK MENYEKUTUKAN-NYA

Adab Kepada Allah: MENTAUHIDKAN DAN TIDAK MENYEKUTUKAN-NYA - Inilah hak dan adab terbesar yang harus diberikan oleh seorang hamba kepada Alloh, mentauhid-kan-Nya dalam peribadahan dan tidak menyekutukan-Nya sedikit-pun.

Alloh berfirman:

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً

“Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya....” (QS.an-Nisa'[4]:36)

Al-Hafizh Ibnu Katsir رحمه الله mengatakan: "Alloh memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya saja dan jangan berbuat syirik, karena Dialah yang memberi rezeki, yang memberi nikmat, yang Maha memberi keutamaan kepada makhluk-Nya pada setiap waktu dan keadaan. Dialah yang paling berhak agar mereka mentauhidkan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan seorang makhluk pun." (Tafsir Ibnu Katsir 2/297 —tahqiq Sami bin Muhammad as-Salamah-)

Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda:
يَا مُعَاذُ هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ: حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
"Wahai Mu'adz tahukah kamu apa hak Alloh yang wajib bagi para hamba dan hak hamba bagi Alloh?" Mu'adz رضي الله عنه menjawab: "Alloh dan Rosul-Nya yang lebih tahu." Nabi صلي الله عليه وسلم menjelaskan: "Hak Alloh yang wajib bagi setiap hamba adalah agar mereka mentauhidkan dan tidak menyekutukan-Nya. Dan hak hamba bagi Alloh adalah Alloh tidak menyiksa orang yang tidak menyekutukan-Nya." (HR. Bukhori: 128, Muslim: 30)
Hasan al-Bashri رحمه الله pernah ditanya: "Adab apakah yang paling bermanfaat?" Beliau menjawab: "Tafaqquh di dalam agama, zuhud di dunia, dan mengenal kewajiban yang harus engkau berikan kepada Alloh." (Madarijus Salikin 2/428)

Berkata Ibnul Qoyyim رحمه الله: "Tujuan mulia yang dapat menghantarkan kebahagiaan dan keselamatan bani Adam adalah mengenal Alloh, mencintai, menyembah hanya kepada-Nya, dan tidak berbuat syirik. Inilah hakikat perkataan seorang hamba: La llaha Illalloh (Miftah Darus Sa'adah 3/27 -tahqiq Ali bin Hasan al-Halabi-)