June 2017 - CUC

Sunday, 25 June 2017

Taqobbal Allahu Minnaa wa Minkum

02:15 0
Taqobbal Allahu Minnaa wa Minkum
Taqobbal Allahu Minnaa wa Minkum
twitter.com

تقبل الله منا ومنكم



Taqobbalallahu minnaa wa minkum



[Semoga Allah menerima semua amalan kami dan amalan kalian]



Untuk sedulur2ku di dunia nyata dan dunia maya, mohon maaf bila selama ini ada tutur kata yang tak terkontrol keluar dari lisan ini, baik dalam kesengajaan maupun tak sengaja, lebih-lebih ketika bercanda. Dan JIKA kalian ada salah, baik sengaja maupun tidak, dengan penuh kerelaan insyaaAllah, aku ikhlaskan dan ridha.



Semoga Allah 'Azza wa Jalla senantiasa melimpahkan taufiq dan hidayahNya kepada kita semua untuk senantiasa berada dalam garis ketaatan kepadaNya.



Dengan berlalunya Ramadhan tahun ini, semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang beruntung, yang diampuni dosa-dosa kita olehNya. Sungguh merugi orang yang menjumpai Ramadhan, setelah Ramadhan berlalu, masih memikul dosa-dosa yang belum terampuni. Tidak ada garansi kita bertemu dengan Ramadhan tahun yang akan datang.



Aku nasihatkan untuk diriku sendiri dan untuk saudaraku semuanya.... 

Menuqil perkataan salah seorang ulama generasi dulu yang intinya "Diantara tanda diterimanya amal shalih seseorang oleh Allah adalah ditunjukkannya orang tersebut untuk melakukan amal shalih-amal shalih lainnya".



Jadi, dengan berlalunya Ramadhan 1438 H, jangan sampai menghentikan amalan-amalan baik yang kita lakukan ketika Ramadhan kemarin. Ingat, haq Allah atas kita tidak cuma berada pada satu bulan kemarin, tapi juga ada pada sebelas bulan lainnya. Jangan sampai kita hanya mengenal haq Allah pada bulan Ramadhan semata!



واعبد ربك حتى يأتيك اليقين



"Mengabdilah pada Robbmu sehingga datang al-yaqiin (kematian) menjemputmu !"



Barrakallahu liy wa lakum, kullu 'aam wa antum bikhaiir. Wa taqabbalallahu minna wa minkum shoolihal a'maal.

Bolehkah Kita Memanggil "Hambaku/Abdiku" Kepada Pembantu, Pelayan, atau Bawahan Kita?

01:16 0
Bolehkah Kita Memanggil "Hambaku/Abdiku" Kepada Pembantu, Pelayan, atau Bawahan Kita?
Bolehkah Kita Memanggil "Hambaku/Abdiku" Kepada Pembantu, Pelayan, atau Bawahan Kita?

Bolehkah Kita Memanggil "Hambaku/Abdiku" Kepada Pembantu, Pelayan, atau Bawahan Kita? - Soal: Assalmu 'alaikum. Ustadz, Bolehkah Kita Memanggil "Hambaku/Abdiku" Kepada Pembantu, Pelayan, atau Bawahan Kita?
gambar: pixabay.com

Jawaban:
Alhamdu lillah, was-sholatu was salamu 'alaa man laa nabiyya ba'dah, wa ba'd.

Saudara dan saudariku semua. Semoga hidayah dan taufiq Allah Ta'alaa senantiasa menyertai kita. Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Janganlah seseorang di antara kamu mengatakan (kepada sahaya atau pelayannya): "Hidangkan makan atau berikan air wudhu' kepada Gusti Pangeranmu (Rabbaka), dan biarlah pelayan itu mengatakan: "Tuanku (Sayyidi; Maulaya); janganlah pula seseorang diantara kamu mengatakan kepadanya: "Abdiku, hambaku ('abdi; amati)", tetapi hendaklah mengatakan: "Bujangku (fataya), gadisku (fatati) dan anakku (ghulami)"."

Kandungan tulisan ini:

1. Dilarang mengatakan: "Abdiku, hambaku" ('abdi; amati).
2. Dilarang bagi sahaya untuk menyebut: "Gusti Pangeranku" (Rabbi); dan dilarang untuk menyuruhnya dengan mengatakan: "Hidangkan makan untuk Gusti Pangeranmu (Rabbaka)".
3. Diajarkan kepada si tuan supaya mengatakan: "Bujangku (fataya), gadisku (fatati) atau anakku (ghulami)."
4. Dan diajarkan kepada pelayan untuk mengatakan: "Tuanku (Sayyidi; Maulaya)".
5. Maksud hal tersebut, yaitu: pengamalan tauhid dengan semurni-murninya sampai dalam hal ucapan.

Wallahu 'alam bish-showaab.

Minal Aidzin Wal Faidzin itu Salah!!! Masih saja banyak yang nulis seperti itu! Diingetin ndak percaya!!!

00:23 0
Minal Aidzin Wal Faidzin itu Salah!!! Masih saja banyak yang nulis seperti itu! Diingetin ndak percaya!!!
Minal Aidzin Wal Faidzin itu Salah!!! Masih saja banyak yang nulis seperti itu! Diingetin ndak percaya!!!
pixabay.com
Minal Aidzin Wal Faidzin itu Salah!!! Masih saja banyak yang nulis seperti itu! Diingetin ndak percaya!!! - Memang manusia tempatnya lupa dan salah. Diantara lupa dan salahnya yang berulang kali, tiap tahun dilakukan adalah ucapan mereka "MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN". Mungkin karena kurang gaul dengan orang-orang yang suka ngaji, cuma denger-denger saja, plus kalau ada tulisan bermanfaat tidak mau baca. Tahu gak, tahun 2016 masehi (apalagi sebelum masehi) menurut survey dalam peringkat baca, negeri kita Indonesia masuk rangking terbelakang gaessss. Mungkin mereka salah, buktinya masyarakat kita termasuk terbesar dalam pengguna internet. Otomatis mereka suka baca. Terutama genersi muda. Suka banget membaca. Baca status galau di medsos. Hehehe... Mirisss).

Kembali ke tema: tentang salah tulis. Tulisannya yang benar adalah: MINAL AIDIN WAL FAIZIN. Ingin pakai panjang pendek transliterasinya ya disesuaikan. Bisa MINAL 'AAIDIIN WAL FAAIZIIN". Atau dengan tranliterasi lainnya yang bisa mewakili juga boleh. Yang jelas bukan DZAL (ذال) tapi memakai DAL (دال) dan ZAI (زي). Sekali lagi BUKAN:  MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN !!! 

Tapi yang benar: MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN. Dalam tulisan Arabnya:

من العائدين والفائزين

Minal 'aidin: termasuk orang-orang yang kembali
Wal faizin: dan termasuk orang-orang yang mendapat kemenangan.

Semoga saja!

Jangan biarkan saudaramu berada dalam kesalahan terus menerus. Sebarkan! Biar anda dapat pahala jariyah, insyaaAllah.

Demikian, semoga bermanfaat.

Wallahu a'lam bisshowaab.

Friday, 23 June 2017

Sebarkan! Biar Banyak yang Bersyukur!!! Nyesek Banget, Begini Kondisi Keluarga Nabi Ketika Idul Fithri

06:57 0
Sebarkan! Biar Banyak yang Bersyukur!!! Nyesek Banget, Begini Kondisi Keluarga Nabi Ketika Idul Fithri
Nyesek Banget, Begini Kondisi Keluarga Nabi Ketika Idul Fithri


Nyesek Banget, Begini Kondisi Keluarga Nabi Ketika Idul Fithri - Pada saat malam Takbiran, Ali ibn Abi Thalib terlihat sibuk membagi-bagikan gandum dan kurma. Bersama istrinya, Sayyidah Fathimah az-Zahra, Ali menyiapkan tiga karung gandum dan dua karung kurma. Terihat, Sayyidina Ali memanggul gandum, sementara istrinya Fathimah menuntun Hasan dan Husein. Mereka sekeluarga mendatangi kaum fakir miskin untuk disantuni.


Esok harinya tiba salat ‘Idul Fitri. Mereka sekeluarga khusyuk mengikuti salat jama’ah dan mendengarkan khutbah. Selepas khutbah ‘Id selesai, keluarga Rasulullah Saw. itu pulang ke rumah dengan wajah berseri-seri.

Sahabat beliau, Ibnu Rafi’i bermaksud untuk mengucapkan selamat ‘Idul Fitri kepada keluarga putri Rasulullah Saw. Sampai di depan pintu rumah, alangkah tercengang Ibnu Rafi’i melihat apa yang dimakan oleh keluarga Rasulullah itu.

Sayyidina Ali, Sayyidatuna Fathimah, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein yang masih balita, dalam ‘Idul Fitri makanannya adalah gandum tanpa mentega, gandum basi yang baunya tercium oleh sahabat Nabi itu. Seketika Ibnu Rafi’i berucap istighfar, sambil mengusap-usap dadanya seolah ada yang nyeri di sana. Mata Ibnu Rafi’i berlinang butiran bening, perlahan butiran itu menetes di pipinya.

Kecamuk dalam dada Ibnu Rafi’i sangat kuat, setengah lari ia pun bergegas menghadap Rasulullah Saw. Tiba di depan Rasulullah, “Ya Rasulullah, ya Rasulullah, ya Rasulullah. Putra baginda, putri baginda dan cucu baginda,” ujar Ibnu Rafi’i. “Ada apa wahai sahabatku?” tanya Rasulullah.

“Tengoklah ke rumah putri baginda, ya Rasulullah. Tengoklah cucu baginda Hasan dan Husein.”

“Kenapa keluargaku?”

“Tengoklah sendiri oleh baginda, saya tidak kuasa mengatakan semuanya.”

Rasulullah Saw. pun bergegas menuju rumah Sayyidatuna Fathimah az-Zahra r.a. Tiba di teras rumah, tawa bahagia mengisi percakapan antara Sayyidina Ali, Sayyidatuna Fathimah dan kedua anaknya. Mata Rasulullah pun berlinang. Butiran mutiara bening menghiasi wajah Rasulullah Saw. nan suci.

Air mata Rasulullah berderai, melihat kebersahajaan putri beliau bersama keluarganya. Di hari yang Fitri, di saat semua orang berbahagia, di saat semua orang makan yang enak-enak. Keluarga Rasulullah Saw. penuh tawa bahagia dengan gandum yang baunya tercium tak sedap, dengan makanan yang sudah basi.

“Ya Allah, Allahumma Isyhad. Ya Allah saksikanlah, saksikanlah. Di hari ‘Idul Fitri keluargaku makanannya adalah gandum yang basi. Di hari ‘Idul Fitri keluargaku berbahagia dengan makanan yang basi. Mereka membela kaum papa, ya Allah. Mereka mencintai kaum fuqara dan masakin. Mereka relakan lidah dan perutnya mengecap makanan basi asalkan kaum fakir-miskin bisa memakan makanan yang lezat. Allahumma Isyhad, saksikanlah ya Allah, saksikanlah,” bibir Rasulullah berbisik lembut.

Sayyidatuna Fathimah tersadar kalau di luar pintu rumah, bapaknya sedang berdiri tegak. “Ya Abah, ada apa gerangan Abah menangis?” Rasulullah tak tahan mendengar pertanyaan itu. Setengah berlari ia memeluk putri kesayangannya sambil berujar, “Surga untukmu, Nak. Surga untukmu.”

Demikianlah, menurut Ibnu Rafi’i, keluarga Rasulullah Saw. pada hari ‘Idul Fitri senantiasa menyantap makanan yang basi berbau apek. Ibnu Rafi’i berkata, “Aku diperintahkan oleh Rasulullah Saw. agar tidak menceritakan tradisi keluarganya setiap ‘Idul Fitri. Aku pun simpan kisah itu dalam hatiku. Namun, selepas Rasulullah Saw. wafat, aku takut dituduh menyembunyikan hadits, maka aku ceritkan agar jadi pelajaran bagi segenap kaum Muslimin.” (Musnad Imam Ahmad, jilid 2, hlm. 232).

Ya Rasulullah, begitu mulianya hati baginda bersama keluarga. Siapa gerangan yang tak malu? Siapa orangnya yang tak kelu? Kami di hari nan fitri, makanan kami lezat-lezat, makanan kami enak-enak. Harus kami apakan diri ini, ya Rasul? Kami malu.

Ya Rasulllah, teteskan kemuliaan jiwa baginda kepada kami, teteskan walau hanya setitik, agar jiwa kami semua tiada tandus dari kasih. Ya Rasulallah, berikan kedermawanan jiwa baginda dan keluarga kepada kami dan keluarga kami. Lapangkan dada kami untuk tidak terpukau oleh kemilau dunia sementara kaum fakir-miskin menderita. Luaskan hati kami untuk bisa mencintai kaum papa sebagaimana baginda telah memberikan teladan yang begitu sangat mulia. Allâhumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidinâ Muhammad wa ‘ala Ali Sayyidina Muhammad. [Oleh: Fauz Noor (Kyai Bedus) dengan judul "KELUARGA NABI DI HARI FITRI"]

Dishare! Biar Banyak yang Tahu!!! Ucapan Idul Fithri yang Benar

01:20 0
Dishare! Biar Banyak yang Tahu!!! Ucapan Idul Fithri yang Benar
Ucapan Idul Fithri yang Benar


Ucapan Idul Fithri yang Benar - Diantara aktifitas yang dilakukan orang-orang Islam di Indonesia ketika merayakan hari raya Idul Fithri adalah saling berkunjung ke tempat orang tua, saudara, teman, dan yang lainnya. Dan kalimat yang sering diucapkan ketika bertemu antara yang satu dengan yang lainnya adalah ucapan "Selamat hari raya", Sugeng riyadi (kalau orang jawa ini), dan lain-lainnya sesuai bahasa daerah mereka masing-masing. 
Disamping ucapan-ucapan tersebut juga masyhur dikalangan mereka ucapan MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN, yang sering diiringi dengan ucapan "Mohon maaf lahir dan batin". Jadi seolah-olah ucapan Minal 'Aidin wal Faizin dipahami bermakna " Mohon maaf lahir batin". Padahal artinya bukan itu. Lebih parah lagi mengucapkannya kliru Minal 'Aidin wal Faizin sering diucapkan pakai huruf DZAL menjadi MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN. Dan parahnya lagi, tulisan model itu sering dipakai pada kartu-kartu ucapan, pada status-status atau pesan-pesan berantai di media-media sosial. Padahal yang benar BUKAN "MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN" TAPI.... Pakai DAL dan ZAY "MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN" atau kalau ingin menyesuaikan panjang pendeknya bisa ditulis 'MINAL 'AAIDIIN WAL FAAIZIIN" sebagaimana dalam tulisan Arabnya:


 من العائدين والفائزين



Terus bagaimana sebenarnya penjelasan dari ucapan-ucapan yang biasa diucapkan ketika hari raya idul fithri tersebut? Apakah Nabi dan para sahabat sering mengucapkan MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN jika bertemu diantara mereka? JAWABANNYA: TIDAK ! 

Bahkan dikalangan orang-orang Arab pun tidak dikenal ucapan model itu. Mungkin hanya dikalangan orang-orang Islam Indonesia saja ucapan itu dikenal dan masyhur. Bahkan 'Idul Fithri yang artinya Hari Raya Fithr (Hari raya berbuka) sering dipaksa-paksa berarti "kembali fithrah/suci" dengan mencari-cari dukungan dari pengertian 'Id (kembali) dan Fithrah (suci), yang notabenenya orang Arab tidak biasa memahami dengan yang demikian tersebut, karena 'id pada susunan 'Idul Fithri artinya adalah Hari Raya. 

Terus bagaimana sebenarnya maksud MINAL AIDIN WAL FAIZIN tersebut?



Sebenarnya itu adalah ucapan yang dipotong, dipenggal dari do'a JA'ALANALLAHU WA IYYAKUM MINAL 'ADIN WAL FAIZIN 



(جعلنا الله واياكم من العائدين والفائزين)


Artinya: "Semoga Allah menjadikan kami dan anda semua termasuk orang-orang yang kembali suci (dengan diampuni dosa-dosa kita oleh Allah 'azza wa jalla) dan semoga Allah menjadikan kami dan anda semua termasuk orang-orang yang mendapat kemenangan".

Demikian penjelasan ringkas dari MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN. Terus apa yang seharusnya kita ucapkan bila bertemu dengan saudara atau sesama orang islam ketika hari raya idul fithri?


Ucapan yang lebih baik dan dicontohkan langsung oleh para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , yaitu ucapan do'a:



تقبل الله منا ومنكم




"TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM"


(Semoga Allah menerima amal kami dan amal anda sekalian).


Jadi lebih baik, ucapan kita ketika bertemu saudara atau teman kita ketika hari raya 'Idul Fithri baik bertemu langsung maupun ucapan lewat SMS /BBM / WA, dan lain-lain kita ucapkan:




" Taqobbalallaahu minnaa wa minkum ", terus silahkan kalau mau anda tambah-tambahi dengan doa minal adin wal faizin dan do'a-do'a atau kata bermanfaat lainnya, atau ucapan mohon maaf dan sebagainya. Tapi ingat, permintaan maaf tidak boleh dikhususkan ketika hari raya. Ucapan maaf harus disegerakan bila kita bersalah, agar keridhaan atau kerelaan orang yang kita dhalimi segera terlimpah kepada kita.



Barakallahu Fiikum, Semoga bermanfaat...


Allahu a'lam bish-shawaab.

Thursday, 22 June 2017

Laki-laki Bersahaja yang Berpenghasilan 15 Milyar Perhari

21:18 0
Laki-laki Bersahaja yang Berpenghasilan 15 Milyar Perhari
Laki-laki Bersahaja yang Berpenghasilan 15 Milyar Perhari

Laki-laki Bersahaja yang Berpenghasilan 15 Milyar Perhari - BERPENGHASILAN 15 MILYAR PER HARI  -- Siapakah Dia ?

Diantara mereka tidak tampak oleh pandangan manusia. Tersembunyi bak mutiara putih di dasar lautan.

Bismillah...

Seperti biasa setiap malam rabu ada kajian kitab Umdatul Ahkam bersama Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin al Abbad di salah satu masjid yang terletak distrik Urwah, Madinah Al-Munawwarah.
Seusai kajian kami diundang makan malam oleh salah seorang jamaah yang juga ikut hadir di majlis Syaikh Abdurrazaq malam itu. Kami pun beranjak pergi ke kediaman beliau yang tak begitu jauh dari masjid.

Sesampainya kami di rumah beliau, kami disambut ramah oleh tuan rumah. Beliau dan putra-putra beliau berdiri di dekat pintu masuk untuk menyambut para tamu undangan dengan penuh keakraban.

Rumah itu cukup mewah, semua lantai tertutup permadani yang empuk. Kursi-kursi tamu berjejer rapi dan tampak istimewa, seperti di aula seminar.
Wangi bukhur (wewangian ruangan khas Arab) yang semerbak menambah kenyamanan di ruangan itu.

Tak lama kemudian datanglah putra-putra beliau membawa teko berisi gahwah (kopi khas Arab ) dan cangkir2 kecil untuk disuguhkan kepada para tamu. Kurma sukkari kesukaanku juga tidak absen dari menu malam itu.

Anak beliau yang satunya membagikan setumpuk kitab untuk dihadiahkan kepada para tamu.

Padahal bila mengupah pembantu sebenarnya beliau mampu. Namun sang ayah benar-benar ingin menanamkan kepada putera2 beliau sikap tawadhu' dan bagaimana memuliakan tamu.

Saya melihat beliau duduk di samping pintu masuk di atas kursi lipat kecil sederhana yang biasa dipakai kakek2 sepuh yang tak mampu lagi berdiri untuk sholat.

Baju beliau juga sederhana, sekilas memang nampak tak begitu istimewa. Namun ada satu hal yang membuatku kagum dengan Sang Ayah ini (semoga Allah memberi keberkahan kepada beliau), yaitu kesederhanaan serta ketawadhuan beliau yang luar biasa...!!

Tahukah Anda siapa beliau.. ?

Beliau adalah Syaikh Yusuf Abu Muhammad yang pernah diceritakan oleh Ust Musa At-Tamimi beberapa minggu lalu di status fb beliau. Seorang miliyader Saudi, sang pemilik pabrik emas dan perak, hotel-hotel bintang lima di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi serta pabrik Roti di kota Riyadh.

Lelaki bersahaja yang telah medermakan banyak hartanya untuk membangun masjid-masjid serta madrasah-madrasah di Arab Saudi maupun di luar Arab Saudi.

Taukah Anda berapa penghasilan beliau. ?!

LIMA BELAS (15 ) milyar per hari...
Ingat perhari!

Tak hanya sekali dua kali beliau mengundang para thullab ilmi serta kaum muslimin pada umumnya untuk makan malam di rumah beliau,, akan tetapi SETIAP MALAM.

Khusus untuk malam Rabu dan Jumat beliau menyembelih beberapa unta dan beberapa ekor kambing untuk di hidangkan kepada para tamu, adapun untuk malam biasanya beliau hanya menyembelih beberapa ekor kambing saja. Hal ini semata-semata utk memuliakan tamu...

Coba bayangkan berapa biaya yang beliau keluarkan utk hidangan se istimewa itu... Apalagi setiap malam..!

Tak cukup berhenti disitu kekaguman saya... Kekayaan yang beliau miliki ternyata tidak membuat beliau lalai dari menuntut ilmu..

Tak jarang setiap habis maghrib beliau terlihat duduk bersimpuh, menghinakan diri dengan kitab Shahih Muslim di pangkuan beliau untuk mendengarkan ilmu dari Ulama hadits Madinah; Syaikh Abdulmuhsin Al-Abbad hafidzohullah di masjid Nabawi.

Semoga Allah memberkahi beliau sekeluarga.. Saya juga mendapatkan kabar dari kawan-kawan di Madinah, bahwa beliau merupakan murid daripada Syaikh Abdulaziz bin Baz Rahimahullah.
....

Saya berharap, semoga kisah sederhana ini menjadi inspirasi utk kita semua..

Setidaknya bila belum mampu berbuat seperti beliau, setelah membaca kisah ini lahirlah tekad dan niat yang kuat untuk bisa berbuat seperti beliau.. Sehingga mendapat pahala yang sama karena niat.

( enak bangett...cuma modal tekad kuat dan niat yang jujur, kita mendapatkan pahala seperti beliau.. Siapa yang nggak mau coba..?)

Rasulullah pernah bersabda:

إنَّمَا الدُّنْيَا لأرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَعِلمًا، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ،
وَيَعْلَمُ للهِ فِيهِ حَقًّا، فَهذا بأفضَلِ المَنَازِلِ. وَعَبْدٍ رَزَقهُ اللهُ عِلْمًا، وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ، يَقُولُ: لَوْ أنَّ لِي مَالًا لَعَمِلتُ بِعَمَلِ فُلانٍ، فَهُوَ بنيَّتِهِ، فأجْرُهُمَا سَوَاءٌ. وَعَبْدٍ رَزَقَهُ الله مَالًا، وَلَمَ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخبطُ في مَالِهِ بغَيرِ عِلْمٍ، لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلاَ يَعْلَمُ للهِ فِيهِ حَقًّا، فَهذَا بأَخْبَثِ المَنَازِلِ. وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلاَ عِلْمًا، فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بعَمَلِ فُلاَنٍ، فَهُوَ بنِيَّتِهِ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

Sesungguhnya dunia ini untuk empat orang:

1. Seorang hamba yang Allah anugerahi harta dan ilmu lalu ia pun mentaati Rabbnya pada (*penggunaan) harta dan ilmunya, menyambung silaturahim, dan mengetahui bahwa pada ilmu dan hartanya tersebut ada hak Allah, maka orang ini berada pada kedudukan yang paling utama.

2. Kemudian seorang hamba yang Allah anugerahi ilmu akan tetapi tidak Allah anugerahi harta, maka ia pun mempunyai niat yang benar, ia berkata,

“Seandainya aku memiliki harta sungguh aku akan beramal sebagaimana amalan fulan",
Maka ia dengan niatnya pahala keduanya sama.

3. Dan seorang hamba yang Allah anugerahi harta akan tetapi tidak Allah anugerahi ilmu maka ia pun ngawur menggunakan hartanya tanpa ilmu. Ia tidak mentaati Rabbnya pada hartanya, tidak pula menyambung silaturahim, tidak mengetahui bahwasanya pada hartanya itu ada hak Allah.

Maka orang ini berada pada tingakatan paling buruk.

4. Lalu seorang hamba yang tidak Allah anugerahi harta maupun ilmu maka iapun berkata,

“Seandainya aku memiliki harta tentu aku akan menggunakan hartaku sebagaimana perbuatan si fulan.." maka ia dengan niatnya dosa keduanya sama.” (HR At-Thirmidzi no 2325)

====

Memori : Madinah, 23 Rajab 1435
Ditulis oleh : Ahmad Anshori@actelgharantaly

Hukum Menikahi Perempuan Yang Dulunya Pernah Berzina

08:41 0
Hukum Menikahi Perempuan Yang Dulunya Pernah Berzina
Hukum Menikahi Perempuan 
Yang Dulunya Pernah Berzina

Hukum Menikahi Perempuan Yang Dulunya Pernah Berzina - Assalamu 'alaikum wr. wb. Saya ingin bertanya masalah yang amat pribadi, yaitu status pernikahan saya dengan istri saya. Sebelum menikah istri saya sempat gonta-ganti pacar berkali-kali dan terakhir hatinya berlabuh di diri saya. Lalu kami pun menikah dan menjalani hidup bahagia. Terus terang saya sangat mencintai istri saya apa adanya. Di dalam hati saya bisa menerima keadaan istri apa adanya. Karena dia adalah dambaan hati saya.

Namun ada hal yang mengganjal di hati saya tekait dengan masa lalu istri saya. Dia pernah berzina dengan pacar sebelumnya. Terus terang saya kecewa karena pengakuannya baru dilakukan sekarang. Tetapi di balik rasa kecewa, saya tetap tidak bisa melepaskan istri saya. Karena saya terlalu mencintainya.

Tetapi ada seorang ustadz yang bersikeras bahwa status pernikahan kami itu haram, karena status istrinya adalah seorang wanita pezina. Menurut beliau, Al-Quran telah menegaskan bahwa haram hukumnya bagi seorang laki-laki menikahi wanita yang berzina. (QS. An-Nuur : 3)

Lalu saya jadi tidak enak makan, tiap hari kepikiran apakah pernikahan kami itu sah, pak ustadz? Mengingat istri saya sudah tidak suci lagi ketika menikah dengan saya. Saya sih ikhlas dan bisa menerima keadaan istri saya apa adanya. 

Mohon penjelasan dari pak Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA dan terima kasih sebelumnya.

Wassalam

JAWABAN:

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Pertanyaan macam ini memang seringkali ditanyakan banyak orang. Dalam kenyataannya memang berkembang dua pemahaman yang saling bertolak belakang. Ada sementara kalangan yang mengharamkan pernikahan bagi pelaku zina. Dan kebalikannya, ada kalangan yang membolehkan orang yang berzina untuk menikah. 

Dari dua pemahaman yang saling berbeda seperti inilah yang kadang bikin masyarakat awam kebingungan. Oleh karena itu kita coba dudukkan masalahnya, biar menjadi jelas dan mudah dipahami, serta demi menambah wawasan keilmuan kita agar pemahaman kita tidak menjadi sepotong-sepotong. 

Setidaknya ada tiga pendapat yang berbeda dalam masalah ini, antara yang membolehkan, mengharamkan dan memakruhkan.Lebih lanjut perbedaan pendapat itu adalah sbb :

1. Pendapat Yang Mengharamkan

Pendapat pertama adalah pendapat yang mengharamkan total untuk menikahi wanita yang pernah berzina. Paling tidak tercatat ada Aisyah, Ali bin Abi Thalib, Al-Barra` dan Ibnu Mas`ud ridhwanullahi 'alaihim yang diriwayatkan berpendapat demiian. 

Para pendukung pendapat ini mengatakan bahwa seorang laki-laki yang menzinai wanita maka dia diharamkan untuk menikahinya. Begitu juga seorang wanita yang pernah berzina dengan laki-laki lain, maka dia diharamkan untuk dinikahi oleh laki-laki yang baik (bukan pezina).

Bahkan Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa bila seorang istri berzina, maka wajiblah pasangan itu diceraikan. Begitu juga bila yang berzina adalah pihak suami. 

Dalil yang digunakan adalah teks ayat berikut ini :

الزَّانِي لا يَنكِحُ إِلاَّ زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لاَ يَنكِحُهَا إِلاّ زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mu`min. (QS. An-Nur : 3)

Selain itu mereka juga berdalil dengan hadits dayyuts, yaitu orang yang tidak punya rasa cemburu bila istrinya serong dan tetap menjadikannya sebagai istri.

ثلاثة لا ينظر الله عز وجل إليهم يوم القيامة: العاق لوالديه، والمترجلة، والديوث. رواه أحمد والنسائي

 Tiga golongan yang Allah tidak akan melihat mereka di hari kiamat : anak durhaka kepada kedua orangtua, wanita yang menyerupai lelaki dan lelaki DAYUS.(HR. An-Nasai)

ثلاثةٌ قد حَرّمَ اللهُ - تَبَارَكَ وَتَعَالَى - عليهم الجنةَ : مُدْمِنُ الخمر ، والعاقّ ، والدّيّوثُ الذي يُقِرُّ في أَهْلِهِ الخُبْثَ 

Tiga yang telah Allah haramkan baginya Syurga : orang yang ketagih arak, si penderhaka kepada ibu bapa dan Si Dayus yang membiarkan maksiat dilakukan oleh ahli keluarganya.(HR. An-Nasai) 

Kalau pakai pendapat ini, pernikahan Anda memang haram, tetapi hukumnya masih tetap sah. Artinya, meski salah dan berdosa, ikatan resmi suami istri yang telah Anda bangun tetap masih utuh.

2. Pendapat Yang Membolehkan : Jumhur ulama
Namun kalau kita merujuk kepada pendapat dari jumhur ulama yaitu hampir seluruh ulama ahli syariah yang muktamad dan mazhab-mazhab fiqih yang besar, umumnya mereka sepakat membolehkan orang yang berzina untuk menikah dan dinikahi. 

Dalam hal ini para ulama muktabar itu tidak memandang perbuatan zina sebagai penghalang dari kebolehan menikah. Menurut mereka, antara zina dan pernikahan harus dipisahkan dan hukumnya tidak boleh dicampura-aduk. Zinanya sendiri memang perbuatan haram dan terlarang, tidak ada satu pun ulama yang berbeda dalam hal ini. 

Bahkan sudah menjadi ijma' seluruh ulama bahwa pelaku zina terkena hukum hudud yang berat yang sudah ditetapkan langsung lewat wahyu Al-Quran dan juga As-Sunnah.

a. Al-Quran : Cambuk 100 kali

Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa hukuman pezina adalah dicambuk 100 kali bagi pelakunya. Maksudnya apabila pelakunya seorang yang ghairu muhshan. 

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلاَ تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ

Wanita dan laki-laki yang berzina maka jilidlah masing-masing mereka 100 kali. Dan janganlah belas kasihan kepada mereka mencegah kamu dari menjalankan agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang beriman. (QS. An-Nuur : 2)

b. Hadits : Hukum Mati

Sementara itu di dalam hadits disebutkan bahwa apabila pelaku zina seorang yang muhshan, hukumannya lebih berat lagi, yaitu dirajam hingga mati. 

لاَ يَحِلُّ دَمٍ امٍرَئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنّيِ رَسُولُ اللهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ: النَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالثَّيِّبُ الزَّانِي وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ المُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Aku (Muhammad) utusan Allah, kecuali dengan salah satu dari tiga sebab; nyawa dengan nyawa (qishash), tsayyib (orang sudah menikah) yang berzina, dan orang yang meninggalkan agamanya memisahkan diri dari jamaah (umat Islam)". (HR. Bukhari)

Intinya zina itu haram dan hukumannya sangat berat. Namun para ulama sepakat bahwa lepas dari dosanya, zina itu sendiri tidak menyebabkan keharaman dalam pernikahan. Maksudnya, antara zina dan menikah tidak saling berhubungan, masing-masing berdiri sendiri-sendiri.

Memang benar ayat ketiga dari surat An-Nuur di atas secara lahiriyahnya terkesan melarang menikahi orang yang berzina, baik dia laki-laki ataupun perempuan. Tetapi para ulama dengan tegas menyebutkan bahwa larangan itu tidak ada kaitannya dengan hukum halalnya pernikahan mereka. 

Mereka mengatakan bahwa yang dipahami dari ayat tersebut bukanlah mengharamkan untuk menikahi wanita yang pernah berzina. Bahkan mereka membolehkan menikahi wanita yang pezina sekalipun. Lalu bagaimana dengan lafaz ayat yang zahirnya mengharamkan itu ?

Para fuqaha memiliki tiga alasan dalam hal ini.

a. Hurrima Berarti Makruh

Dalam hal ini mereka mengatakan bahwa lafaz hurrima (حُرِّمَ) atau diharamkan di dalam ayat itu bukanlah pengharaman namun tanzih (dibenci).

b. Khusus Kasus Mirtsad

Selain itu mereka beralasan bahwa kalaulah memang diharamkan, maka lebih kepada kasus yang khusus saat ayat itu diturunkan, yaitu seorang yang bernama Mirtsad Al-Ghanawi yang menikahi wanita pezina.

c. Ayat Mansukh

Al-Imam Asy-Syafi'i (w. 150 H) di dalam kitabnya Al-Umm menuliskan sebagai berikut :

اختلف أهل التفسير في هذه الآية اختلافا متباينا ، والذي يشبهه عندنا - والله أعلم - ما قال ابن المسيب : هي منسوخة ، نسختها : ( وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ) النور/32. فهي من أيامى المسلمين . فهذا كما قال ابن المسيب إن شاء الله ، وعليه دلائل من الكتاب والسنة

Para ahli tafsir berbeda pendapat sangat jauh tentang ayat ini . Dan yang yang merupakan pilihan kami -wallahua'lam- apa yang dikatakan oleh Said Ibnul Musayyib : bahwa ayat itu sudah dihapus (mansukh). [1]

Adapun ayat yang menasakhnya adalah sebagai berikut ini :

وَأَنكِحُوا الأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nur : 32)

Pendapat ini juga merupakan pendapat Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhuma dan fuqaha umumnya. Mereka membolehkan seseorang untuk menikahi wanita pezina. Dan bahwa seseorang pernah berzina tidaklah mengharamkan dirinya dari menikah secara syah.

Pendapat mereka ini dikuatkan dengan hadits berikut :

Dari Aisyah radhiyallahuanha berkata,`Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda,`Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal`. (HR. Tabarany dan Daruquthuny).

Juga dengan hadits berikut ini :

جَاءَ رَجُلٌ إلَى النَّبِيِّ  فَقَالَ إِنَّ امْرَأَتيِ لاَ تَمْنَعُ يَدَ لاَمِسٍ. قَالَ: غَرِّبْهَا. قَالَ أَخَافُ أَنْ تَتَبَّعَهَا نَفْسِي. قَالَ فَاسْتَمْتِعْ بِهَا

Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata,"Istriku suka berzina". Beliau SAW menjawab,"Ceraikan dia". Orang itu menjawab,"Tapi Saya berat melepasnya". Beliau SAW bersabda,"Kalau begitu nikmatilah istrimu itu. (HR. Abu Daud dan An-Nasai)

لاَ تُوطَأ امْرَأة حَتىَّ تَضَع

Nabi SAW bersabda,"Janganlah disetubuhi (dikawini) seorang wanita hamil (karena zina) hingga melahirkan. (HR. Abu Daud).

لاَ يَحِلُّ لاِمْرِئٍ مُسْلِمٍ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ أَنْ يَسْقِيَ مَاءَهُ زَرْعَ غَيْرِهِ

Nabi SAW bersabda,"Tidak halal bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan airnya pada tanaman orang lain. (HR. Abu Daud dan Tirmizy).

Lebih detail tentang halalnya menikahi wanita yang pernah melakukan zina sebelumnya, simaklah pendapat para ulama berikut ini :

a. Pendapat Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah menyebutkan bahwa bila yang menikahi wanita hamil itu adalah laki-laki yang menghamilinya, hukumnya boleh.

Sedangkan kalau yang menikahinya itu bukan laki-laki yang menghamilinya, maka laki-laki itu tidak boleh menggaulinya hingga melahirkan.

b. Pendapat Malik dan Ahmad bin Hanbal

Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan laki-laki yang tidak menghamili tidak boleh mengawini wanita yang hamil, kecuali setelah wanita hamil itu melahirkan dan telah habis masa 'iddahnya.

Imam Ahmad menambahkan satu syarat lagi, yaitu wanita tersebut harus sudah tobat dari dosa zinanya. Jika belum bertobat dari dosa zina, maka dia masih boleh menikah dengan siapa pun. [2]

c. Pendapat Asy-Syafi'i

Adapun Al-Imam Asy-syafi'i, sebagaimana tercantum di dalam kitab Al-Muhazzab karya Abu Ishaq Asy-Syairazi juz II halaman 43, bahwa baik laki-laki yang menghamili atau pun yang tidak menghamili, dibolehkan menikahinya.[3]

d. Undang-undang Perkawinan RI

Dalam Kompilasi Hukum Islam dengan Instruksi Presiden RI no. 1 tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991, yang pelaksanaannya diatur sesuai dengan keputusan Menteri Agama RI no. 154 tahun 1991 telah disebutkan hal-hal berikut ini : [4]

Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya.
Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dpat dilangsungkan tanpa menunggu lebih duhulu kelahiran anaknya.
Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.
Kalau menggunakan pendapat ini, Anda tidak berdosa tatkala menikahi istri Anda, meski dia pernah berzina. Dan tentu saja hubungan suami istri Anda sama sekali tidak perlu diputuskan, karena Anda berdua adalah pasangan yang sah menurut agama.

3. Pendapat Pertengahan : Hanbali
Sedangkan pendapat yang pertengahan adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau mengharamkan seseorang menikah dengan wanita yang masih suka berzina dan belum bertaubat. Kalaupun mereka menikah, maka nikahnya tidak syah.

Namun bila wanita itu sudah berhenti dari dosanya dan bertaubat, maka tidak ada larangan untuk menikahinya. Dan bila mereka menikah, maka nikahnya syah secara syar`i.

Nampaknya pendapat ini agak menengah dan sesuai dengan asas prikemanusiaan. Karena seseorang yang sudah bertaubat berhak untuk bisa hidup normal dan mendapatkan pasangan yang baik.

Dan kalau pendapat yang ketiga ini pun pernikahan Anda sudah dianggap sah dan tidak perlu nikah ulang. 

Kesimpulan

Mau pakai pendapat yang mana pun, tidak ada satu pun yang menyatakan pernikahan Anda tidak sah. Paling jeleknya cuma pendapat pertama, yaitu Anda dianggap berdosa ketika menikah. Tetapi tidak ada pengaruhnya pada status sahnya pernikahan.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Ahmad Sarwat, Lc., MA/rumahfiqih.com

Ustadz, Adakah Shalat Kafarat di Jum’at Terakhir Ramadhan?

08:39 0
Ustadz, Adakah Shalat Kafarat di Jum’at Terakhir Ramadhan?
Ustadz, Adakah Shalat Kafarat di Jum’at Terakhir Ramadhan?

Ustadz, Adakah Shalat Kafarat di Jum’at Terakhir Ramadhan - Ustadz, saya dapat pesan lewat Whatsapp, BBM, Facbook tentang shalat kafarat. Bunyi pesannya:

Bersabda Rasulullah SAW : ”Barangsiapa selama hidupnya pernah meninggalkan sholat tetapi tak dapat menghitung jumlahnya, maka sholatlah di hari Jum’at terakhir bulan Ramadhan sebanyak 4 rakaat dengan 1x tasyahud (tasyahud akhir saja), tiap rakaat membaca 1 kali Fatihah kemudian surat Al-Qadar 15 X dan surat Al-Kautsar 15 X .

Niatnya: ” Nawaitu Usholli arba’a raka’atin kafaratan limaa faatanii minash-shalati lillaahi ta’alaa”

Sayidina Abu Bakar ra. berkata ” Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sholat tersebut sebagai kafaroh (pengganti) sholat 400 tahun dan menurut Sayidina Ali ra. sholat tersebut sebagai kafaroh 1000 tahun.

Maka shohabat bertanya :” umur manusia itu hanya 60 tahun atau 100 tahun, lalu untuk siapa kelebihannya?”.

Rasulullah SAW menjawab: ” untuk kedua orangtuanya, untuk istrinya, untuk anaknya dan untuk sanak familinya serta orang-orang yang didekatnya/ lingkungannya”.

Pertanyaan saya: Apakah ini benar adanya? Mohon pencerahan yaa Ustadz!

Jawaban:

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Shalat adalah kewajiban yang dibatasi waktunya
Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat merupakan kewajiban bagi orang beriman yang telah ditetapkan waktunya.” (QS. An-Nisa: 103).

Dalam shalat wajib, ada batas awal dan ada batas akhir. Orang yang mengerjakan shalat setelah batas akhir statusnya batal, sebagaimana orang yang mengerjakan shalat sebelum masuk waktu, juga batal.

Sehingga hukum asal shalat wajib harus dikerjakan pada waktu yang telah ditentukan. Dan tidak boleh keluar dari hukum asal ini, kecuali karena ada sebab yang diizinkan oleh syariat, seperti alasan bolehnya menjamak shalat.

Alasan lain yang membolehkan seseorang shalat di luar waktu adalah ketika dia memiliki udzur di luar kesengajaannya. Seperti karena ketiduran atau kelupaan.
Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً، أَوْ نَامَ عَنْهَا، فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barang siapa yang kelupaan shalat atau tertidur sehingga terlewat waktu shalat maka penebusnya adalah dia segera shalat ketika ia ingat.” (HR. Ahmad 11972 dan Muslim 1600).

Dan itulah satu-satunya kaffarah yang diizinkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia harus segera shalat ketika ingat atau ketika bangun. Selain cara itu, tidak ada kaffarah baginya.

Dalam riwayat lain, juga dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا ، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ

“Siapa yang lupa shalat, maka dia harus shalat ketika ingat. Tidak ada kaffarah untuk menebusnya selain itu.” (HR. Bukhari 597 & Muslim 1598)

Kita bisa simak, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan:

لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ

“Tidak ada kaffarah untuk menebusnya selain itu.”

Artinya, tidak ada model kafarah lainnya. Sehingga kita bisa meyakini bahwa riwayat di atas 100% dusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dusta atas nama Abu Bakr dan Ali radhiyallahu ‘anhu.

Disebutkan dalam hadis yang lain bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan suatu perjalanan bersama para shahabat. Di malam harinya, mereka singgah di sebuah tempat untuk beristirahat. Namun mereka kesiangan dan yang pertama bangun adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sinar matahari.

Kemudian, beliau berwudhu dan beliau memerintahkan agar azan dikumandangkan. Lalu, beliau melaksanakan shalat qabliyah subuh, kemudian beliau perintahkan agar seseorang beriqamah, dan beliau melaksanakan shalat subuh berjemaah. Para sahabatpun saling berbisik, ‘Apa penebus untuk kesalahan yang kita lakukan karena telat shalat?’ Mendengar komentar mereka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَمَا إِنَّهُ لَيْسَ فِيَّ النَّوْمِ تَفْرِيطٌ، إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلَاةَ حَتَّى يَجِيءَ وَقْتُ الصَّلَاةَ الْأُخْرَى، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَلْيُصَلِّهَا حِينَ يَنْتَبِهُ لَهَا

“Sesungguhnya ketiduran bukan termasuk menyia-nyiakan shalat. Yang disebut menyia-nyiakan shalat adalah mereka yang menunda shalat, hingga masuk waktu shalat berikutnya. Siapa yang ketiduran hingga telat shalat maka hendaknya dia laksanakan ketika bangun…” (HR. Muslim 1594)

Jika Meninggalkan dengan Sengaja, tidak ada Kaffarahnya

Konsekuensi dari keterangan di atas, orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, tidak ada kaffarah baginya. Karena hakekatnya dia shalat di luar waktu. Sementara dia tidak memiliki udzur, karena dia lakukan secara sengaja.

Lalu bagaimana cara menebus kesalahan karena meninggalkan shalat dengan sengaja?

Cara menebusnya adalah dengan memperbanyak shalat sunah. Karena shalat sunah bisa menambal kekurangan dari shalat wajib yang dilakukan hamba ketika di hari hisab.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita proses hisab amal hamba:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ

Amal manusia pertama yang akan dihisab kelak di hari kiamat adalah shalat. Allah bertanya kepada para Malaikatnya – meskipun Dia paling tahu – “Perhatikan shalat hamba-Ku, apakah dia mengerjakannya dengan sempurna ataukah dia menguranginya?” Jika shalatnya sempurna, dicatat sempurna, dan jika ada yang kurang, Allah berfirman, “Perhatikan, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunah?.” jika dia punya  shalat sunah, Allah perintahkan, “Sempurnakan catatan shalat wajib hamba-Ku dengan shalat sunahnya.” (HR. Nasai 465, Abu Daud 864, Turmudzi 415, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Berdasarkan hadis ini, para ulama menganjurkan, bagi siapa saja yang meninggalkan shalat wajib, agar segera bertaubat dan perbanyak melakukan shalat sunah. Dengan harapan, shalat sunah yang dia kerjakan bisa menjadi penebus kesalahannya.

Syaikhul Islam mengatakan,

وتارك الصلاة عمدا لا يشرع له قضاؤها ، ولا تصح منه ، بل يكثر من التطوع ، وهو قول طائفة من السلف

“Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, tidak disyariatkan meng-qadhanya. Dan jika dilakukan, shalat qadhanya tidak sah. Namun yang dia lakukan adalah memperbanyak shalat sunah. Ini meruapakan pendapat sebagian ulama masa silam.” (Al-ikhtiyarot, hlm. 34).

Keterangan lain disampaikan Ibnu Hazm:

من تعمد ترك الصلاة حتى خرج وقتها فهذا لا يقدر على قضائها أبداً، فليكثر من فعل الخير وصلاة التطوع؛ ليُثَقِّل ميزانه يوم القيامة؛ وليَتُبْ وليستغفر الله عز وجل

“Siapa yang sengaja meninggalkan shalat sampai keluar waktunya, maka selama dia tidak bisa mengqadha’-nya. Hendaknya dia memperbanyak amal soleh dan shalat sunah, agar memperberat timbangannya keelah di hari kiamat. Dia harus bertaubat dan banyak istighfar.” (al-Muhalla, 2/279).

Bahaya Menyebarkan Berita Dusta atas Nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Seiring dengan semaraknya sarana informasi, manusia begitu mudah menyebarkan apapun yanng dia dengar. Termasuk hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita sangat yakin, maksud mereka baik, memotivasi masyarakat untuk beramal. Namun jangan sampai ini menjadi alasan untuk melakukan menyebarkan kedustaan atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Mughirah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atas namaku, tidak seperti berdusta atas nama orang lain. Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaknya dia siapkan tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari 1291 & Muslim 5)

Demikian pula ketika kita mendapat berita atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diragukan keabsahannya, jangan disebarkan. Karena itu terhitung berdusta. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَوَى عَنِّى حَدِيثًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ

“Siapa yang meriwayatkan dariku suatu hadits yang ia menduga bahwa itu dusta, maka dia adalah salah seorang dari dua pendusta (karena meriwayatkannya).”

(HR. Muslim dalam muqoddimah kitab shahihnya pada Bab “Wajibnya meriwayatkan dari orang yang tsiqoh -terpercaya-, juga Ibnu Majah 39. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Wa Allahu a’lam. (Ustadz Ammi Nur Baits/Konsultasisyariah.com)