July 2018 - CUC

Monday, 30 July 2018

Bagaimana hukumnya bagi seorang wanita yang sedang berpuasa mendapat haidh menjelang saat berbuka?

20:17 0
Bagaimana hukumnya bagi seorang wanita yang sedang berpuasa mendapat  haidh menjelang saat berbuka?
Bagaimana hukumnya bagi seorang wanita yang sedang berpuasa Ramadhan mendapat haidh menjelang saat berbuka?

Jawaban (Syaikh Muqbil):

Wajib baginya untuk membatalkan puasanya, dan  menqadhanya sebanyak puasa yang ditinggalkannya. Adapun apabila haidnya datang setelah terbenam matahari, maka puasanya pada hari itu sah dan tidak wajib baginya untuk menqadha.

Yang Harus Dilakukan Wanita Hamil atau Menyusui Apabila Tidak Berpuasa

20:16 0
Yang Harus Dilakukan Wanita Hamil atau Menyusui Apabila Tidak Berpuasa
Yang Harus Dilakukan Wanita Hamil atau Menyusui 
Apabila Tidak Berpuasa 

Apa hukumnya seorang perempuan yang hamil jika ia tidak berpuasa di bulan Ramadhan karena takut akan keselamatan janinnya akan terganggu. Apa pula hukumnya bagi seorang wanita yang menyusui, jika ia tidak berpuasa di bulan Ramadhan karena takut akan bayinya akan kekurangan gizi?



Jawaban (Syaikh Muqbil):

Para ulama berselisih pendapat tentang hal ini. Sebagian mereka  mengatakan wajib bagi wanita tersebut untuk mengqadha puasanya. Sementara sebagian yang lain mengatakan selain wajib menqadha ia juga wajib membayar kafarah. Sebagiannya lagi mengatakan tidak ada kewajiban qadha tetapi ada kewajiban kafarah. Sementara sebagian lagi mengatakan tidak ada kewajiban baginya baik qadha maupun kafarah. Mereka ini berdalil dengan hadits Anas bin Malik Al-Ka’bi bahwasanya beliau datang kepada Nabi. Kemudian Nabi mengatakan kepadanya, “Makanlah!”  Anas bin Malik menjawab: “Aku dalam keadaan berpuasa.” Lalu Nabi berkata: “Apakah engkau tahu bahwasanya Allah ta’ala menggugurkan setengah shalat atas orang yang musafir (boleh menqashar) dan menggugurkan kewajiban puasa bagi wanita yang hamil atau menyusui.” 

Maka mereka berdalil dengan ini, bahwasanya tidak ada kewajiban apapun baginya. Aku sendiri (Asy-Syaikh Muqbil) berpendapat bahwa wajib bagi wanita tersebut menqadha puasanya  dan ia tidak wajib membayar kafarah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Barangsiapa di antara kalian sakit atau mengadakan suatu perjalanan, maka gantilah (puasanya)  pada hari-hari yang lainnya.”

Adakah terdapat keutamaan bagi seseorang yang meninggal dunia pada bulan Ramadhan?

20:07 0
Adakah terdapat keutamaan bagi seseorang yang meninggal dunia pada bulan Ramadhan?
Adakah terdapat keutamaan bagi seseorang 
yang meninggal dunia pada bulan Ramadhan?


Adakah terdapat keutamaan bagi seseorang yang meninggal dunia pada bulan Ramadhan?

Jawaban (Syaikh Muqbil):
Ya, memang ada, tetapi tidak ada hadits yang menunjukkan tentang hal ini.

Apa yang harus kita lakukan apabila mengetahui masuk bulan Ramadhan justru setelah terbit fajar?

20:06 0
Apa yang harus kita lakukan apabila mengetahui masuk bulan Ramadhan justru setelah terbit fajar?
Apa yang harus kita lakukan apabila mengetahui masuk bulan Ramadhan justru setelah terbit fajar?



Apabila seseorang bangun tidur setelah terbit fajar pada hari pertama di bulan Ramadhan, lalu ia sarapan. Sementara itu, ia belum mengetahui kalau hari itu adalah sudah masuk awal bulan Ramadhan. Ia diberitahukan tentang hal itu justru setelah sarapan. Apakah ia harus berpuasa pada hari itu?

Jawaban (Syaikh Muqbil):

Ya.. Ia wajib berpuasa pada hari itu dan tidak ada mudharat baginya walaupun ia baru saja sarapan karena ia baru diberitahu tentang masuknya awal Ramadhan pada pagi hari itu.

Penyakit 'Ain Yang Menimpa Mobil

05:49 0
Penyakit 'Ain Yang Menimpa Mobil
Penyakit 'Ain Yang Menimpa Mobil


Seorang pembaca bercerita kepada kami bahwa seseorang memandang mobilnya dengan mata kedengkiannya (sehingga mobilnya terkena 'ain) lalu pembaca tadi meminta orang yang memandangnya ('a'in) supaya berwudhu. Setelah itu, ia berdiri untuk mengambil air itu dan menuangkannya ke radiator mobilnya, lalu mobil itu bergerak dan seolah-olah tidak ada sesuatu padanya. Lalu, apa hukum perbuatannya ini? Sebab, yang saya ketahui dalam sunnah ialah mengambil bekas air mandi yang dipakai oleh 'a'in pada saat 'ain tersebut menimpa kepada orang lain.

Jawaban:

Tidak apa-apa melakukan demikian. Sebab, sebagaimana 'ain [1] bisa menimpa kepada hewan, dapat pula menimpa perusahaan, rumah, pepohonan, produk, mobil, binatang liar dan sejenisnya.

Mengatasi gangguan tersebut dengan cara pelakunya berwudhu atau mandi dan menumpahkan bekas air wudhu atau air mandinya, atau mencuci salah satu anggota badannya di atas unta dan semisalnya, di atas mobil dan sejenisnya, serta meletakkannya di radiator adalah berguna dengan seizin Allah. Ini penyembuhan untuk gangguan semacam ini, berdasarkan sabda Nabi صلی الله عليه وسلم ,

وَإِذَ اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوْا

"Apabila kalian diminta mandi, maka mandilah." [2]

Footnote:
[1] Menurut Imam Ibnul Qayyim, dalam Zad al-Ma'ad, 4/ 167, 'ain adalah penyakit yang berasal dari jiwa orang yang dengki lewat pandangan matanya. Orang yang memandang terkadang mengenai sasaran dan terkadang tidak. Apabila menimpa orang yang tidak memiliki penangkal, maka ia akan terkena pengaruhnya dan jika menimpa orang yang mempunyai penangkal yang kuat, maka panah tersebut tidak mampu menembusnya. Orang yang menimpakannya disebut 'A'in dan yang terkena penyakit itu disebut Ma'in dan Ma'yun. -pent.
[2] HR. Muslim, no. 2188, Kitab as-Salam.
Rujukan:

Fatwa Syaikh Abdullah al-Jibrin yang ditandatanganinya.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

Tuesday, 3 July 2018

Jangan Meremehkan Para Pengemban Dakwah

16:41 0
Jangan Meremehkan Para Pengemban Dakwah
Jangan Meremehkan Para Pengemban Dakwah

Namanya Thufail dari Suku Daus. Setelah masuk Islam, beliau tidak ikut nyantri di Darul Arqam sebagaimana sahabat-sahabat Rasulullah yang lain. Beliau pulang ke kampungnya. Jadi, kemungkinan besar penguasaan tsaqafah Islam beliau tidak sebanyak sahabat-sahabat lain yang secara intensif dibina Kanjeng Nabi untuk jangka waktu yang lama. Hanya berbekal "sedikit" ilmu, Thufail pulang, dan berdakwah mengajak orang-orang di kampungnya untuk masuk Islam.

Setelah Kanjeng Nabi dan para sahabat hijrah ke Madinah, Thufail menyusul ke sana. Beliau tidak sendirian. Beliau membawa serombongan manusia yang telah masuk Islam melalui tangannya. Dan di antara mereka, ada satu nama istimewa: Abu Hurairah. 

Abu Hurairah, sebagaimana kita tahu,  kemudian menjadi sahabat Kanjeng Nabi yang sangat banyak meriwayatkan hadits. Dus, di antara sekian banyak tsaqafah Islam yang kita akhirnya ketahui, sebagiannya kita raih atas jasa Abu Hurairah, yang masuk Islam lewat dakwah Thufail ad-Dausy. 

Semoga kita tidak memandang remeh para pengemban dakwah, meski ilmunya tidak sebanyak ulama-ulama besar.

اللهم صل على نبينا محمد وعلى اله و اصحابه 
اجمعين ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين

Ust. Nadzeef Ahmed

Monday, 2 July 2018

Mengagungkan Perintah Shalat

17:05 0
Mengagungkan Perintah Shalat
Mengagungkan Perintah Shalat

Sebagaimana orang yang kecewa manakala kehilangan shalat berjama'ah, dia menyadari bahwa ketika dia shalat sendirian maka ia kehila­ngan 27 derajat. Demikian halnya jika ia tidak dapat mengerjakan di awal waktu yang diridhai oleh Allah, atau tidak berada di shaff terdepan yang di sanalah Allah mengucapkan shalawat atasnya dan malaikat yang berada di kanannya. Sekiranya seorang hamba mengetahui fadhilahnya niscaya dia akan berebut dan berundi untuk mendapatkan shaf terdepan.

Begitu pula dengan orang yang kehilangan rasa khusyuk tatkala shalat dan kehadiran hati tatkala berdiri di hadapan Allah Ta'ala. Karena khusyu' adalah ruh dan inti shalat. Shalat tanpa disertai khu­syuk dan hadirnya hati, laksana jasad yang mati tak bernyawa. Bukankah seseorang merasa malu mana­kala memberikan hadiah kepada orang lain yang setara dengannya berupa budak yang telah mati atau jariyah yang telah menjadi mayit? Lantas bagaimana halnya jika ia memberikan hadiah seperti ini kepada raja, pemimpin dan semisalnya? 

Begitu pula, shalat yang tak disertai khusyuk, kehadiran hati dan membulatkan harapannya kepada Allah Ta'ala laksana seorang budak yang telah menjadi diha­diahkan kepada seorang raja. Oleh karena itulah Allah tidak menerima shalatnya. Kendati telah gugur kewajibannya di dunia, namun ia tidak mendapatkan pahala karenanya. Karena tiada pahala shalat bagi seorang hamba melainkan tatkala dia berakal (memikirkan), sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab-kitab As-Sunan dan Musnad Imam Ahmad dari Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:

"Sesungguhnya seorang hamba melakukan shalat, namun tidak dicatat pahala baginya melainkan hanya separuhnya, atau sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya...hingga sepersepuluhnya" (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Tanda-tanda Mengagungkan Perintah Allah

16:59 0
Tanda-tanda Mengagungkan Perintah Allah
Tanda-tanda Mengagungkan Perintah Allah

Hamba Allah yang taat dan senantiasa mengagungkan perintah-perintah Allah Ta'ala bisa dilihat jelas secara lahir. Berikut ini adalah diantara tanda-tandanya. Semoga tanda-tanda berikut kita jumpai dalam diri kita masing-masing.

Tanda-tanda mengagungkan perintah Allah 'Azza wa jalla adalah:

- Menjaga waktu dan batasan-batasannya
- Memperhatikan rukun-rukun, kewajiban dan kesempurnannya
- Antusias untuk memperbagus amal dan menunaikan tepat pada waktunya
- Bersegera menunaikannya tatkala telah datang kewajibannya
- Gelisah, kecewa dan sedih manakala ke­hilangan sebagian hak-hak amalnya.

Hakikat Mengagungkan Perintah dan Larangan

16:49 0
Hakikat Mengagungkan Perintah dan Larangan
Hakikat Mengagungkan Perintah dan Larangan

Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh Syaikhul Islam tentang indikasi mengagung­kan perintah dan larangan:

"Yakni tidak menyalahinya dengan meremehkan­nya dan tidak pula menyalahinya dengan melewati batas dari yang telah ditetapkan, dan tidak memba­wa keduanya sebagai sumber penyakit yang akan melemahkan ketundukan."

Maksud dari kalimat beliau adalah bahwa ting­katan pertama dalam mengagungkan Allah عزّوجلّ ada­lah dengan mengagungkan perintah dan larangan-Nya. Yang demikian itu karena seorang mukmin ber-ma'rifah kepada Rabbnya Ta'ala melalui risalah yang dibawa oleh Rasulullah صلي الله عليه وسلم bagi seluruh manusia. Se­bagai tuntutannya adalah tunduk terhadap perintah dan larangan-Nya. Yang demikian itu tidak akan te­realisasi melainkan dengan mengagungkan perintah Allah عزّوجلّ, lalu mengikutinya dan mengagungkan la­rangan-Nya lalu menjauhinya. Sehingga perhatian seorang mukmin terhadap perintah dan larangan Allah adalah indikasi akan pengagungannya kepada Yang memerintah dan melarang (yakni Allah). Maka sesuai dengan kadar pengagungan inilah seseorang dapat berbuat kebajikan sebagai realisasi dari iman, pembenaran, lurusnya aqidah dan kebenciannya ter­hadap nifak akbar.

Karena terkadang seseorang melakukan perintah namun karena ingin dilihat orang, ingin meraih ke­dudukan dan kehormatan di tengah-tengah mereka. Begitupula dia meninggalkan larangan namun se­mata-mata karena takut jatuh kewibawaannya di hadapan manusia, takut penderitaan dunia seperti hukuman yang telah ditetapkan syari'at bagi yang melanggarnya. Apa yang dikerjakan tersebut bu­kanlah wujud dari pengagungannya terhadap pe­rintah dan larangan, bukan pula terhadap Yang memberi perintah dan larangan.